Rena dan Joseph, dua orang manusia yang susah untuk dipisahkan. Perbedaan umur yang lumayan jauh, perbedaan agama, perbedaan bahasa serta perbedaan kebudayaan tak mampu memisahkan mereka. Mungkin hanya maut yang dapat memisahkan mereka.
Rena yang beragama Kristen pertama kali bertemu Joseph di sebuah taman dekat gereja, tempat dia dan keluarganya beribadah setiap hari Sabtu dan Minggu. Saat itu, Rena baru saja pulang dari gereja. Ia memutuskan untuk singgah sejenak di taman asri di dekat gereja. Kira - kira butuh waktu 20 menit untuk sampai di taman itu. Rena sedang asyik menghirup udara musim dingin saat seseorang secara tiba - tiba menghampirinya.
Joseph baru saja pulang dari masjid. 2 tahun sekali, Joseph pergi ke Australia untuk mengenal lebih jauh kampung halaman mamanya. Siang sehabis sholat dzuhur, Joseph rasanya ingin menikmati udara musim dingin dengan lebih tenang tanpa terganggu hiruk pikuk kendaraan. Ia pun berjalan ke belakang masjid, tempat yang ia tuju adalah taman asri di belakang masjid. Tak seperti biasanya, pikir Joseph. Biasanya di hari Sabtu seperti ini, taman ini akan sangat ramai. Joseph langsung mengedarkan pandangan untuk mencari bangku kosong. Ia kaget begitu melihat cewek yang sedang duduk di bangkunya - bangku tempat ia biasa duduk, terletak di bawah pohon rindang. Ia pun memberanikan diri untuk berjalan menuju bangku itu.
" Excuse me, can I sit here?" tanya Joseph kepada Rena sambil menunjuk bangku kosong di sebelah cewek itu. Sebenarnya, Joseph agak ragu melontarkan pertanyaan tadi kepada Rena - sejujurnya ia ragu semenjak melihat cewek itu dulu, saat ia keluar dari gereja.
" Hmm. It's okay. You can sit here. Because I need someone to talk to. " Rena memperbolehkan Joseph duduk di sebelahnya, itu sebuah " keajaiban" bagi Joseph.
" Is it okay? If I sit here? Hmm, sorry, my question sound weird for you. " tanya Joseph untuk kedua kalinya kepada Rena. Entahlah, Joseph masih ragu untuk duduk di sebelah Rena.
" Oh, why you ask that question for two times? Sorry, I don't have boyfriend. " pertanyaan Joseph tadi sedikit terdengar menggelitik di telinga. Dia bertanya pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.
" It's okay. I just afraid if your boyfriend see me, he will angry. " tawa Joseph. Ia sedang berusaha mencairkan suasana tetapi bukannya mencairkan suasana malah membuat suasana makin " panas ".
" Oh okay. If you say like that, I will go. I won't disturb your time. " candaan Joseph ternyata dianggap serius oleh Rena. Rena paling tidak suka cowok yang suka menyinggung - nyinggung masalah pribadi. Walau perkataan cowok tadi sebenarnya tidak menyangkut di masalah pribadi, Rena tetap berpikiran seperti itu.
" Yaaah, dia malah tersinggung. Duh, nih mulut kenapa ga bisa dikrontol dikit sih?! " caci Joseph kepada dirinya sendiri di dalam hati. Ia sebenarnya hanya ingin bercanda tetapi candaanya malah sering membuat orang tersinggung, seperti tadi.
Taman yang tadinya menjadi tempat kesukaanya, entah mengapa berubah menjadi tempat yang membuat pikirannya tidak tenang. Mungkin, ini karena cewek tadi tetapi bukan karena percakapan mereka. Saat Joseph sedang melamun, tanpa diduga ada orang yang sangat tidak ingin ditemuinya malah muncul di hadapannya.
" Hei, what are you doing here, fat boy? " sapa Meyla, mantan kekasih Joseph.
" Hey. Kebetulan banget ya kita bisa ketemu di sini. Lo ngapain di Australi? " tanya Joseph basa basi.
" Hehe ternyata cuman lo yang ga bisa diboongin pake Bahasa Inggris. " bukannya menjawab pertanyaan Joseph, Meyla malah membuat candaan garing.
" Kita udah kenal berapa tahun sih? Oh ya, pertanyaan gue yang tadi dijawab dulu bisa kali. " Joseph sedang tidak ingin bercanda, candaanya sudah habis semenjak ia bertemu Rena tadi.
" Lo lupa ya, kan gue semenjak satu setengah tahun yang lalu kerja jadi arsitek di sini. " menurut Joseph, keputusan Meyla lah yang membuat hubungan mereka kandas 2 tahun lalu. Meyla sangat ingin bekerja di Australia, makanya saat kesempatan itu datang ia tak menyia - nyiakannya begitu saja. Tetapi, resikonya adalah putus dari Joseph. Hal itulah yang membuat Joseph tidak suka dengan Australia selain karena faktor masa lalu mamanya.
Meyla memotong lamunan Joseph dengan kalimat mengejutkan, " Eh aku udah dipanggil sama Jordan nih. Aku pergi dulu ya, bye. " begitu katanya.
Saat Joseph menoleh ke tempat yang tadi ditunjuk Meyla, cewek itu sudah berdiri di samping seorang cowok, ia kaget dengan kecupan Meyla di pipi cowok itu. Ia terlalu lama memikirkan mengenai apa hubungan Meyla dengan cowok tadi sampai ia tak menyadari bahwa matahari sudah semakin terik. Joseph tak mau berlama - lama memikirkan Meyla, baginya Meyla hanyalah masa lalu. Dan masa lalu tak selamanya harus dikenang, bukan?
Joseph baru ingat sesuatu, ia langsung berlari ke mesjid tempat ia sholat. Ia baru ingat sekarang saatnya adzan ashar dan ini berarti, saatnya ia mengumandangkan adzan.Yah inilah kebiasaanya jika berada di Australia, mengumandangkan adzan saat dzuhur dan ashar. Sedangkan yang mengumandangkan adzan saat subuh, maghrib, dan isya' adalah pengurus masjid.
Joseph baru datang malam itu ketika pamannya sudah berdiri di depan pintu toko bajunya. Walau hanya terlambat 20 menit, paman Joseph tetap tidak bisa terima jika karyawannya ada yang datang terlambat. Joseph memang ponakannya tetapi mama Joseph sudah tidak menjadi bagian dari keluarga Brand lagi. Semenjak mama Joseph berpindah agama menjadi mualaf, anggota keluarganya tak mau lagi menerima kehadirannya, kecuali pamannya yang satu ini.
" Good evening, Uncle Brad. Sorry, I'm late. " hanya itu kata - kata yang mampu diucapkan oleh Joseph. Sebenarnya, Joseph tak sepenuh hati " bekerja " di toko pamannya. Oleh sebab itu, ia sengaja datang telat malam ini. Ia sengaja mengumandangkan adzan maghrib.
Inilah alasan yang membuat Joseph tidak bisa mengumandangkan adzan maghrib dan adzan isya'. Ia harus membantu pamannya di toko baju miliknya. Ia betugas menjaga toko dari jam setengah 6 sore sampai jam 11 malam, saat toko tutup. Ia tak bisa menolak, bagaimana pun pamannya yang satu ini sudah banyak membantu mamanya saat dulu " diusir " dari keluarga Brand karena menjadi mualaf.
" Thanks god, you're my nephew. If you are not my nephew, I'll very angry to you now. " itulah kata - kata yang sering diucapkan Brad ketika tahu ponakannya telat datang ke tokonya. Bagi dirinya, ia masih berutang banyak pada Estelle, ibu Joseph. Karena itulah, ia tak pernah berani memarahi Joseph.
" Thanks, Uncle Brad. " balas Joseph dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
" Just call me Brad. I don't like the way you call me, it seems like I'm too old for you. " setelah kalimat terakhir yang Brad ucapkan, ia langsung bergegas masuk kembali ke dalam toko karena ada pelanggan yang datang.
" Pasti selalu begini setiap aku mau mengatakan sesuatu ke paman. Pasti aja, ada sesuatu yang menghalangi. " tanpa Joseph sadari, kalimat terakhir yang ia ucapkan benar - benar terlontar dari mulutnya.
Rena sedang membantu mamanya menyiapkan makan malam ketika hpnya bergetar di dalam saku celananya. Setelah itu hanya ada suara desahan yang mampu dilakukan oleh mulutnya. Pasti kalau malam Zeyra selalu meng-sms Rena untuk meminta bantuan membacakan huruf asing yang tertera di label produk belanjaanya. Rena memang mahir dalam hal bahasa. Rena juga mampu berbahasa Jepang dan Prancis, walau ia tak terlalu menguasai kedua bahasa asing itu. Dengan setengah hati, Rena meninggalkan pekerjaanya dan bergegas ganti baju. Ia setengah berlari menuju toko baju tempat Zeyra berada.
Joseph seperti patung, hanya berdiri di depan toko tanpa melakukan pergerakan yang berarti. Ia tak menyangka akan bertemu cewek berambut lurus sebahu itu malam ini. Joseph dan Rena sama - sama saling diam, mereka seperti disihir untuk diam mematung. Joseph tak tahu harus berkata apa untuk memecah keheningan itu.
" Excusme, is this Brand O'Dan shop? " Reina berusaha mencairkan kebekuan diantara dirinnya dan Joseph. Tetapi, belum selesai Rena mengucapkan kata - katanya, Zeyra sudah keluar dari toko dengan suara cemprengnya yang khas.
Brand O'Dan Shop, sebuah toko baju berukuran tak terlalu besar yang berada di pusat kota Sydney. Toko baju ini memang belum terkenal tetapi toko - tokonya sudah ada di beberapa kawasan Asia Tenggara, seperti Singapura dan Thailand. Merek - merek baju yang dibuat adalah kreasi sendiri, percampuran dari model Harajuku dan Guess.
" Rena, why does it take so long? Just take 20 minutes walk from your house. " seperti biasa, Zeyra akan cerewet seperti ini kalau Rena datang terlambat untuk menemuinya.
Zeyra adalah orang yang tepat waktu. Ia tidak suka dengan orang yang membuang - buang waktu karena terlambat. Ada beberapa orang yang bisa menyesuaikan diri dengan sikap Zeyra tetapi tak sedikit pula yang tak bisa menyesuaikan diri dengan cara seperti itu.
" Sorry Zee, I've some tasks at home so that's my reason" desahan Rena semakin terasa berat. Ia hanya terlambat 5 menit tapi Zeyra tetap tida bisa menerima itu. Alasan apa pun takkan mempan bagi Zeyra.
" Thanks God, you're my best friend. If you aren't my best friend, I don't know what will I do. Maybe, I will so angry but it'll never happen to you. You're my best friend. " sekali lagi, alasan itulah yang membuat Zeyra tidak bisa marah ke Rena. Rena adalah sahabat sejatinya.
Joseph yang sedari tadi bengong melihat dua wanita di depannya berbicara tetap tak bisa bergerak. Entah daya magis apa yang dikeluarkan perempuan bernama Rena itu sampai Joseph tak bisa bergerak.
" Excusme sir, can you permit my friend to come in? " Zeyra yang merasa aneh dengan gelagat Rena dan Joseph sengaja bertanya seperti itu. Ia merasa sikap Joseph seperti seseorang yang melihat benda asing.
" Oh, it's okay. Your friend can come in to this shop. " Joseph langsung tersentak ketika Zeyra bertanya dengan nada sedikit tajam tadi.
" I'm so sorry, sir. I shocked you. See you. " giliran Rena yang bersuara. Ia ingin menetralkan suasana. Entah mengapa, saat ia melihat Joseph, ia seperti disihir oleh mata cowok itu.
Joseph baru saja masuk ke dalam toko untuk menghampirinya pamannya. Tetapi, Brad malah memeloti Joseph karena kelakuan ponakannya itu di luar tadi. Karena dipelototi, Joseph tidak jadi menghampiri pamannya. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan lelaki itu. Jadi, sebelum pamannya menyuruhnya untuk menghampiri ke - dua cewek tadi. Ia berinisiatif untuk menghampiri dua cewek itu dengan senyum yang dipaksakan.
" Excusme, girls. Sorry for my attitude on the outside last minutes ago. I just shocked when I see two beautiful girls. " niat Joseph yang tadinya mau meminta maaf dengan nada serius malah gagal total. Zeyra sudah terlanjur melemparkan tatapan tajam saat Joseph baru mulai berbicara. Joseph jadi agak sedikit bercanda ketika meminta maaf, hanya untuk mencairkan suasana, seperti biasa.
" It's okay, sir. I'm sorry because I make you shocked. " Rena yang membuka suara untuk mebalas permintaan maaf Joseph. Ia sedang dalam keadaan " baik ". Joseph adalah cowo yang baik, menurutnya. Tetapi, ada sesuatu di dalam diri Joseph yang membuatnya penasaran.
" Sir, can you help me to find L size for these dress. " Zeyra yang sedari tadi berniat membeli dress keluaran terbaru dari toko ini langsung menunjuk lima dress sekaligus. Ia sudah tertarik dengan kelima dress yang sekarang berada di tangannya. Karena Joseph ada di dekatnya, kesempatan itu tidak disia - siakannya. Ia langsung meminta Joseph untuk mencari ukuran L untuk dress - dress itu.
" Wait a minute. " hanya tiga kata itu yang dikeluarkan Joseph sebelum pergi ke gudang mencari ukuran L untuk lima dress yang akan dibeli Zeyra.
Sambil menunggu Joseph kembali dari gudang untuk mencari ukuran L bagi dress - dressnya, Zeyra meminta pendapat Rena mengenai sikap Joseph dalam melayani pelanggan. Tetapi, ia kaget dengan komentar Rena mengenai pelayanan dari Joseph.
" Ren, what do you think about that man? I mean his politeness? " pertanyaan Zeyra sedikit membingungkan di telinga Rena.
" Who? I don't know. What do you mean with " him "? " Rena bingung harus menjawab apa, untuk mengalihkan pembicaraan, Rena sengaja berpura - pura tidak tahu dengan bertanya cowo mana yang dimaksud Zeyra.
" Rena, please. I'm serious. Is he polite or not? " Zeyra semakin " gemas " dengan Rena. Ia berniat bertanya serius tapi malah dianggap bercanda oleh Rena.
Rena dan Zeyra tak menyadari jika sedari tadi mereka diawasi oleh seseorang. Mereka juga tak menyadari kehadiran Joseph yang telah kembali dari gudang. Tanpa sengaja, Joseph sedikit mendengar kalimat terakhir yang Zeyra ucapkan.
" Excusme, sorry if I'm too long. I'm new here so it take more times to find a large size dress on the storage. " Joseph menjelaskan alasannya berada di gudang cukup lama tanpa diminta.
" Where is my dress, sir? I'd like to fit in the dresses on the dressing room. " Zeyra tak memedulikan alasan Joseph. Ia hanya ingin segera mencoba kelima dress yang sudah dipilihnya lalu pulang ke rumah dan tidur.
" This's your dresses. You can find the dressing room on the left from the chasier. " Joseph menunjukkan letak kamar ganti yang berada di sebelah kasir, tidak tepat di sebelahnya tapi agak ke pojok. Joseph agak sedikit kesal dengan pelangganya yang satu ini, sikapnya yang arogan membuat Joseph tidak suka. Joseph lebih suka dengan temannya yang sedari tadi hanya diam, yaitu Rena.
" Excusme, do you want to buy something,miss? " saat Zeyra sedang mencoba semua dress yang sudah dipilihnya, Joseph berusaha berbicara dengan Rena.
" Hmm, no thank you, sir. Can I ask you something, sir? " gayung pun disambut, ternyata Rena juga ingin berbicara dengan Joseph. Setelah melihat anggukan kepala Joseph, Rena pun langsung menyambung kalimatnya, " Do you always act like that? I mean when we're meet on last afternoon. "
Joseph pun hanya bisa mendesah panjang di dalam hatinya. Ia bingung mau menjawab apa. Ia belum siap untuk menjawab pertanyaan seperti ini tepatnya. Akhirnya Joseph hanya bisa bilang, " I just shocked when I meet you last afternoon. " bodoh, kenapa jawaban seperti itu yang dikeluarkan dari mulutnya.
" Why do you look very shocked when you meet me? " sudah bisa ditebak, pasti pertanyaan seperti ini yang akan ditanyakan Rena.
" Hmm.............. " Joseph berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Rena. Tetapi, baru saja ia mau bersuara, Zeyra sudah selesai mencoba semua dress.
" I take these dress. All of this. " Zeyra berbicara kepada petugas kasir yang sedari tadi sibuk mengutak - atik komputer. Ia langsung menghampiri kasir karena ingin cepat membayar lalu pulang.
" Sorry, miss. You must have a note to buy these dresses. " petugas kasir itu hanya memberi tahu Zeyra tentang aturan membeli baju di toko Brand O'Dan Shop dengan muka yang masih melihat ke arah komputer.
Zeyra yang memang sudah ingin pulang karena kelelahan setelah bekerja seharian, melambaikan tangan ke arah Rena. Lambaian itu artinya meminta tolong untuk berbicara ke Joseph agar dibuatkan nota pembayaran.
Rena yang sudah mengerti arti lambaian itu langsung memberi tahu Joseph. Tetapi, ternyata Joseph sudah membuat nota pembayaran sebelum disuruh oleh Zeyra. Aku ingin cepat - cepat melihat " nenek " itu keluar dari toko ini, batin Joseph. Tapi, Joseph ingin Rena bertahan lebih lama karena ia ingin berbicara lebih lama lagi dengan Rena.
" Go home. " kedipan mata Zeyra kepada Rena mengartikan bahwa Zeyra sudah ingin memeluk kasur. Rena tak ingin membantah keinginan sahabatnya itu, lagi pula dirinya sendiri juga sudah merasa lelah.
Joseph yang melihat kedipan mata Zeyra kepada Rena, membuat dirinya langsung lesu. Kenapa tuh " nenek " enggak pulang sendiri aja, sih. Dasar " nenek - nenek " bawaanya bad mood mulu.
Malam itu setelah pulang dari toko, Joseph menyempatkan diri pergi ke masjid dekat rumah pamannya, sekedar untuk melepas penat setelah lelah bekerja selama beberapa jam. Saat Joseph melihat jam tangannya, Joseph kaget karena jam masih menunjukkan pukul 9.15, biasanya jam segini ia masih melayani pelanggan sampai jam setengah sebelas malam. Mungkin, suasana hati pamannya sedang senang karena baju - baju di tokonya lumayan terjual banyak, tidak seperti hari - hari sebelumnya. Kedatangan dua cewek tadi ternyata membawa keberuntungan, pikir Joseph. Joseph sedang keasyikkan melamun saat seseorang tiba - tiba menabraknya dari arah belakang.
Masjid masih terlihat ramai padahal malam sudah menunjukkan sunyinya. Joseph tak menyia - nyiakan waktu pulangnya dengan bermalas - malasan di rumah pamannya. Kesempatan tidak datang dua kali, pikir Joseph. Jarang - jarang ia pulang lebih awal dan bisa singgah sebentar di masjid dekat rumah pamannya. Joseph langsung mengambil duduk di sebelah lemari Al - Qur'an kemudian ia mengambil sebuah Al - Qur'an kecil dan langsung membuka surah Al - Zalzalah. Setiap ke masjid, surah yang tak pernah dilewati untuk dibaca oleh Joseph adalah surah Al - Zalzalah. Surah ini selalu mengingatkanku akan segala dosa yang telah kuperbuat, itulah alasan Joseph ketika ditanya pengurus masjid tempat ia biasa mengumandangkan adzan mengenai alasannya suka membaca surah Al - Zalzalah.
Setelah selesai membaca Al - Qur'an di masjid, Joseph langsung bergegas pulang menuju rumah pamannya. Sebenarnya, paman Joseph tinggal di sebuah town house tapi karena ukuran town house yang luas, Joseph lebih suka menyebutnya rumah. Perjalanan dari toko pamannya ke rumah memakan waktu 25 menit jika menggunakan kereta tapi karena Joseph ingin berjalan kaki, perjalanan itu menjadi memakan waktu kira - kira 45 menit lebih. Itu pun kalau Joseph tidak mampir ke masjid dulu, kalau mampir ke masjid total waktu yang dibutuhkan untuk berjalan kaki menjadi 1 jam lebih. Rumah pamannya terletak di pinggiran kota Sydney.
" Hallo? " Joseph menempelkan hand phone yang bergetar di saku celananya.
" Ini mama. Kamu kok gak ngasih tahu mama selama di Australi? " suara mama Joseph yang khas itu " menyambangi " gendang telinga Joseph. Bahasa Indonesia mama Joseph sudah lumayan walau logatnya masih mirip barat.
" Oh mama. Maaf ma aku belum sempat ngabarin mama semenjak kedatanganku di Australia beberapa hari yang lalu. " Joseph baru ingat bahwa mamanya menggunakan telfon umum bukan telfon rumah karena nomor yang tertera tidak bernama.
" Ya sudah, kalau kamu masih di jalan hati - hati ya. Oh ya, kamu kapan pulang? " mama Joseph begitu mengkhawatirkan keaadan Joseph di Autralia karena suatu hal.
" Ma, mama dimana sekarang? Kok nomornya gak aku kenal? " Joseph yang sudah biasa dengan kekhawatiran mamanya yang kurang lebih berlebihan tak menanggapi kalimat terakhir mamanya.
" Mama lagi jalan - jalan sama papamu di Jimbaran. Adikmu sedang berada di rumah temannya. " terdengar suara telefon terputus setelah itu. Saat Joseph " menurunkan " kembali hand phone nya, baterai HPnya ternyata sudah habis.
Mama pasti sekarang lagi khawatir gara - gara sambungan terputus tiba - tiba, pikir Joseph. Tapi, Joseph berniat setelah sampai di rumah pamannya, ia akan segera mengisi kembali baterai HPnya lalu menelefon mamanya agar mamanya tidak khawatir berkepanjangan.
Di perjalanan pulang menuju rumah pamannya, tiba - tiba saja rintik - rintik hujan mulai turun. Jarak rumah paman Joseph yang sudah dekat membuat Joseph berlari - lari menerobos hujan agar bisa sampai di rumah sebelum hujan deras turun. Tetapi, hujan deras sudah terlanjur ditumpahkan oleh langit gelap malam itu ketika Joseph baru mulai berlari. Kecepatan lari Joseph pun terpaksa ditambah agar tubuhnya tak basah kuyup setelah diterpa hujan, seperti beberapa hari lalu.
Paman Joseph juga baru sampai di rumahnya ketika langit mulai menumpahkan " tangisnya ". Brad khawatir akan keadaan ponakannya yang masih berada di perjalanan, ia takut jika ponakannya kembali basah kuyup seperti kejadian beberapa hari lalu. Brad baru mau kembali menstarter mobilnya untuk menjemput Joseph saat Joseph sudah keburu sampai di rumah dengan tubuh yang lumayan basah kuyup.
" Hay, uncle. What happen with your eyes? Why do you look at me like that? I'm okay. " Joseph tak mau pamannya mengkhawatirkannya seperti beberapa hari lalu saat Joseph pulang ke rumah dengan basah kuyup dan menggigil. Ia berusaha meyakinkan pamannya bahwa ia baik - baik saja.
" But your body is too wet for me. I'm too afraid if you have cold again like a few days ago. " Brad memandangi tubuh ponakannya yang basah kuyup oleh air hujan. Ia memang tidak terlalu khawatir dengan komdisi ponakannya itu tapi tetap saja, ia takut ponakannya itu kembali terkena flu walau tidak separah seperti sebelumnya.
Joseph langsung berlari ke dalam rumah untuk mengisi kembali baterai HPnya yang sudah habis. Teriakan pamannya pun tak dihiraukannya. Ia ingin cepat - cepat menelefon mamanya lagi supaya mamamnya itu tidak khawatir berkepanjangan untuk yang kesekian kalinya. Joseph baru memikirkan suatu ide yang seharusnya sudah dilakukannya sejak tadi. Kenapa ga minjem HP paman saja untuk nelefon mama kan lebih praktis daripada harus menunggu baterai HP terisi penuh, pikir Joseph.
My Diary
Welcome to my story of sadness and happiness :")
Rabu, 30 April 2014
Taman Cinta
Nala, Rena, dan Bart – tiga orang
sahabat yang sudah saling mengenal dari kecil. Mereka selalu berpergian secara
bersama – sama. Mereka pun memiliki hobi yang sama, yaitu penyuka lingkungan.
Kota yang mereka tempati memang sedikit kumuh, sampah, pengemis, wanita pria
atau waria, dan bandar narkoba bertebaran di mana – mana. Kota ini memiliki
nama yang cukup unik bagi orang – orang yang berwisata ke sini, Kota Fantasi.
Setiap orang bebas berimajinasi di kota ini, tak ada yang melarang.
Pada saat itu Nala kecil sedang bermain – main dengan tanaman
kesayangannya. Ia berpikir kalau tanaman ini hidup pasti akan sangat menarik
tapi bagaimana caranya? Setiap hari Nala selalu merawat tanamanya, ia masih
terus berharap dan berharap suatu hari nanti tanamannya dapat hidup, hidup
dalam arti yang sebenarnya. Suatu hari, Nala kecil sedang menyirami tanamnya
tapi ia begitu penasaran terhadap suara berisik dari rumah tetangganya. Ketika
ia iseng ingin mengerjai tetangganya itu, keisengannya berbalik kepadanya.
“ Hahahaha, liat mukamu. Mukamu lucu sekali gadis kecil. Maaf aku sudah
membuatmu terkejut. “ anak laki – laki dengan tinggi yang cukup membuat Nala
harus mendongak supaya bisa melihat wajahnya. Anak laki – laki yang sudah bisa
membuat Nala tertawa renya, tidak seperti biasanya. “ Kenalkan namanku Bart.
Kamu siapa dan apa yang kamu lakukan di sini? “ lanjut Bart. Ia agak sedikit
bingung juga ketika gadis imut yang berdiri di hadapannya ini hanya diam saja.
“ Hai, apa yang kamu lakukan tadi? Mm, kamu orang baru ya di sini? Oh
ya, namaku Nala kalau kamu siapa? “ akhirnya Nala dapat menemukan suaranya
kembali. Kalau ia terus menerus berdiam diri bisa disangka suka lagi.
“ Namaku Bart. Hem bisa dibilang begitu, aku baru pindah ke sini
beberapa hari yang lalu. Aku kira tak ada anak sebayaku di daerah ini tapi
ternyata aku salah. “ gadis ini menggemaskan sekali. Tawanya yang renyah,
tingkah lakunya yang lucu, dan suaranya yang cempreng itu membuat Bart sedikit
– terpana.
Semenjak hari itu, Nala dan Bart sering bermain bersama. Perlahan –
lahan Nala dapat melupakan keinginanya untuk melihat tanamanya hidup dan bisa
menemaninya bermain. Sekarang, Nala tak lagi merasa kesepian karena sudah ada
teman manusia yang menemaninya hampir setiap hari. Sampai suatu saat ada
seorang keluarga baru yang menghuni rumah di depan rumah Bart. Keluarga itu
memiliki anak perempuan sebaya Nala dan Bart. Anak perempuan ini agak sedikit
pemalu tapi kalau sudah kenal dengannya pemikiranmu dapat berubah. Perkenalan Bart
dan Nala dengan anak perempuan ini cukup aneh untuk diingat.
Saat itu, Rena, anak perempuan keluarga baru yang menetap di depan rumah
Bart sedang mengorek – ngorek tanah untuk mengambil cacing tanah yang berada di
dalamnya. Nala baru saja pulang dari sekolah ketika ia melihat kegiatan yang
dilakukan oleh Rena. Ia pun mampir sebentar ke rumah tetangga barunya itu
dengan sedikit mengendap – ngendap.
“ Hai, apa yang kamu lakukan? Oh ya, kita belum kenalan kemarin.
Kenalkan, aku Nala dan anak laki – laki yang suka bermain denganku bernama
Bart. “ celoteh Nala panjang lebar. Ia tak menyadari ada rona merah di pipi
anak kecil yang sedang menggali tanah di hadapannya ini.
“ Maaf, aku tidak bermaksud apa – apa tapi kelihatannya kau dan Bart
sedikit akrab. Mm, namaku Rena. Senang berkenalan denganmu. “ jawaban yang
keluar dari bibir mungil gadis cilik di hadapannya ini membuat Nala sedikit
tersenyum geli. Pemalu sekali anak ini, pikir Nala.
“ Tidak apa – apa. Sudah banyak orang yang mengira aku dan Bart seperti
seorang kakak dan adik. Kapan – kapan kita main bareng yah? Mau ‘kan? “ Nala
menanggapi pertanyaan dari Rena dengan seulas senyum hangat yang bersahabat.
Perkenalan Nala dan Rena pada hari adalah awal dari persahabatan antara
Nala, Rena, dan Bart, mereka suka bermain bersama, bahkan tak jarang mereka
pulang saat malam mulai menampakkan wajahnya. Mereka terus berimajinasi, mulai dari kenginan
Nala yang ingin tanamanya hidup, Rena yang bertanya – tanya kenapa cacing suka
hidup di tanah, dan Bart yang sering memikirkan tanaman layu kalau disiram
dengan cairan ajaib akan hidup kembali. Mereka tumbuh bersama – sama, walau
lingkungan tempat mereka tinggal kurang mendukung bagi perkembangan anak seusia
mereka.
Suatu hari, Rena pulang lewat dari jam 7 malam. Ia berjalan mengendap –
ngendap lewat pintu belakang tapi ia tidak tahu kalau Bapaknya, Pak Dadan sudah
menunggu di ruang tamu. Ia terus berjalan secara perlahan – lahan dan secara
tiba – tiba lampu rumahnya sudah menyala kembali.
“ Darimana saja jam segini baru pulang? Kamu masih 12 tahu tapi sudah
keluyuran sampe jam segini. “ amarah Pak Dadan tak dapat disembunyikan. Ia
sebenernya sudah tak setuju dengan persahabatan anaknya dengan Nala dan Bart
tapi raut wajah Rena waktu itu membuat hati Pak Dadan luluh.
“ Habis main di rumahnya Nala, Pa. Maaf ya, Pa, aku udah buat khawatir.
“ permintaan maaf Rena diucapkan dari dalam hati tapi sepertinya Pak Dadan tak
mau mendengarnya.
“ Sudah papa bilang kalau Nala dan Bart dapat membawa pengaruh buruk
untuk kamu. “ Pak Dadan langsung menyesali ucapannya saat melihat air mata
mulai menetes dari sudut – sudut mata anaknya.
Semenjak percakapan dengan papanya, Rena mulai menjaga jarak dari Nala
dan Bart. Ia tahu, ia ingin memiliki teman manusia tapi papa dan mamanya selalu
berpikiran bahwa tidak ada manusia yang baik. Apalagi lingkungan tempat tinggal
Nala dan keluarganya sangat “ jelek “. Akhirnya, Nala mengalah kepada papanya.
Lebih baik ia mulai menggali tanah kembali seperti saat sebelum ia mengenal
Nala dan Bart. Tetapi, entah apa yang membuat papa dan mamanya berubah pikiran
mengenai Nala dan Bart hari itu. Ke dua orang tua Rena tiba – tiba saja
memperbolehkan Nala dan Bart berteman dengan anak mereka. Rena hanya mengingat
mamanya berkata seperti ini, “ Kelihatannya Nala dan Bart anak baik, papa dan
mama mengizinkan kamu berteman dengan mereka tapi ingat ya nak, jangan pulang
lewat dari jam 7 malam. “ Betapa senangnya Rena saat mendengar ucapan mamanya.
Ia pun menatap papanya dengan raut sumringah. Ia pun memberanikan diri untuk
meminta izin pergi ke kota sebrang demi melihat kondisi kota itu. Dan betapa
senangnya Rena saat papa dan mamanya hanya mengangguk saat ia meminta izin.
Keesokan harinya, Nala, Rena, dan Bart mempersiapkan segala keperluan untuk
hidup di kota sebrang selama beberapa hari. Hari yang dinanti – nantikan tiba,
Nala, Rena, dan Bart berangkat dengan senyum bahagia terpampang jelas di wajah
mereka.
“ Waw, waw, waw. Ini baru namanya kota, bagus banget. Ga ada sampah, ga
ada waria, ga ada Bandar narkoba tapi hanya sepi, sepi yang nyaman. “ seperti
itulah kesan pertama Bart saat ia menginjakkan kaki di kota sebrang, Kota
Nyata. Aneh sekali, pikir Bart. Nama kota seperti nama film hantu.
“ Yuk, kita langsung ke rumah pamanku. Di sana kalian akan melihat
berbagai jenis tanaman yang terawat baik. “ Rena tiba – tiba memecah keheningan
sesaat yang menyelimuti mereka bertiga.
Sesampainya di rumah paman Rena, Nala langsung terkagum – kagum dengan
berbagai jenis tanaman yang terawat di halaman depan dan halaman belakang rumah
itu. Saat Nala sedang mengagumi tanaman mawar hitam yang jarang ditemuinya di
Kota Fantasi, Bart mengagetkan Rena dengan cacing dan kodok yang ia dapatkan
dari sekitar rumah. Saat Bart dan Nala sedang bermain kejar – kejaran di
halaman rumah, Rena membawa beberapa camilan.
“ Nala, Bart, ayo ke sini. Nih, pamanku udah nyiapin beberapa camilan
untuk kita menginap di sini. Ayo di makan, enak – enak loh. Oh ya, tadi paman
minta tolong sama aku untuk nganterin kalian berdua ke taman dekat mal, lumayan
jauh sih. Kalian mau jalan kaki atau naik sepeda? “ Nala dan Bart langsung
tertawa geli saat mengetahui sifat cerewet yang ternyata dimiliki oleh Rena.
Mereka terus tertawa tanpa menyadari raut wajah Rena yang agak sedikit kesal.
“ Makasih, ya. Oh ya, pamanmu mana? Kok ga keluar – keluar lagi? Kita
naik sepeda aja ke tamannya. Udah mau sore jadi biar menghemat. “ akhirnya Nala
dan Bart bisa meredan tawa mereka. Mereka pun hampir menyahut secara bersamaan
saat menjawab rentetan kalimat Rena.
Taman itu begitu sejuk dan nyaman. Di kotanya, Nala dan Bart belum
pernah menemukan taman seindah, senyaman, sesejuk, dan sebersih ini. Sejauh
mata memandang tidak ada sampah, hanya ada tanaman, tanaman, dan tanaman juga
orang – orang yang bersantai dengan nyamannya. Rasanya aneh ketika Rena
memutuskan pindah ke kota yang berbeda 180 derajat dari kota ini. Entah apa
yang membuat Rena pindah dari Kota Nyata ke Kota Fantasi. Tetapi, Rena secara
tiba – tiba mengungkit alasanya mengenai kepindahannya. Ternyata di Kota Nyata,
orang – orang tidak boleh berimajinasi sesuka mereka. Mereka harus berpikir
sesuai dengan alam. Alam harus dirawat dan dijaga di kota ini sedangkan di Kota
Fantasi, alam boleh dirubah sesukanya. Di Kota Nyata alam benar – benar terpelihara
dengan sangat baik. Ada yang menarik perhatian Nala ketika ia sedang mengagumi
suasana taman sore itu. Sekelompok orang yang berkumpul dengan pakaian serba
hijau. Rasa penasaran yang sudah mencapai puncaknya membuat Nala ingin melihat
lebih dekat kegiatan apa yang akan dilakukan orang – orang itu. Oh, cara
menanam tanaman yang baik, pikir Nala. Saat sedang asyik – asyiknya menonton
cara menanam tanaman yang baik, salah seorang pembimbing ada yang memanggil
Nala.
“ Hai, kau yang berdiri di belakang. Sedang apa kau di sini? Kalau mau
mengganggu lebih baik pergi saja. “ ketus sekali ucapan orang itu. Nala jadi
sedikit mundur teratur ketika bahunya tak sengaja menabrak seseorang.
“ Maaf..maaf. “ gumam Nala tak jelas. Hatinya seperti disetrum listrik
ribuan volt ketika ke dua bola mata teduh itu menatapnya. Ia jadi salah tingkah
sendiri.
“ Ayo, sini aku bantu kamu cara menanam yang baik dan benar. “ suara
laki – laki itu dapat membuat hatinya berdegup kencang. Entah apa yang sedang
dirasakannya?
“ I..iya. Makasih. Maaf ya, aku tadi mundur tidak lihat – lihat. “ Nala
tetap berusaha mengucapkan maaf dengan sedikit gemetaran demi meredam degup
jantungnya.
Bart yang melihat Nala dari kejauhan langsung ingin menghampiri
perempuan itu tapi saat melihat seorang laki- laki yang dengan akrabnya bisa
ngobrol dengan Nala, ia mengurungkan niatnya. Entah perasaan apa yang
dirasakannya sekarang ketika melihat Nala dengan laki – laki lain bisa ngobrol
dengan akrab.
Setelah selesai mengikuti kegiatan menanam tanaman, Nala berusaha
mencari laki – laki yang tadi sudah menolongnya tapi nihil. Laki – laki itu tak
ada di mana pun. Saat ia sedang bingung mencari, tiba – tiba ada seseorang yang
menepuk pundaknya dari belakang. Nala langsung terkesiap, takut jika itu itu
adalah orang jahat. Tetapi, Nala langsung tersenyum samar saat mengenali teman
di sekolah dasar dulu, Nana.
“ Hai, Na. Apa kabar? Ih gila lo ya, abis pindah ke sini pas kelas 3
udah jarang komunikasi. “
“ Setelah hampir 5 tahun ga ketemu, cuma itu yang lo mau omongin. Huh,
kalau gitu tadi aku ga usah cape – cape nyapa kamu. Hehehe. Oh, ini kenalin
teman – temanku, ada Nina, Fisa, Albert, Gisel, dan Dan. “ saat melihat Dan,
Nala langsung terkesiap. Laki – laki ini kan yang tadi menolongnya. Duh, mata
itu, matanya teduh banget sih.
Dan yang melihat kebingungan Nala langsung berinisiatif mengenalkan
dirinya sendiri, “ Hai, oh jadi nama kamu Nala. Maaf ya tadi aku ngagetin kamu.
Kamu tinggal di mana? Kapan – kapan jalan bareng yu. Maksudku bareng temen –
temenmu, boleh? “ Nala yang menyadari arah mata Dan langsung melihat ke balik
pundaknya, mukanya merona malu ketika melihat Rena tertawa geli sedangkan Bart,
entahlah.
“ Hmm, boleh aja sih. Tapi, besok aku harus balik ke kotaku lagi. Kotaku
di sebrang kok, Kota Fantasi, tahu ‘kan? “ Nala secara spontan menyelipkan
poninya ke balik kupingnya. Saking gugupnya, ia tidak dapat menyembunyikan rona
merah di wajahnya.
“ Sampai ketemu lagi, La. Jangan sombong ya, nomorku masih yang lama
kok. Telfon aja kalau ada apa – apa. “ Nana langsung menetralisir keadaan saat
melihat gelagat aneh antara Dan dan Nala.
Pertemuan singkat antara Dan dan Nala telah membuat hati Nala ikut
tersenyum. Ada apa denganku, batin Nala. Tetapi, ia tahu satu hal. Suatu hari
nanti mungkin aku dan Dan bisa bertemu kembali, iya aku yakin akan hal itu.
Selasa, 16 Juli 2013
Tears in German
Siang itu, Ryota baru pulang dari kampusnya di Munchen. Tak terasa sudah 3 tahun lebih ia tinggal di Munchen, kota tempat ayahnya bekerja sekarang. Ia berencana untuk pergi ke Bandar Udara Munchen untuk menjemput Reina, pacarnya. Tetapi, perasaanya kepada Mizuta masih sama seperti 3 tahun lalu. Ia tak tahu mengapa perasaan itu seakan - akan sangat susah dihilangkan, kalau pun ia mau tetap wajah Mizuta masih terbayang - bayang di benaknya. " Kenapa?!?! Kenapa hati ini tetap tak mau melupakanmu, Mizuta?!?! " hanya kekeselan seperti itulah yang bisa diungkapkan Ryota untuk menghapus rasa kangenya terhadap cewek yang telah mengobrak - abrik hatinya. Ia sendiri tak tahu mengapa hati ini susah sekali untuk move on. Padahal, sudah hampir 4 bulan dirinya dan Reina jadian.
Mizuta baru sampai di Bandar Udara Munchen siang itu. Ia berencana untuk libur semesternya kali ini, ia akan berlibur di Munchen selama satu minggu. Mizuta baru saja keluar dari tempat pengambilan bagasi. Ia langsung duduk di salah satu bangku dekat toko minuman. Sudah hampir 1 jam menunggu, seseorang yang akan menjemputnya tak kunjung datang. " Duh, dimana sih Kak Takashi? Katanya pas aku nyampe tinggal telfon tapi udah ditelfon berapa kali pun tetep ga diangkat. " itulah pelampiasan kekesalannya di dalam hati.
" Lagi nungguin siapa sih cewe cengeng? " tanya seseorang yang sedang duduk di sebelah Mizuta. Dan suara itu, suara yang tak terasa asing di telinga Mizuta.
" Ryota...Ryota?? Kok kamu bisa ada di sini? " tanpa ragu Mizuta langsung menjawab pertanyaan orang itu dengan menyebutkan nama. Karena, baginya seseorang yang memiliki suara berat dan mirip burung beo hanyalah Ryota, sahabat sekaligus orang yang disukainya. Ia sendiri tak tahu sejak kapan perasaanya kepada Ryota menjadi perasaan sayang yang lebih dari sekedar sahabat.
" Hei, kok bengong? Gomennasai. Tadi jalanan sangat padat. Udah lama nunggunya? " tanya Takashi kepada Mizuta dengan wajah bersalah.
" Hmm...tadinya aku kesel sih tapi karena ada teman jadi aku merasa sedikit terhibur. " jawab Mizuta sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tunggu. Nihil. Orang yang dicarinya menghilang.
" Siapa? Tapi sekarang orangnya di mana? " tanya Takashi dengan wajah kebingungan yang sama dengan Mizuta sambil mengikuti arah pandangan cewe itu.
" Kayanya aku ngehayal. Mana ada temen - temenku yang kuliah di sini kecuali.... " Mizuta tak berani meneruskan kalimatnya. Tetapi, seakan - akan ada angin ribut, Takashi tahu siapa orang yang dimaksud Mizuta.
" Ryota? Oh ya kan katanya kamu ke sini mau sekalian ketemu dia untuk lepas kangen. " Takashi merasa sangat bodoh. Kalimat terakhir yang ia ucapkan begitu dingin dan kata - kata itu keluar tanpa bisa dihentikan oleh mulutnya sendiri.
" Gomennasai. Aku ga maksud untuk nginget - nginget dia lagi. " Mizuta meminta maaf kepada Takashi. Ia tahu, perkataanya tentang Ryota dapat membuat Takashi tersinggung. Tetapi, rasa kangennya melampaui akal sehatnya.
" Tuh dia Ryota. " pancing Takashi dengan nada dingin.
" Tolong ya kak jangan ngomongin dia lagi. " Mizuta merasa kesal terhadap sikap sinis Takashi terhadap Ryota. Ia tahu bahkan sangat sangat tahu. Takashi memang pacarnya sekarang tetapi ternyata pilihannya salah. Takashi tak seperti yang di pikirkannya.
Di tempat lain, Ryota sedang memandangi perdebatan Takashi dan Mizuta. Ia merasa bersalah karena dirinya dua orang itu harus melakukan perdebatan kecil. Akhirnya, untuk menghapus sedikit kesalahannya, ia keluar dari tempat persembunyiaannya. Tetapi sialnya, Takashilah yang melihat dirinya berjalan sedangkan Mizuta tak melirik ke arahnya sedikit pun.
Ryota sedang berusaha memikirkan cara yang tepat untuk menemui Mizuta. Ia akhirnya memutuskan untuk memikirkan sebuah cara untuk menemui Mizuta sambil menunggu Reina di salah satu cafe. Tiba - tiba saat ia sedang merenung, Reina menghampirinya sambil membawa tiga kantong belanjaan.
" Hey bee, maaf aku lama. Tadi pas aku ambil bagasi koperku tertukar dengan seorang cewe. Kelihatannya cewe itu bukan orang Jerman atau Perancis. Tetapi, ia lebih mirip orang Asia. " jelas Reina kepada Ryota panjang lebar sambil menarik salah satu kursi di depan Ryota.
" Asia? Hmm...rambutnya lurus sebahu? Memakai dress oranye dan legging kuning? " tanya Ryota kepada Reina dengan wajah penasaran. Ia takut kalau cewe itu Mizuta. Dan bodohnya ia menyuarakan isi pikirannya.
" Kok kamu bisa tahu? Padahal aku baru ngomong kaya gitu?? Apa kamu kenal atau dia cewemu yang di Jepang? " pas sekali, pas kena dan pas nyeri di hati yang dirasakan Ryota. Entah mengapa Reina bisa membaca pikirannya dengan satu tebakkan tepat. Ryota langsung diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.
" Kok kamu diem? Keep calm, bee. It's okay. I know it's hard for you but believe me, maybe you can forget her if the right time come to you. " setelah Reina memberi semangat kepada Ryota, hanya hening yang menyelimuti mereka berdua.
Tiba - tiba saja Ryota begitu kaget ketika melihat seorang cewe yang sedang memesan kopi. Reina yang daritadi asyik mengoprek isi belanjaanya begitu bingung ketika melihat ekspresi Ryota. Begitu tahu apa penyebab kakegetan Ryota, Reina langsung memanggil cewe itu dengan suara cukup keras. Ya, cewe berambut hitam kecoklatan sebahu itu bernama Mizuta, orang yang disukai Ryota semenjak SMA.
" Eh oh eh, kita pernah kenal? " Mizuta begitu kaget ketika mendengar namanya dipanggil oleh seorang cewe berambut pirang kemerahan. Ia begitu terpaku kepada cewe itu sehingga tidak menyadari kalau orang yang duduk di sebrang cewe itu Ryota.
" Mungkin kamu lupa kejadian di tempat bagasi tadi. " jelas Reina dengan nada kurang ramah.
" Oh maaf tadi aku sedang buru - buru. Tetapi, kita belum berkenalan cuma kenapa kau tahu namaku? " tanya Mizuta kepada Reina dengan wajah kebingungan.
Reina tak menjawab pertanyaan itu tetapi ia menunjuk orang yang sedari tadi duduk dengan wajah kaget dan...takut di sebrangnya. " Aku tahu dari bee, eh maksudku Ryota. " jelas Reina kepada Mizuta tanpa disuruh.
Mizuta langsung memalingkan kepalanya ke arah yang ditunjukkan Reina. Betapa kaget dirinya ketika ia melihat cowo yang sudah membuat hatinya berantakan semenjak kepergiannya tiba - tiba hadir di hadapannya. " Kau pergi tak memberi kabar! " Hanya kalimat itulah yang sanggup dikatakan oleh Mizuta. Dan saat itu juga, hatinya meneriakkan nama seseorang yang sedang menunggu di luar cafe.
Tiba - tiba saja ada suara seorang cowo yang membisikkan sebuah kalimat penuh kemarahan kepada Mizuta tepat di belakangnya. Saat Mizuta menoleh ke belakang, Takashi sudah berdiri di sana dengan wajah sebal.
" Pantas saja lama, ternyata kau kembali menemui cowomu yang di Jepang. " sindir Takashi kepada Ryota dengan tatapan sinis.
" Eh oh eh...gomenne Takashi - san, aku hanya kebetulan saja bertemu dengan Ryota. " jelas Mizuta kepada Takashi dengan wajah penuh penyesalan.
Reina hanya dapat memandangi ketiga orang di sekelilingnya. Ia tak tahu mengapa tiba - tiba ada hawa dingin yang menyelimuti ketiga orang itu, terlebih Takashi. Dan, ia tak mengerti isi pembicaraan Mizuta dan Takashi. Baginya, baru kali ini ia mendengar dua orang tidak berbicara dengan bahasa Inggris melainkan bahasa asing.
" Sebaiknya aku dan Reina pergi. Tak baik aku menguping pembicaraan dua orang yang sedang berantem. " akhirnya, Ryota dapat menemukan kembali suaranya. Ia langsung membalas pembicaraan kedua orang itu dengan bahasa asing yang tak dimengrti Reina. Ya, bahasa yang digunakan Mizuta, Takashi juga Ryota adalah bahasa Jepang.
" Pengecut amat lo...hahaha. Takut sama gue kan?! " saat Takashi melihat Ryota mulai bangkit dari tempat duduknya sambil memegangi tangan Reina, ia menyindir Ryota dengan nada ketus.
Ryota tak menghiraukan sindiran Takashi, ia hanya berlalu sembari bergegas membantu Reina membawa barang bawaanya. Ia hanya bisa memikirkan satu hal, yaitu kesalahan Mizuta dalam menjatuhkan pilihannya. Tetapi, Ryota langsung seperti patung begitu mendengar Mizuta bersuara.
" I know, I'm wrong about my choice. I know since my heart say that you're my destiny. I don't know why? But the important thing is I love you. I know you won't with me, maybe I'm too late to say this. You know why? Because I'm afraid if I'm losing you. I don't know my plans for my future when I know you won't with me. " seakan - akan Mizuta bisa menjawab pertanyaan yang berkecamuk sekian lama di dalam pikiran Ryota. Tetapi, entah mengapa, jawaban itu hanya seperti kertas kosong yang sudah terlanjur usang untuk disentuh oleh sebuah pena.
Takashi tak tahu isi pembicaraan Mizuta tadi karena ia tak bisa berbahasa Inggris. Tetapi, ketika ia melihat raut wajah Ryota, sepertinya pembicaraan Mizuta tadi cukup membuat Ryota hampir meneteskan air mata. " Sebaiknya aku menunggu di luar saja. " sebelum Mizuta sempat berbicara untuk menahan Takashi keluar dari cafe, Takashi sudah berjalan ke luar cafe. Entah mengapa, ia baru sadar sekarang mengenai perubahan sikap Mizuta beberapa bulan lalu saat dirinya menelefon untuk mengabari keadaanya.
Nafas Reina langsung tercekat saat mendengar pengakuan Mizuta kepada Ryota. Ia tak tahu, perasaan apa yang mendorong Mizuta untuk melakukan pengakuan di hadapan dirinya, Takashi, dan Ryota tadi. Udara di sekeliling Ryota dan Mizuta seakan - akan menjadi hangat. Rasanya dirinya ingin menarik Ryota keluar dari cafe dan menjauh dari Mizuta. Tetapi, sebagian dirinya berkata untuk membiarkan Ryota menanggapi dulu pengakuan dari Mizuta.
" I'm so sorry Mizuta but I don't know why my feeling doesn't same anymore. Now, I know what must I do for my future. This feeling which is I have, has answer by you right now. I don't know why my heart feel sad not happy. So, I'm so sorry to tell you this marriage. Me and Reina will have our marriage, maybe after I have graduate from my university. " setelah menjawab pengakuan dari Mizuta, tiba - tiba saja ada perasaan lega yang menyusupi hatinya. Reina pun ikut senang atas jawaban Ryota tetapi ia pun ikut merasakan kesedihan Mizuta. Dan Ryota baru menyadari satu hal, yaitu perasaanya sudah lama berubah semenjak ia mengenal Reina. Hanya sebagian dirinya yang mempertahankan jawaban atas perasaanya dari Mizuta. Setelah ia mendapat jawaban dari Mizuta, ia tahu bahwa ia bisa melanjutkan hidupnya bersama Reina.
" I know I'm too late. But I feel stupid to let you know what I feel right now. And I feel sad of your answer. Maybe, I must forget you, Ryota but I can't. I regret my answer. Now, what must I do? I don't know my plans for the future. Takashi give me his heart but I just make he sad and angry. So, what do you think about my relationship with Takashi? Broke up or not. " Mizuta sudah tak bisa lagi membendung air matanya. Ia begitu menyesal dengan penghianatannya terhadap Takashi. Saat Takashi mulai menerima dirinya, tiba - tiba saja hatinya berpaling. Ia tak tahu apa yang harus dikatakannya kepada Takashi mengenai isi hatinya. Ia takut kehilangan Takashi tetapi sebagian dirinya yang lain marah kepadanya. Haruskah aku putus dengan Takashi? Atau aku melanjutkan saja hubunganku dengan Takashi? Tapi, jika tetap kujalani, aku takut suatu hari nanti rahasia hati ini terbongkar dan membuat Takashi lebih sakit.
" Lebih baik kamu putus dengan Takashi. Dan lebih baik kamu mengasih tahu Takashi sekarang mengenai isi hatimu. Memberitahunya sekarang tak akan sesakit memberitahunya nanti ketika kau sudah siap. " entah dorongan apa yang membuat Ryota menjawab pertanyaan Mizuta dengan bahasa Jepang. Jawaban Ryota mampu membuat Takashi masuk kembali ke dalam cafe dan langsung meminta penjelasan dari Ryota.
" Maksud pernyataanmu tadi apa?! Apa salahnya jika Mizuta suka padaku?! " suara itu, suara yang dapat memekakkan telingan. Berat dan dingin.
" Lebih baik kau saja yang meminta penjelasan dari Mizuta. Aku masih banyak urusan yang harus diselesaikan. " balas Ryota dengan nada yang tak kalah berat dan dingin. Ia akhirnya melangkahkan kaki keluar dari kafe itu sendirian. Dan reaksi Reina saat melihat perdebatan Ryota, Mizuta juga Takashi hanya diam mematung. Saat Ryota melangkahkan kaki keluar dari kafe pun, Reina tak berusaha menahan atau mengejar. Ia berpikir bahwa Ryota memerlukan waktu sendiri saat ini.
" Maksud Ryota tadi apa Mizuta - san?! Aku tidak senang dibuat penasaran seperti ini?! " Takashi meminta penjelasan dari Mizuta mengenai omongan Ryota tadi. Tetapi, yang bisa dilakukan Mizuta hanya menangis. Bagi Takashi tangisan itu adalah jawaban atas semua pertanyaan di dalam hatinya selama beberapa bulan ini. " Jadi benar kamu suka Ryota?! " suara Takashi makin terdengar berat dan juga dingin. Tetapi untuk yang kesekian kalinya, Mizuta hanya bisa meneteskan air mata. Dan air mata itu pun menjadi jawaban atas pertanyaan Takashi.
Mizuta baru sampai di Bandar Udara Munchen siang itu. Ia berencana untuk libur semesternya kali ini, ia akan berlibur di Munchen selama satu minggu. Mizuta baru saja keluar dari tempat pengambilan bagasi. Ia langsung duduk di salah satu bangku dekat toko minuman. Sudah hampir 1 jam menunggu, seseorang yang akan menjemputnya tak kunjung datang. " Duh, dimana sih Kak Takashi? Katanya pas aku nyampe tinggal telfon tapi udah ditelfon berapa kali pun tetep ga diangkat. " itulah pelampiasan kekesalannya di dalam hati.
" Lagi nungguin siapa sih cewe cengeng? " tanya seseorang yang sedang duduk di sebelah Mizuta. Dan suara itu, suara yang tak terasa asing di telinga Mizuta.
" Ryota...Ryota?? Kok kamu bisa ada di sini? " tanpa ragu Mizuta langsung menjawab pertanyaan orang itu dengan menyebutkan nama. Karena, baginya seseorang yang memiliki suara berat dan mirip burung beo hanyalah Ryota, sahabat sekaligus orang yang disukainya. Ia sendiri tak tahu sejak kapan perasaanya kepada Ryota menjadi perasaan sayang yang lebih dari sekedar sahabat.
" Hei, kok bengong? Gomennasai. Tadi jalanan sangat padat. Udah lama nunggunya? " tanya Takashi kepada Mizuta dengan wajah bersalah.
" Hmm...tadinya aku kesel sih tapi karena ada teman jadi aku merasa sedikit terhibur. " jawab Mizuta sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tunggu. Nihil. Orang yang dicarinya menghilang.
" Siapa? Tapi sekarang orangnya di mana? " tanya Takashi dengan wajah kebingungan yang sama dengan Mizuta sambil mengikuti arah pandangan cewe itu.
" Kayanya aku ngehayal. Mana ada temen - temenku yang kuliah di sini kecuali.... " Mizuta tak berani meneruskan kalimatnya. Tetapi, seakan - akan ada angin ribut, Takashi tahu siapa orang yang dimaksud Mizuta.
" Ryota? Oh ya kan katanya kamu ke sini mau sekalian ketemu dia untuk lepas kangen. " Takashi merasa sangat bodoh. Kalimat terakhir yang ia ucapkan begitu dingin dan kata - kata itu keluar tanpa bisa dihentikan oleh mulutnya sendiri.
" Gomennasai. Aku ga maksud untuk nginget - nginget dia lagi. " Mizuta meminta maaf kepada Takashi. Ia tahu, perkataanya tentang Ryota dapat membuat Takashi tersinggung. Tetapi, rasa kangennya melampaui akal sehatnya.
" Tuh dia Ryota. " pancing Takashi dengan nada dingin.
" Tolong ya kak jangan ngomongin dia lagi. " Mizuta merasa kesal terhadap sikap sinis Takashi terhadap Ryota. Ia tahu bahkan sangat sangat tahu. Takashi memang pacarnya sekarang tetapi ternyata pilihannya salah. Takashi tak seperti yang di pikirkannya.
Di tempat lain, Ryota sedang memandangi perdebatan Takashi dan Mizuta. Ia merasa bersalah karena dirinya dua orang itu harus melakukan perdebatan kecil. Akhirnya, untuk menghapus sedikit kesalahannya, ia keluar dari tempat persembunyiaannya. Tetapi sialnya, Takashilah yang melihat dirinya berjalan sedangkan Mizuta tak melirik ke arahnya sedikit pun.
Ryota sedang berusaha memikirkan cara yang tepat untuk menemui Mizuta. Ia akhirnya memutuskan untuk memikirkan sebuah cara untuk menemui Mizuta sambil menunggu Reina di salah satu cafe. Tiba - tiba saat ia sedang merenung, Reina menghampirinya sambil membawa tiga kantong belanjaan.
" Hey bee, maaf aku lama. Tadi pas aku ambil bagasi koperku tertukar dengan seorang cewe. Kelihatannya cewe itu bukan orang Jerman atau Perancis. Tetapi, ia lebih mirip orang Asia. " jelas Reina kepada Ryota panjang lebar sambil menarik salah satu kursi di depan Ryota.
" Asia? Hmm...rambutnya lurus sebahu? Memakai dress oranye dan legging kuning? " tanya Ryota kepada Reina dengan wajah penasaran. Ia takut kalau cewe itu Mizuta. Dan bodohnya ia menyuarakan isi pikirannya.
" Kok kamu bisa tahu? Padahal aku baru ngomong kaya gitu?? Apa kamu kenal atau dia cewemu yang di Jepang? " pas sekali, pas kena dan pas nyeri di hati yang dirasakan Ryota. Entah mengapa Reina bisa membaca pikirannya dengan satu tebakkan tepat. Ryota langsung diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.
" Kok kamu diem? Keep calm, bee. It's okay. I know it's hard for you but believe me, maybe you can forget her if the right time come to you. " setelah Reina memberi semangat kepada Ryota, hanya hening yang menyelimuti mereka berdua.
Tiba - tiba saja Ryota begitu kaget ketika melihat seorang cewe yang sedang memesan kopi. Reina yang daritadi asyik mengoprek isi belanjaanya begitu bingung ketika melihat ekspresi Ryota. Begitu tahu apa penyebab kakegetan Ryota, Reina langsung memanggil cewe itu dengan suara cukup keras. Ya, cewe berambut hitam kecoklatan sebahu itu bernama Mizuta, orang yang disukai Ryota semenjak SMA.
" Eh oh eh, kita pernah kenal? " Mizuta begitu kaget ketika mendengar namanya dipanggil oleh seorang cewe berambut pirang kemerahan. Ia begitu terpaku kepada cewe itu sehingga tidak menyadari kalau orang yang duduk di sebrang cewe itu Ryota.
" Mungkin kamu lupa kejadian di tempat bagasi tadi. " jelas Reina dengan nada kurang ramah.
" Oh maaf tadi aku sedang buru - buru. Tetapi, kita belum berkenalan cuma kenapa kau tahu namaku? " tanya Mizuta kepada Reina dengan wajah kebingungan.
Reina tak menjawab pertanyaan itu tetapi ia menunjuk orang yang sedari tadi duduk dengan wajah kaget dan...takut di sebrangnya. " Aku tahu dari bee, eh maksudku Ryota. " jelas Reina kepada Mizuta tanpa disuruh.
Mizuta langsung memalingkan kepalanya ke arah yang ditunjukkan Reina. Betapa kaget dirinya ketika ia melihat cowo yang sudah membuat hatinya berantakan semenjak kepergiannya tiba - tiba hadir di hadapannya. " Kau pergi tak memberi kabar! " Hanya kalimat itulah yang sanggup dikatakan oleh Mizuta. Dan saat itu juga, hatinya meneriakkan nama seseorang yang sedang menunggu di luar cafe.
Tiba - tiba saja ada suara seorang cowo yang membisikkan sebuah kalimat penuh kemarahan kepada Mizuta tepat di belakangnya. Saat Mizuta menoleh ke belakang, Takashi sudah berdiri di sana dengan wajah sebal.
" Pantas saja lama, ternyata kau kembali menemui cowomu yang di Jepang. " sindir Takashi kepada Ryota dengan tatapan sinis.
" Eh oh eh...gomenne Takashi - san, aku hanya kebetulan saja bertemu dengan Ryota. " jelas Mizuta kepada Takashi dengan wajah penuh penyesalan.
Reina hanya dapat memandangi ketiga orang di sekelilingnya. Ia tak tahu mengapa tiba - tiba ada hawa dingin yang menyelimuti ketiga orang itu, terlebih Takashi. Dan, ia tak mengerti isi pembicaraan Mizuta dan Takashi. Baginya, baru kali ini ia mendengar dua orang tidak berbicara dengan bahasa Inggris melainkan bahasa asing.
" Sebaiknya aku dan Reina pergi. Tak baik aku menguping pembicaraan dua orang yang sedang berantem. " akhirnya, Ryota dapat menemukan kembali suaranya. Ia langsung membalas pembicaraan kedua orang itu dengan bahasa asing yang tak dimengrti Reina. Ya, bahasa yang digunakan Mizuta, Takashi juga Ryota adalah bahasa Jepang.
" Pengecut amat lo...hahaha. Takut sama gue kan?! " saat Takashi melihat Ryota mulai bangkit dari tempat duduknya sambil memegangi tangan Reina, ia menyindir Ryota dengan nada ketus.
Ryota tak menghiraukan sindiran Takashi, ia hanya berlalu sembari bergegas membantu Reina membawa barang bawaanya. Ia hanya bisa memikirkan satu hal, yaitu kesalahan Mizuta dalam menjatuhkan pilihannya. Tetapi, Ryota langsung seperti patung begitu mendengar Mizuta bersuara.
" I know, I'm wrong about my choice. I know since my heart say that you're my destiny. I don't know why? But the important thing is I love you. I know you won't with me, maybe I'm too late to say this. You know why? Because I'm afraid if I'm losing you. I don't know my plans for my future when I know you won't with me. " seakan - akan Mizuta bisa menjawab pertanyaan yang berkecamuk sekian lama di dalam pikiran Ryota. Tetapi, entah mengapa, jawaban itu hanya seperti kertas kosong yang sudah terlanjur usang untuk disentuh oleh sebuah pena.
Takashi tak tahu isi pembicaraan Mizuta tadi karena ia tak bisa berbahasa Inggris. Tetapi, ketika ia melihat raut wajah Ryota, sepertinya pembicaraan Mizuta tadi cukup membuat Ryota hampir meneteskan air mata. " Sebaiknya aku menunggu di luar saja. " sebelum Mizuta sempat berbicara untuk menahan Takashi keluar dari cafe, Takashi sudah berjalan ke luar cafe. Entah mengapa, ia baru sadar sekarang mengenai perubahan sikap Mizuta beberapa bulan lalu saat dirinya menelefon untuk mengabari keadaanya.
Nafas Reina langsung tercekat saat mendengar pengakuan Mizuta kepada Ryota. Ia tak tahu, perasaan apa yang mendorong Mizuta untuk melakukan pengakuan di hadapan dirinya, Takashi, dan Ryota tadi. Udara di sekeliling Ryota dan Mizuta seakan - akan menjadi hangat. Rasanya dirinya ingin menarik Ryota keluar dari cafe dan menjauh dari Mizuta. Tetapi, sebagian dirinya berkata untuk membiarkan Ryota menanggapi dulu pengakuan dari Mizuta.
" I'm so sorry Mizuta but I don't know why my feeling doesn't same anymore. Now, I know what must I do for my future. This feeling which is I have, has answer by you right now. I don't know why my heart feel sad not happy. So, I'm so sorry to tell you this marriage. Me and Reina will have our marriage, maybe after I have graduate from my university. " setelah menjawab pengakuan dari Mizuta, tiba - tiba saja ada perasaan lega yang menyusupi hatinya. Reina pun ikut senang atas jawaban Ryota tetapi ia pun ikut merasakan kesedihan Mizuta. Dan Ryota baru menyadari satu hal, yaitu perasaanya sudah lama berubah semenjak ia mengenal Reina. Hanya sebagian dirinya yang mempertahankan jawaban atas perasaanya dari Mizuta. Setelah ia mendapat jawaban dari Mizuta, ia tahu bahwa ia bisa melanjutkan hidupnya bersama Reina.
" I know I'm too late. But I feel stupid to let you know what I feel right now. And I feel sad of your answer. Maybe, I must forget you, Ryota but I can't. I regret my answer. Now, what must I do? I don't know my plans for the future. Takashi give me his heart but I just make he sad and angry. So, what do you think about my relationship with Takashi? Broke up or not. " Mizuta sudah tak bisa lagi membendung air matanya. Ia begitu menyesal dengan penghianatannya terhadap Takashi. Saat Takashi mulai menerima dirinya, tiba - tiba saja hatinya berpaling. Ia tak tahu apa yang harus dikatakannya kepada Takashi mengenai isi hatinya. Ia takut kehilangan Takashi tetapi sebagian dirinya yang lain marah kepadanya. Haruskah aku putus dengan Takashi? Atau aku melanjutkan saja hubunganku dengan Takashi? Tapi, jika tetap kujalani, aku takut suatu hari nanti rahasia hati ini terbongkar dan membuat Takashi lebih sakit.
" Lebih baik kamu putus dengan Takashi. Dan lebih baik kamu mengasih tahu Takashi sekarang mengenai isi hatimu. Memberitahunya sekarang tak akan sesakit memberitahunya nanti ketika kau sudah siap. " entah dorongan apa yang membuat Ryota menjawab pertanyaan Mizuta dengan bahasa Jepang. Jawaban Ryota mampu membuat Takashi masuk kembali ke dalam cafe dan langsung meminta penjelasan dari Ryota.
" Maksud pernyataanmu tadi apa?! Apa salahnya jika Mizuta suka padaku?! " suara itu, suara yang dapat memekakkan telingan. Berat dan dingin.
" Lebih baik kau saja yang meminta penjelasan dari Mizuta. Aku masih banyak urusan yang harus diselesaikan. " balas Ryota dengan nada yang tak kalah berat dan dingin. Ia akhirnya melangkahkan kaki keluar dari kafe itu sendirian. Dan reaksi Reina saat melihat perdebatan Ryota, Mizuta juga Takashi hanya diam mematung. Saat Ryota melangkahkan kaki keluar dari kafe pun, Reina tak berusaha menahan atau mengejar. Ia berpikir bahwa Ryota memerlukan waktu sendiri saat ini.
" Maksud Ryota tadi apa Mizuta - san?! Aku tidak senang dibuat penasaran seperti ini?! " Takashi meminta penjelasan dari Mizuta mengenai omongan Ryota tadi. Tetapi, yang bisa dilakukan Mizuta hanya menangis. Bagi Takashi tangisan itu adalah jawaban atas semua pertanyaan di dalam hatinya selama beberapa bulan ini. " Jadi benar kamu suka Ryota?! " suara Takashi makin terdengar berat dan juga dingin. Tetapi untuk yang kesekian kalinya, Mizuta hanya bisa meneteskan air mata. Dan air mata itu pun menjadi jawaban atas pertanyaan Takashi.
Sakit
Rasa senang...
Perasaan bahagia...
Semua itu...
Hanya penghias hati...
Rasa sakit...
Perasaan yang dikelilingi kabut hitam
Lidah yang terasa pahit
Itulah arti padamnya api cinta
Bahagia diganti sedih
Senang dan senyum terganti oleh emosi juga tangis
Tertipu, tak berdaya
Cinta hanya sebuah kata kiasan
Bahagia itu...penyamaran
Sedih menandakan hentinya perjuangan
Dikecewakan...
Bahagia ialah tipuan di awal
Tangislah yang memerosokkan kita ke dalam jurang terjal dan dalam...
Perasaan bahagia...
Semua itu...
Hanya penghias hati...
Rasa sakit...
Perasaan yang dikelilingi kabut hitam
Lidah yang terasa pahit
Itulah arti padamnya api cinta
Bahagia diganti sedih
Senang dan senyum terganti oleh emosi juga tangis
Tertipu, tak berdaya
Cinta hanya sebuah kata kiasan
Bahagia itu...penyamaran
Sedih menandakan hentinya perjuangan
Dikecewakan...
Bahagia ialah tipuan di awal
Tangislah yang memerosokkan kita ke dalam jurang terjal dan dalam...
Jumat, 12 Juli 2013
Panas Api Tak Semembara Cinta
Panas tubuhku..
Berapi - api pikiranku...
Membakar setiap pori - pori...
Menyesakkan sampai ujung kuku...
Membara bagaikan api...
Menyulut emosi...
Ku sulit bernapas...
Ku sulit lepas...
Penghianatan, kesedihan, dan rapuh
Bahagia, indah, dan berbunga - bunga
Kau sudah berani....
Berani memainkan api dalam hatiku
Kebahagianku hanya ilusi
Kesedihanku ialah realita
Di dalam sini...
Kau telah menyulut api cinta
Berapi - api pikiranku...
Membakar setiap pori - pori...
Menyesakkan sampai ujung kuku...
Membara bagaikan api...
Menyulut emosi...
Ku sulit bernapas...
Ku sulit lepas...
Penghianatan, kesedihan, dan rapuh
Bahagia, indah, dan berbunga - bunga
Kau sudah berani....
Berani memainkan api dalam hatiku
Kebahagianku hanya ilusi
Kesedihanku ialah realita
Di dalam sini...
Kau telah menyulut api cinta
Jumat, 03 Mei 2013
Perasaanku Padamu Masih Sama
" Carseeeey!!! "
" Siapa itu? Pagi - pagi begini biasanya temen - temen kampus masih di jalan. " tanya Carsey dalam hati.
" Hey...lo gue panggil kok ngga nyaut. " sambung suara misterius itu.
Carsey langsung tersentak begitu teringat akan suara itu, suara yang selama 2 tahun telah mengisi hatinya dan juga menghancurkannya dalam beberapa bulan saja. Ia ingin menangis lagi begitu teringat kejadian 2 bulan lalu. " Hey,Cane...apa kabar? Akhirnya Carsey dapat menemukan kembali suaranya dan menjawab dengan nada senormal mungkin.
" Hey...kok lo tiba - tiba langsung murung gitu? Sorry, kalau gue nganggetin lo. " Cane menangkap wajah kebingungan Carsey. Ia juga sebenernya berusaha mengeluarkan suara dengan nada senormal mungkin.
" Oh eh...gue ke kelas duluan ya, Cane. Hehehe. Biasa ngerjain tugas. Bye. " Carsey tak sanggup lagi menahan air matanya dan untuk mejaga hatinya, ia memutuskan untuk menjauh dari Cane, mantan pacarnya. Walau terasa berat tapi itu adalah jalan yang terbaik.
" Oh ya nanti sore gue mau ke toko buku yang biasa. Lo mau ga nemenin gue? " tanya Cane dengan nada gugup.
" Maaf, nanti sore gue ada acara sama teman - teman les. Lo bisa kan cari teman yang lain untuk nemenin lo ke toko buku? " Ia akhirnya menumpahkan seluruh air mata untuk yang kesekian kalinya, rasa sakit itu kembali timbul. Ia berlari ke ruang kelasnya karena di sanalah tempat satu - satunya yang bisa ia jadikan tempat menangis, menumpahkan rasa sakit dan rindunya.
" Ya, ga apa - apa. " seperti dugaanya, Carsey menolak ajakan itu. Dan untuk yang kesekian kalinya, Cane merasa sangat menyesal atas tindakan bodoh yang ia lakukan 2 bulan lalu. Hubungannya dengan Carsey hancur karena satu tindakan bodoh, menembak cewek lain di depan Carsey. Walau ia tahu itu semua hanya permainan bodoh yang diciptakan teman - temanya tapi karena permainan itu pula hubungannya dengan Carsey hancur. " Aaaarrrggghhh...bodoh bodoh bodooooh!!! Kau kemanakan otakmu Cane, kau telah menyakiti cewe yang kau sayangi." bentak Cane kepada dirinya sendiri di dalam hati.
" Hai, Cane. Tak biasanya kau datang sepagi ini. Tadi aku sempat mampir ke rumahmu tapi adikmu bilang kau sudah pergi duluan ke kampus. Ada hal apa yang membuatmu datang sepagi ini?" suara itu, suara yang sangat dibenci Cane. " Hello. Kau dengar tidak sih?'
" Iya iya, aku mendengarmu nenek sihiiir!! Ada apa kau mencariku??!!! Aku tak butuh dirimu. Yang aku butuhkan Carsey. " walau Cane berbicara dengan nada normal tetapi itu lebih mirip teriakan dan bentakan di telinga Anne. " Aku mau ke perpustakaan dulu. " Cane mengakhiri bicaranya dengan nada yang sangat ketus.
" Kenapa sih yang ada di pikiranmu cuma si cewe egois, cengeng, cemburuan kaya si Carsey. " teriak Anne dengan suara lantang kepada Cane. Ia kesal karena semenjak ia bertemu Cane 5 bulan lalu, Cane tak pernah meliriknya sedikit pun.
" Itu semua karena Carsey bukan cewe matre, cerewet, cemburuan, pembuat sensasi seperti kau, Anne!!! " tepat sebelum Cane menginjak anak tangga yang ke dua, Cane membalas teriakan Anne dengan suara yang sangat sangat ketus. " Dan Carsey bukan cewe pembuat sensasi, ia cewe pandai yang selalu juara di kelas dan kampusnya!!! Bukan seperti kau, cewe yang hanya mengandalkan kecantikan dan kekayaan saja!! " lanjut Cane dengan suara lantang dan ketus. Dan omongan Cane tadi cukup membuat Anne lari masuk ke dalam kelasnya yang berada tepat di sebelahnya.
"Kenapa sih hati Cane susah sekali ditaklukkana olehku??! Padahal masih banyak cowo yang mau denganku tetapi yang aku mau hanya Cane. Cane harus bisa melupakan si Carsey. Haruuuus!!! " ambisi dalam hati dan pikiran Anne sudah tak bisa diredam lagi. Ia sangat mengagumi Cane semenjak ia melihat Cane bermain basket bersama Carsey 6 bulan lalu dan tak butuh lama untuk merubah rasa kagum itu menjadi suka di hati Anne. Karena bagi Anne tak ada cowo yang tak bisa ia taklukkan, kecuali Cane. Karena hati Cane sudah terkunci dengan Carsey sebab hanya Carsey satu - satunnya perempuan yang mengertinya dalam segala hal.
Saat sedang menangis di dalam kelas tiba - tiba ada yang mendatangi Carsey, dan orang itu adalah Husto, cowo yang menyukainnya semenjak ia masih bersama Cane. Dan ia pula yang telah menyusun rencana bersama Anne 2 bulan lalu agar hubungan Cane dan Carsey berakhir. Ia dan
Anne menyusun rencana dengan menyuap beberapa teman Cane agar mereka mau diajak bermain " Pemerintahan ", saat teman - teman Cane mau diajak berkompromi, mereka mulai mengajak Cane
dengan segala bujukkan dan akhirnya Cane mau ikut bermain. Sesuai rencana saat bagian Cane
untuk diperintah, Husto menyuruh Cane menembak Anne di depan Carsey. Bodohnya, Cane mau
menuruti perintah Husto, dengan senyum setan Husto dan Anne saling mengedipkan mata, tanda
rencana mereka berhasil. Dan benar saja, saat Carsey melihat Cane menembak Anne, hatinya
langsung hancur seperti ditabrak oleh tank baja. Carsey langsung lari ke kamar mandi dan menangis
sepuasnya sedangkan Cane berusaha mengejarnya tetapi Anne menahannya dengan berkata, " Aku
belum memberimu jawaban, Cane. Dan jawabanku adalah ya. Ya aku mau menjadi pacarmu. " saat
itu juga, Anne memperlebar senyumnya karena kemungkinan besar rencananya akan berhasil tetapi
Cane menjawab dengan nada yang sangat kasar bagi Anne, " Aku tak akan pernah mau menjadi
pacarmu, Anne. Cintaku hanya milik Carsey seorang. Dan ini hanyalah sebuah permainan bodoh
dengan orang - orang bodoh yang mau mengikutinya. Dan aku termasuk orang - orang itu. " Cane
mengucapkan kalimat yang cukup membuat Anne menjerit dalam hatinya. Malamnya
Carsey menelfon Cane dan mereka putus malam itu juga.
Husto dan Anne memiliki ambisi yang sama dan untuk rencana selanjutnya mereka berdua akan bekerja sama lagi untuk membuat Carsey dan Cane melupakan satu sama lain. Tetapi sebenarnya Husto merasa kasihan kepada Carsey karena ia melakukan ini semua untuk Anne bukan Carsey. Husto menyukai Anne semenjak SMP tetapi ia tak pernah bisa mendekati Anne karena Anne selalu menghindar darinya setiap dia berusaha mengajak ngobrol. Tapi 2 bulan lalu bagaikan mimpi bagi Husto karena ia tak hanya bisa dekat dengan Anne tapi ia juga bisa menyusun rencana untuk menghancurkan hubugan Carsey dan Cane bersama Anne. Anne sudah memiliki rencana selanjutnya, yaitu membuat Husto dan Carsey jadian bagaimana pun caranya. Bahkan ia rela mengorbankan perasaanya pada Husto demi membalas dendam kepada Carsey karena telah merebut perhatian Husto selama semester 1.
Siang itu sepulang sekolah, Husto dan Anne janjian untuk bertemu di gerbang sekolah. Mereka mulai menyusun rencana sehalus mungkin agar Cane dan Carsey tak curiga. Tetapi sayang saat itu Bond menguping pembicaraan Husto dan Anne. Ia langsung menghampiri ke dua orang itu dan menyindir mereka dengan nada sinis. " Oh, jadi ini biang keladinya. Belum puas ya kalian membuat Cane dan Carsey, pasangan favorit di sekolah ini menangis. " saat Husto dan Anne mendengar ada seseorang yang menghampiri mereka, mereka langsung takut bercampur rasa kaget. " Kenapa?! Kalian kaget atas kehadiranku di sini. Kalian kira selama ini aku tidak curiga dengan kelakuan kalian. Asal kalian tahu, selama ini aku selalu mengikuti kalian. Dan benar saja rasa curigaku selama 2 bulan ini. " sambung suara itu dengan nada sinis yang sangat ketus dan dapat membuat telinga menangis. Anne sadar terlebih dahulu untuk melirik ke belakang, ia mau tahu siapa yang baru saja menyidirnya dengan Husto. Saat ia melihat Bond di sana, ada sedikit perasaan lega tetapi perasaan takut itu belum hilang karena semua pembicaraannya dengan Husto terdengar ole Bond. " Bo, bond. Ada urusan apa kau di sini? Menguping pembicaraan itu tidak baik tahu! " Balas Anne dengan suara yang lebih ketus dari suara Bond tadi. " Oh, masih ada yang pura - pura bego di sini ya. Hei, Husto kenapa kau diam saja! Kau tinggi, pintar, cakep tapi kau tidak sepintar yang kukira karena lo mau nurutin semua omongan nenek sihir ini! " sindir Bond dengan nada yang sangat sangat ketus kepada Anne dan Husto. Saat itu juga, murid - murid yang berada di kantin dan kelas langsung menuju gerbang kampus untuk mengetahui siapa yang sedang berdebat di sana karena murid - murid lain sedang bergosip bahwa ada pertengkaran hebat di gerbang kampus tak terkecuali Carsey.
" Eh, ada apaan sih?? Kok anak - anak pada lari ke gerbang. " tanya Carsey pada Evina, teman sebangkunya.
" Oh lo emang ga denger apa kata anak - anak tadi??? Ada yang bertengkar di gerbang dan katanya sih yang lagi bertengkar itu si Bond sama Anne. " Cerocos Evina panjang lebar. Ia cukup heran terhadap Carsey karena semenjak hubungannya dengan Cane berakhir, Carsey lebih sering diam. Berbeda dari Carsey yang dulu.
" Oh gitu doang, gue kira apaan. Ya udah gue ke sana dulu ya. Mungkin aja bisa jadi ide makalah kelompok kita. Ngomong - ngomong lo ga ke sana? " Walau Carsey tak terlalu peduli dengan pertengkaran itu tetapi baginya makalah kelompok lebih penting daripada rasa cueknya. Jadi ia memutuskan untuk ke gerbang kampus, mungkin saja ia bisa mendapat ide untuk topik permasalahan - permasalahan di kampus yang diberikan kepada kelompoknya.
" Hmm...mau sih tapi kaki gue lagi males menginjak tanah. Hehehe. " Jawab Evina sekenanya, karena hari ini ia sedang malas berbicara. Itu semua karena adiknya.
" Tumben nih, biasanya lo semangat klo masalah beginian. " Ledek Carsey dengan nada bercanda. Dan setelah itu, ia langsung kabur untuk menghindari amukan Evina.
Saat Carsey sampai di gerbang kampus, ia merasa kaget dengan melihat rasa amarah Bond yang tersirat di wajahnya. " Booooond, STOP!!!!!!!!! Percuma lo bertengkar sama si nenek sihir ini. Dia ga akan pernah nyadar posisinya itu harusnya di mana. " Teriak Carsey kepada Bond dengan nada lantang. Ia juga ingin tahu reaksi Anne setelah mendengar perkataanya. Dan sesuai dugaanya, Anne langsung kaget dan gugup ketika ia mendengar perkataanya. " Gue udah tahu siapa yang bikin hubungan gue sama Cane hancur semenjak sebulan lalu. " Sambung Carsey, ia ingin sekali memyindir Anne tetapi ia tidak bisa. Karena kejahatan dibalas kejahatan tak akan menyelesaikan masalah.
" Carseeey!! Klo lo udah tahu kenapa lo diemin nih dua manusia egois terutama si Anne! " rasa marah yang daritadi sudah berusaha ditahan oleh Bond akhirnya keluar juga. Ia marah sangat sangat marah. Ia gak mau pasangan favorit di sekolahnya berpisah hanya karena seorang cewe yang kurang perhatian dari keluarganya.
" Ngapain juga gue ngelabrak mereka berdua. Buang - buang tenaga aja ntar gue. Lebih baik gue diemin biar nanti kebusukkan mereka berdua kebongkar dengan sendirinya. " kalimat terakhir yang diucapkan Carsey tadi mampu membuat Anne bersuara.
" Gue begini karena lo udah ngerebut perhatian Husto abis itu Cane. Asal lo tahu ya anak sok pinter! Gue suka sama Husto udah dari kelas 2 SMA! Tapi semenjak Husto kenal sama lo, dia mulai ngejauhin gue. Dan untuk ngebales rasa sakit yang gue alamin, lo juga harus ngalaminnya juga. Makanya gue pura - pura suka sama Cane biar lo cemburu. Setelah lo cemburu dan merasakan sakit yang gue rasakan baru gue puas! " Anne sudah tak peduli dengan kekagetan Husto dan Bond. Ia sekarang lebih mementingkan kebodohannya karena telah membongkar sebagian kecil rahasia dirinya. Dan Carsey tentu saja tak kaget karena ia merasa bahwa ada sesuatu yang harus dikatan dengan jujur dan perkataan Anne tadi cukup membuatnya yakin untuk kembali kepada Cane.
" Jadi lo ngerasain apa yang gue rasain?! Kenapa lo ga jujur dari awal Anne?! Klo lo ngebales perasaan gue, gue jadi ga usah pura - pura deket sama Carsey untuk buat lo cemburu. " giliran Husto yang membuka suara dan semua perkataanya tadi sudah membuat semuanya jelas. Husto sendiri tak merasa bodoh juga malu karena setelah mengatakan perasaanya yang sejujurnya kepada gadis tercantik di kampusnya, ia merasakan perasaan lega. Ternyata cintanya terbalas.
Setelah mendengar pengakuan kedua orang itu, Carsey berlari kembali ke dalam kampusnya. Ia sedang menuju kelas Cane ketika ia melihat Cane pingsan di depan kelasnya. " Ada apa dengan Cane? " Rasa panik langsung menyergap hati Carsey. Ia takut penyakit tahunan yang dialami Cane kembali kambuh. Tetapi setelah 10 menit Cane pingsan, cowo itu bangun dengan senyum khasnya.
" Katanya sudah tak mau peduli. Kok aku cuma pura - pura pingsan saja kau sudah panik. Bagaimana kalau aku pingsan beneran? " Seketika itu juga Cane tertawa terbahak - bahak bersama teman - teman kelasnya. Ternyata teman - teman kelasnya telah sepakat untuk membantu Cane mengetest rasa perhatian Carsey. Dan ternyata berhasil, Carsey masih perhatian kepadanya seperti dulu.
" Oh jadi tadi cuma pura - pura? Dasar pangeran drama, semua serba dibawa sedih. " Carsey berusaha untuk membalas kejahilan Cane dengan sikap sinis. Tapi, yang terjadi malah ia ikut tertawa bersama Cane dan teman - temannya.
" Jadi gimana nih kelanjutannya? Kita mau terus diem - dieman ato kembali merajut benang yang sudah putus? " goda Cane.
" Ah, kata - kata lo sok puitis. Wkwk...hmm yang mana ya? " balas Carsey dengan kejahilan yang dapat membuat hati Cane berdebar. " Kayanya diem - dieman aja deh. " lanjut Carsey. Dan di dalam hatinya ia tertawa terbahak - bahak. Rasakan itu, tawa Carsey dalam hatinya.
" Yah...ga jadi ngerayain hari bahagia dong. " balas Cane dengan nada pura - pura sedih.
" Ga deng...aku mau kok jadi benang untuk menutup luka hatimu. " balas Carsey tak kalah puitisnya.
" Yeay. Hari ini jadi traktirannya teman - teman. " teriak Cane kepada teman - teman kelasnya. dan teman - teman kelasnya menyambut ajakan itu dengan sorak gembira.
" Yeah. Pasangan favorit kampus kita balikkan. Ada panutan lagi nih untuk jadi percontohan hubungan kocak melankolis apa lagi ya? " goda salah satu teman Cane dan Carsey, Evina.
" Eh Evina, katanya lagi males nginjek tanah kok malah jalan - jalan. " balas Carsey dengan nada sok nyindir. Lalu ia dan Evina tertawa terbahak - bahak.
" Lo gampang aja yak gue begoin. Emang sih soal matematika lo jago tapi soal tipu - menipu gue jagonya. " setelah menggoda Carsey, ia langsung kabur. Karena feelingnya mengatakan Carsey akan mengejarnya dan benar saja. Carsey mengejarnya memutari lapangan kampus sambil membawa - bawa pengki. Murid - murid kampus yang sudah mendengar berita bahagia tentang pasangan favorit kampus mereka pun langsung datang ke kelas Cane dan ikut menonton adegan lucu itu.
" Siapa itu? Pagi - pagi begini biasanya temen - temen kampus masih di jalan. " tanya Carsey dalam hati.
" Hey...lo gue panggil kok ngga nyaut. " sambung suara misterius itu.
Carsey langsung tersentak begitu teringat akan suara itu, suara yang selama 2 tahun telah mengisi hatinya dan juga menghancurkannya dalam beberapa bulan saja. Ia ingin menangis lagi begitu teringat kejadian 2 bulan lalu. " Hey,Cane...apa kabar? Akhirnya Carsey dapat menemukan kembali suaranya dan menjawab dengan nada senormal mungkin.
" Hey...kok lo tiba - tiba langsung murung gitu? Sorry, kalau gue nganggetin lo. " Cane menangkap wajah kebingungan Carsey. Ia juga sebenernya berusaha mengeluarkan suara dengan nada senormal mungkin.
" Oh eh...gue ke kelas duluan ya, Cane. Hehehe. Biasa ngerjain tugas. Bye. " Carsey tak sanggup lagi menahan air matanya dan untuk mejaga hatinya, ia memutuskan untuk menjauh dari Cane, mantan pacarnya. Walau terasa berat tapi itu adalah jalan yang terbaik.
" Oh ya nanti sore gue mau ke toko buku yang biasa. Lo mau ga nemenin gue? " tanya Cane dengan nada gugup.
" Maaf, nanti sore gue ada acara sama teman - teman les. Lo bisa kan cari teman yang lain untuk nemenin lo ke toko buku? " Ia akhirnya menumpahkan seluruh air mata untuk yang kesekian kalinya, rasa sakit itu kembali timbul. Ia berlari ke ruang kelasnya karena di sanalah tempat satu - satunya yang bisa ia jadikan tempat menangis, menumpahkan rasa sakit dan rindunya.
" Ya, ga apa - apa. " seperti dugaanya, Carsey menolak ajakan itu. Dan untuk yang kesekian kalinya, Cane merasa sangat menyesal atas tindakan bodoh yang ia lakukan 2 bulan lalu. Hubungannya dengan Carsey hancur karena satu tindakan bodoh, menembak cewek lain di depan Carsey. Walau ia tahu itu semua hanya permainan bodoh yang diciptakan teman - temanya tapi karena permainan itu pula hubungannya dengan Carsey hancur. " Aaaarrrggghhh...bodoh bodoh bodooooh!!! Kau kemanakan otakmu Cane, kau telah menyakiti cewe yang kau sayangi." bentak Cane kepada dirinya sendiri di dalam hati.
" Hai, Cane. Tak biasanya kau datang sepagi ini. Tadi aku sempat mampir ke rumahmu tapi adikmu bilang kau sudah pergi duluan ke kampus. Ada hal apa yang membuatmu datang sepagi ini?" suara itu, suara yang sangat dibenci Cane. " Hello. Kau dengar tidak sih?'
" Iya iya, aku mendengarmu nenek sihiiir!! Ada apa kau mencariku??!!! Aku tak butuh dirimu. Yang aku butuhkan Carsey. " walau Cane berbicara dengan nada normal tetapi itu lebih mirip teriakan dan bentakan di telinga Anne. " Aku mau ke perpustakaan dulu. " Cane mengakhiri bicaranya dengan nada yang sangat ketus.
" Kenapa sih yang ada di pikiranmu cuma si cewe egois, cengeng, cemburuan kaya si Carsey. " teriak Anne dengan suara lantang kepada Cane. Ia kesal karena semenjak ia bertemu Cane 5 bulan lalu, Cane tak pernah meliriknya sedikit pun.
" Itu semua karena Carsey bukan cewe matre, cerewet, cemburuan, pembuat sensasi seperti kau, Anne!!! " tepat sebelum Cane menginjak anak tangga yang ke dua, Cane membalas teriakan Anne dengan suara yang sangat sangat ketus. " Dan Carsey bukan cewe pembuat sensasi, ia cewe pandai yang selalu juara di kelas dan kampusnya!!! Bukan seperti kau, cewe yang hanya mengandalkan kecantikan dan kekayaan saja!! " lanjut Cane dengan suara lantang dan ketus. Dan omongan Cane tadi cukup membuat Anne lari masuk ke dalam kelasnya yang berada tepat di sebelahnya.
"Kenapa sih hati Cane susah sekali ditaklukkana olehku??! Padahal masih banyak cowo yang mau denganku tetapi yang aku mau hanya Cane. Cane harus bisa melupakan si Carsey. Haruuuus!!! " ambisi dalam hati dan pikiran Anne sudah tak bisa diredam lagi. Ia sangat mengagumi Cane semenjak ia melihat Cane bermain basket bersama Carsey 6 bulan lalu dan tak butuh lama untuk merubah rasa kagum itu menjadi suka di hati Anne. Karena bagi Anne tak ada cowo yang tak bisa ia taklukkan, kecuali Cane. Karena hati Cane sudah terkunci dengan Carsey sebab hanya Carsey satu - satunnya perempuan yang mengertinya dalam segala hal.
Saat sedang menangis di dalam kelas tiba - tiba ada yang mendatangi Carsey, dan orang itu adalah Husto, cowo yang menyukainnya semenjak ia masih bersama Cane. Dan ia pula yang telah menyusun rencana bersama Anne 2 bulan lalu agar hubungan Cane dan Carsey berakhir. Ia dan
Anne menyusun rencana dengan menyuap beberapa teman Cane agar mereka mau diajak bermain " Pemerintahan ", saat teman - teman Cane mau diajak berkompromi, mereka mulai mengajak Cane
dengan segala bujukkan dan akhirnya Cane mau ikut bermain. Sesuai rencana saat bagian Cane
untuk diperintah, Husto menyuruh Cane menembak Anne di depan Carsey. Bodohnya, Cane mau
menuruti perintah Husto, dengan senyum setan Husto dan Anne saling mengedipkan mata, tanda
rencana mereka berhasil. Dan benar saja, saat Carsey melihat Cane menembak Anne, hatinya
langsung hancur seperti ditabrak oleh tank baja. Carsey langsung lari ke kamar mandi dan menangis
sepuasnya sedangkan Cane berusaha mengejarnya tetapi Anne menahannya dengan berkata, " Aku
belum memberimu jawaban, Cane. Dan jawabanku adalah ya. Ya aku mau menjadi pacarmu. " saat
itu juga, Anne memperlebar senyumnya karena kemungkinan besar rencananya akan berhasil tetapi
Cane menjawab dengan nada yang sangat kasar bagi Anne, " Aku tak akan pernah mau menjadi
pacarmu, Anne. Cintaku hanya milik Carsey seorang. Dan ini hanyalah sebuah permainan bodoh
dengan orang - orang bodoh yang mau mengikutinya. Dan aku termasuk orang - orang itu. " Cane
mengucapkan kalimat yang cukup membuat Anne menjerit dalam hatinya. Malamnya
Carsey menelfon Cane dan mereka putus malam itu juga.
Husto dan Anne memiliki ambisi yang sama dan untuk rencana selanjutnya mereka berdua akan bekerja sama lagi untuk membuat Carsey dan Cane melupakan satu sama lain. Tetapi sebenarnya Husto merasa kasihan kepada Carsey karena ia melakukan ini semua untuk Anne bukan Carsey. Husto menyukai Anne semenjak SMP tetapi ia tak pernah bisa mendekati Anne karena Anne selalu menghindar darinya setiap dia berusaha mengajak ngobrol. Tapi 2 bulan lalu bagaikan mimpi bagi Husto karena ia tak hanya bisa dekat dengan Anne tapi ia juga bisa menyusun rencana untuk menghancurkan hubugan Carsey dan Cane bersama Anne. Anne sudah memiliki rencana selanjutnya, yaitu membuat Husto dan Carsey jadian bagaimana pun caranya. Bahkan ia rela mengorbankan perasaanya pada Husto demi membalas dendam kepada Carsey karena telah merebut perhatian Husto selama semester 1.
Siang itu sepulang sekolah, Husto dan Anne janjian untuk bertemu di gerbang sekolah. Mereka mulai menyusun rencana sehalus mungkin agar Cane dan Carsey tak curiga. Tetapi sayang saat itu Bond menguping pembicaraan Husto dan Anne. Ia langsung menghampiri ke dua orang itu dan menyindir mereka dengan nada sinis. " Oh, jadi ini biang keladinya. Belum puas ya kalian membuat Cane dan Carsey, pasangan favorit di sekolah ini menangis. " saat Husto dan Anne mendengar ada seseorang yang menghampiri mereka, mereka langsung takut bercampur rasa kaget. " Kenapa?! Kalian kaget atas kehadiranku di sini. Kalian kira selama ini aku tidak curiga dengan kelakuan kalian. Asal kalian tahu, selama ini aku selalu mengikuti kalian. Dan benar saja rasa curigaku selama 2 bulan ini. " sambung suara itu dengan nada sinis yang sangat ketus dan dapat membuat telinga menangis. Anne sadar terlebih dahulu untuk melirik ke belakang, ia mau tahu siapa yang baru saja menyidirnya dengan Husto. Saat ia melihat Bond di sana, ada sedikit perasaan lega tetapi perasaan takut itu belum hilang karena semua pembicaraannya dengan Husto terdengar ole Bond. " Bo, bond. Ada urusan apa kau di sini? Menguping pembicaraan itu tidak baik tahu! " Balas Anne dengan suara yang lebih ketus dari suara Bond tadi. " Oh, masih ada yang pura - pura bego di sini ya. Hei, Husto kenapa kau diam saja! Kau tinggi, pintar, cakep tapi kau tidak sepintar yang kukira karena lo mau nurutin semua omongan nenek sihir ini! " sindir Bond dengan nada yang sangat sangat ketus kepada Anne dan Husto. Saat itu juga, murid - murid yang berada di kantin dan kelas langsung menuju gerbang kampus untuk mengetahui siapa yang sedang berdebat di sana karena murid - murid lain sedang bergosip bahwa ada pertengkaran hebat di gerbang kampus tak terkecuali Carsey.
" Eh, ada apaan sih?? Kok anak - anak pada lari ke gerbang. " tanya Carsey pada Evina, teman sebangkunya.
" Oh lo emang ga denger apa kata anak - anak tadi??? Ada yang bertengkar di gerbang dan katanya sih yang lagi bertengkar itu si Bond sama Anne. " Cerocos Evina panjang lebar. Ia cukup heran terhadap Carsey karena semenjak hubungannya dengan Cane berakhir, Carsey lebih sering diam. Berbeda dari Carsey yang dulu.
" Oh gitu doang, gue kira apaan. Ya udah gue ke sana dulu ya. Mungkin aja bisa jadi ide makalah kelompok kita. Ngomong - ngomong lo ga ke sana? " Walau Carsey tak terlalu peduli dengan pertengkaran itu tetapi baginya makalah kelompok lebih penting daripada rasa cueknya. Jadi ia memutuskan untuk ke gerbang kampus, mungkin saja ia bisa mendapat ide untuk topik permasalahan - permasalahan di kampus yang diberikan kepada kelompoknya.
" Hmm...mau sih tapi kaki gue lagi males menginjak tanah. Hehehe. " Jawab Evina sekenanya, karena hari ini ia sedang malas berbicara. Itu semua karena adiknya.
" Tumben nih, biasanya lo semangat klo masalah beginian. " Ledek Carsey dengan nada bercanda. Dan setelah itu, ia langsung kabur untuk menghindari amukan Evina.
Saat Carsey sampai di gerbang kampus, ia merasa kaget dengan melihat rasa amarah Bond yang tersirat di wajahnya. " Booooond, STOP!!!!!!!!! Percuma lo bertengkar sama si nenek sihir ini. Dia ga akan pernah nyadar posisinya itu harusnya di mana. " Teriak Carsey kepada Bond dengan nada lantang. Ia juga ingin tahu reaksi Anne setelah mendengar perkataanya. Dan sesuai dugaanya, Anne langsung kaget dan gugup ketika ia mendengar perkataanya. " Gue udah tahu siapa yang bikin hubungan gue sama Cane hancur semenjak sebulan lalu. " Sambung Carsey, ia ingin sekali memyindir Anne tetapi ia tidak bisa. Karena kejahatan dibalas kejahatan tak akan menyelesaikan masalah.
" Carseeey!! Klo lo udah tahu kenapa lo diemin nih dua manusia egois terutama si Anne! " rasa marah yang daritadi sudah berusaha ditahan oleh Bond akhirnya keluar juga. Ia marah sangat sangat marah. Ia gak mau pasangan favorit di sekolahnya berpisah hanya karena seorang cewe yang kurang perhatian dari keluarganya.
" Ngapain juga gue ngelabrak mereka berdua. Buang - buang tenaga aja ntar gue. Lebih baik gue diemin biar nanti kebusukkan mereka berdua kebongkar dengan sendirinya. " kalimat terakhir yang diucapkan Carsey tadi mampu membuat Anne bersuara.
" Gue begini karena lo udah ngerebut perhatian Husto abis itu Cane. Asal lo tahu ya anak sok pinter! Gue suka sama Husto udah dari kelas 2 SMA! Tapi semenjak Husto kenal sama lo, dia mulai ngejauhin gue. Dan untuk ngebales rasa sakit yang gue alamin, lo juga harus ngalaminnya juga. Makanya gue pura - pura suka sama Cane biar lo cemburu. Setelah lo cemburu dan merasakan sakit yang gue rasakan baru gue puas! " Anne sudah tak peduli dengan kekagetan Husto dan Bond. Ia sekarang lebih mementingkan kebodohannya karena telah membongkar sebagian kecil rahasia dirinya. Dan Carsey tentu saja tak kaget karena ia merasa bahwa ada sesuatu yang harus dikatan dengan jujur dan perkataan Anne tadi cukup membuatnya yakin untuk kembali kepada Cane.
" Jadi lo ngerasain apa yang gue rasain?! Kenapa lo ga jujur dari awal Anne?! Klo lo ngebales perasaan gue, gue jadi ga usah pura - pura deket sama Carsey untuk buat lo cemburu. " giliran Husto yang membuka suara dan semua perkataanya tadi sudah membuat semuanya jelas. Husto sendiri tak merasa bodoh juga malu karena setelah mengatakan perasaanya yang sejujurnya kepada gadis tercantik di kampusnya, ia merasakan perasaan lega. Ternyata cintanya terbalas.
Setelah mendengar pengakuan kedua orang itu, Carsey berlari kembali ke dalam kampusnya. Ia sedang menuju kelas Cane ketika ia melihat Cane pingsan di depan kelasnya. " Ada apa dengan Cane? " Rasa panik langsung menyergap hati Carsey. Ia takut penyakit tahunan yang dialami Cane kembali kambuh. Tetapi setelah 10 menit Cane pingsan, cowo itu bangun dengan senyum khasnya.
" Katanya sudah tak mau peduli. Kok aku cuma pura - pura pingsan saja kau sudah panik. Bagaimana kalau aku pingsan beneran? " Seketika itu juga Cane tertawa terbahak - bahak bersama teman - teman kelasnya. Ternyata teman - teman kelasnya telah sepakat untuk membantu Cane mengetest rasa perhatian Carsey. Dan ternyata berhasil, Carsey masih perhatian kepadanya seperti dulu.
" Oh jadi tadi cuma pura - pura? Dasar pangeran drama, semua serba dibawa sedih. " Carsey berusaha untuk membalas kejahilan Cane dengan sikap sinis. Tapi, yang terjadi malah ia ikut tertawa bersama Cane dan teman - temannya.
" Jadi gimana nih kelanjutannya? Kita mau terus diem - dieman ato kembali merajut benang yang sudah putus? " goda Cane.
" Ah, kata - kata lo sok puitis. Wkwk...hmm yang mana ya? " balas Carsey dengan kejahilan yang dapat membuat hati Cane berdebar. " Kayanya diem - dieman aja deh. " lanjut Carsey. Dan di dalam hatinya ia tertawa terbahak - bahak. Rasakan itu, tawa Carsey dalam hatinya.
" Yah...ga jadi ngerayain hari bahagia dong. " balas Cane dengan nada pura - pura sedih.
" Ga deng...aku mau kok jadi benang untuk menutup luka hatimu. " balas Carsey tak kalah puitisnya.
" Yeay. Hari ini jadi traktirannya teman - teman. " teriak Cane kepada teman - teman kelasnya. dan teman - teman kelasnya menyambut ajakan itu dengan sorak gembira.
" Yeah. Pasangan favorit kampus kita balikkan. Ada panutan lagi nih untuk jadi percontohan hubungan kocak melankolis apa lagi ya? " goda salah satu teman Cane dan Carsey, Evina.
" Eh Evina, katanya lagi males nginjek tanah kok malah jalan - jalan. " balas Carsey dengan nada sok nyindir. Lalu ia dan Evina tertawa terbahak - bahak.
" Lo gampang aja yak gue begoin. Emang sih soal matematika lo jago tapi soal tipu - menipu gue jagonya. " setelah menggoda Carsey, ia langsung kabur. Karena feelingnya mengatakan Carsey akan mengejarnya dan benar saja. Carsey mengejarnya memutari lapangan kampus sambil membawa - bawa pengki. Murid - murid kampus yang sudah mendengar berita bahagia tentang pasangan favorit kampus mereka pun langsung datang ke kelas Cane dan ikut menonton adegan lucu itu.
Sabtu, 13 Oktober 2012
Ryota dan Mizuta
Suatu siang yang cerah, tak seperti biasanya udara di kota Yokohama sesejuk ini walau matahari sedang terik - teriknya mungkin atmosfir di kota itu mengikuti kedua orang yang sedang berjalan di bawahnya. Mereka adalah Mizuta dan Ryota, 2 orang sahabat yang sudah bersahabat sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar kelas 1.
Pada saat itu, Ryota melihat Mizuta diganggu oleh anak - anak kelas 2, Mizuta menangis sejadi - jadinya karena permenya diambil padahal permen itu pemberian neneknya tersayang. Ryota yang melihat kejadian itu langsung memukul kakak kelasnya dengan amarah yang tersirat di wajahnya, ia paling tidak bisa jika ada orang yang menyakiti anak perempuan. Kakak - kakak kelas itu langsung lari tunggang langgang karena terkena jurus karate Ryota, bakat alami yang sudah dimiliki keluarganya. Setelah selesai menghajar kakak kelasnya, ia langsung menghampiri anak perempuan itu dan berkenalan denganya.
" Ohayou gozaimasu, siapa namamu anak cantik? " Ryota tak bisa menahan tawanya ketika melihat wajah anak perempuan itu memerah.
" Ohayaou gozaimasu, nama saya Mizuta Namaki. Oh ya, arigatou gozaimasu karena kau telah menolongku tadi. Namamu siapa? " Mizuta mencoba mengendalikan rasa malunya, baru kali ini ia melihat anak laki - laki sebaik ini.
" Namaku Ryota Mizaku. Hai, daijyoubu. " Ryota memegang tangan Mizuta untuk membantu anak perempuan itu berdiri. Setelah kejadian itu, Ryota dan Mizuta jadi sering bertemu di perpustakaan atau kantin untuk sekadar mengobrol biasa sampai akhirnya mereka mulai menceritakan kesukaan dan ketidak sukaan mereka terhadap suatu barang sampai masalah yang sedang mereka hadapi. Karena alasan itu pula mereka menjadi sahabat sampai sekarang, mereka sudah menjadi sahabat selama 9 tahun lebih walau sekarang sudah menginjak bangku SMA.
Lama - lama perasaan yang hanya sekedar sahabat itu berubah, kini Ryota menganggap Mizuta lebih dari sahabat. Tetapi, Mizuta tetap menganggap Ryota sebagai sahabat yang baik karena ia menyukai pria lain, yaitu kakak kelasnya di klub basket. Suatu hari, Mizuta menghilang tanpa kabar, tak ada yang tahu keberadaanya termasuk Ryota. Ryota sampai khawatir dengan keadaan Mizuta takut - takut kalau terjadi sesuatu pada perempuan cengeng itu. Tapi kehawatiranya tak berarti apa - apa ketika sebulan setelah Mizuta menghilang, perempuan itu kembali muncul dengan nada cerianya seperti biasa. Saat pulang sekolah, Ryota mulai " menginterogasi " Mizuta dengan berbagai pertanyaan.
" Hei, Mizuta. Kok aku baru melihatmu lagi? Ke mana saja kau? Sudah 1 bulan terakhir tak ada kabar. " Bertanya terus - menerus tanpa menyadari raut wajah Mizuta yang kesal.
" Aku harus menemani kakeku di Sendai selama 1 bulan terakhir ini. Nenekku baru saja meninggal karena sakit jantung yang sudah di deritanya selama 3 tahun. Maaf aku lupa memberitahumu tetapi semenjak aku pergi sepertinya kau sekarang tambah banyak omong ya...hehehe. " Perasaan sedih tiba - tiba muncul tetapi semenjak dia bertemu Ryota 15 menit yang lalu perasaan itu berubah menjadi kekesalan juga keceriaan.
" Hei, kenapa kau? Apakah ada yang salah denganku? " Bertanya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Kau dari tadi bertanya terus, kapan sikapmu bisa berubah sudah SMA kelakuan masih seperti anak kecil. " Kekesalannya menjadi - jadi, kok bisa ya aku punya sahabat cowok tapi cerewet...hmmm...
" Apa??? Oh ya, Mizuta, aku turut berduka atas meninggalnya nenekmu. Maaf kalau aku bertanya terus - menerus seperti ini tapi aku kesepian. " Tiba - tiba saja ada sebersit nada sedih di dalam kata - katanya. " Eh, maksudku, aku tidak ada teman ngobrol. " Dia segera meralat perkataanya takut jika Mizuta curiga padanya.
" Oh ya, kita coba ramen yang di sana yuk...kata orang - orang ramen di sana cukup terkenal kekhasan bumbu dan aromanya. Apa kau tidak lapar? " Mencoba untuk mengalihkan pembicaraan karena sebenarnya dia sudah lapar daritadi.
" Tetapi kok banyak orang begitu ya? " Bingung karena banyak orang berkerumun di depan kedai ramen itu.
" Ah, sudah biasa kan ramenya enak. " Mencoba meyakinkan Ryota bahwa tidak terjadi apa - apa. Tetapi, sebenarnya dia juga bingung mengapa banyak orang berkerumun di depan kedai itu.
" Mungkin juga. " Ryota mencoba meyakinkan diri.
10 menit setelah Ryota dan Mizuta berjalan, akhirnya mereka pun sampai di depan kedai tetapi apa yang mereka temukan. Seorang perempuan paruh baya yang tergelatak tak bernyawa. Mereka pun mulai menyelidiki identitas wanita itu setelah mereka mengidentifikasi, mereka menemukan sebuah dompet, telepon selular, dan sebuah foto. Di dalam dompet mereka menemukan sebuah kartu nama dan setelah diselidiki ternyata wanita itu bernama Minami, bekerja di sebuah perusahan telekomunikasi terkemuka di Jepang. Lalu Ryota dan Mizuta mulai menanyai beberapa orang di kedai itu, setelah mereka bertanya kepada beberapa orang, ada yang mengatakan jika orang yang menemukanya pertama kali adalah seorang lelaki paruh baya kira - kira 30 menit yang lalu. Lelaki itu berpakaian feminim dan memakai anting. Ryota dan Mizuta pun kaget mendengar penjelasan salah satu saksi, " Berpakaian feminim dan memakai anting?? " Mereka berusaha untuk tidak kaget tetapi tidak bisa karena baru kali ini mereka mendengar seorang laki - laki berpakaian seperti wanita. Tiba - tiba ada seorang laki - laki yang datang ke kedai itu dan ada seseorang yang berteriak, " Nah, itu dia orangnya. " Ryota dan Mizuta pun langsung mengalihkan pandanganya ke laki - laki itu lalu mereka mulai mengintrogasi pemuda itu di sebuah ruangan, yaitu toilet.
" Siapa namamu? " Ryota memulai pertanyaan dengan nada curiga.
" Nama saya Soichi. " Menjawab dengan wajah gugup. " Ada urusan apa kau datang ke kedai ini? " Mizuta melanjutkan pertanyaan Ryota dengan wajah penuh curiga.
" Aku ingin mengambil kacamataku yang tertinggal di sini. " Masih menjawab dengan nada gugup dan gemetar.
" Kacamata ini maksudmu? " Mizuta tiba - tiba menunjukan sesuatu yang ditemukanya di meja dekat TKP kepada Soichi.
" I...i...iya, itu kacamata saya. Boleh saya mengambilnya? Karena saya masih mempunyai urusan yang lain. " Soichi makin gugup ketika dia melihat salah satu dari kedua anak itu menunjukan kacamatanya, bukan gugup karena suatu hal tetapi gugup karena ia takut akan ada reaksi luminol akibat noda darah dari sidik jarinya yang tertinggal di kacamatanya.
" Mengapa anda sangat gugup? Padahal kami tidak menanyakan,apakah anda membunuh perempuan paruh baya itu? " Ryota dan Mizuta semakin berani karena mereka sudah tahu bahwa di tangkai kacamata itu ada reaksi luminol dari noda darah dan mereka memang sengaja menyudutkan Soichi supaya Soichi cepat mengaku.
" Ti...tidaaak apa - apa. Saya hanya kaget ketika melihat seorang wanita paruh baya meninggal di depan mata saya. " Soichi tetap tidak mau mengaku karena ia takut masuk penjara. Terpaksa Ryota dan Mizuta meminta sidik jari lelaki itu tapi sebelum mereka meminta sidik jarinya, Soichi tiba - tiba saja berteriak dan kabur. Dan dia sempat mengatakan sesuatu dalam teriakanya, " Aku pembunuh wanita itu. " Ryota langsung mengejar Soichi tetapi Soichi berlari dengan cepat sehingga Ryota tak mampu mengejarnya sedangkan Mizuta tetap berada di tempat kejadian karena ia tiba - tiba teringat kejadian 3 tahun silam, seorang wanita paruh baya meninggal karena tertabrak sebuah mobil di dekat rumahnya cuma mobil itu langsung kabur meninggalkan wanita paruh baya itu. Akhirnya Mizuta mengejar Ryota untuk membantunya mengejar pelaku, tetapi 5 menit setelah ia keluar dari kedai ia menabrak seseorang dan orang itu adalah pelakunya. Soichi juga terlihat kaget bercampur takut, ia berusaha kabur tetapi kakinya seperti ada yang menahan, ternyata Mizuta sudah menangkap kedua kakinya dengan tali tas yang dipukulkan ke kakinya. Ryota datang tepat pada waktunya dengan segera ia membantu Mizuta untuk menangkap pelaku, akhirnya pelaku menyerah dan setuju untuk dibawa ke kantor polisi. Di kantor polisi Soichi mengaku bahwa ia membunuh wanita itu dengan sengaja karena ia dendam pada orang yang telah menabrak istrinya, menurut saksi mata pada kejadian tabrak lari 3 tahun silam, yang menabrak istrinya adalah seorang wanita paruh baya. Mulai saat itu, Soichi dendam kepada setiap wanita paruh baya tak peduli wanita itu pelaku yang menabrak istrinya atau bukan. Soichi hanya menginkan pembalasan dendam atas istrinya yang meninggal 3 tahun silam. Setelah selesai menemani pelaku sebagai saksi, Ryota dan Mizuta pulang ke rumah masing - masing. Tepat di persimpangan jalan menuju rumah Mizuta, Ryota mengatakan sesuatu yang mengagetkan Mizuta.
" Aku menyukaimu Mizuta lebih dari sekedar sahabat. " Ryota mengungkapkan perasaanya dengan sangat yakin tapi harapanya pupus setelah ia mendengar jawaban Mizuta, " Maaf, Ryota, aku menyukai Kak Takahashi di klub basket. Mungkin kita hanya bisa menjadi sahabat. Sekali lagi maaf, Ryota, aku tidak bisa menyukaimu. Konbanwa. " katanya.
" Konbanwa, Mizuta-san. Ehm, aku bisa mengerti. Terima kasih kau sudah mau jujur untuk menjawab perasaanku, sekarang aku bisa tenang. Semoga kau bahagia, Mizuta. " Tetapi saat ia menoleh ke arah tempat Mizuta berdiri tadi, Mizuta sudah tidak ada. Perempuan cengeng itu sekarang telah berubah menjadi dewasa dan mungkin Ryota harus bersiap untuk kehilangan sahabat sekaligus orang yang disukainya.
" Goodbye, Mizuta. Besok aku akan pergi ke Jerman karena ayahku dipindah tugaskan. Semoga kau bahagia. " Ryota berbicara kepada bintang pada saat gelapnya malam dan ia mulai berjalan ke rumahnya. Keesokan harinya, saat Mizuta datang ke sekolah, ia tak melihat Ryota di gerbang, kelas atau kantin. Ia merasa bersalah karena meninggalkan Ryota sendirian semalam setelah pembicaraan mereka. Mizuta mulai bertanya kepada teman - teman kelas Ryota tapi tak ada yang tahu ke mana Ryota pergi. Saat pulang sekolah, Mizuta langsung pergi ke rumah Ryota tapi apa yang ia temukan sungguh membuat hatinya remuk. Ia menemukan sebuah surat perpisahan dari Ryota untuk dirinya, di surat itu tertulis salam perpisahan karena Ryota akan ikut bersama ayahnya ke Jerman dan kenangan - kenangan mereka selama menjadi sahabat. Di akhir kalimat, Ryota menuliskan sebuah kalimat yang membuat hati Mizuta menangis, " Hai cewe cengengku, jangan lupakan persahabatan kita ya walau kita sudah berbeda negara jangan lupakan aku, hatiku tetap menjadi milikmu...Semoga kita bisa bertemu kembali suatu hari nanti. Sampai jumpa. " Saat membaca kalimat itu, Mizuta terus menerus menangis, tiba - tiba di kepalanya berputar seluruh kenang - kenanganya bersama Ryota. Jujur, di dalam hatinya, Mizuta meneriakkan nama Ryota walau cowo itu menyebalkan tapi hanya dia yang mengerti permasalahanya dan sekarang semua itu hanya akan menjadi kenangan. Membayangkan harinya tanpa Ryota di sisinya membuat Mizuta ingin mencegat Ryota untuk pergi tetapi itu semua mungkin sudah terlambat. Sangat terlambat, jerit Mizuta dalam hatinya.
Pada saat itu, Ryota melihat Mizuta diganggu oleh anak - anak kelas 2, Mizuta menangis sejadi - jadinya karena permenya diambil padahal permen itu pemberian neneknya tersayang. Ryota yang melihat kejadian itu langsung memukul kakak kelasnya dengan amarah yang tersirat di wajahnya, ia paling tidak bisa jika ada orang yang menyakiti anak perempuan. Kakak - kakak kelas itu langsung lari tunggang langgang karena terkena jurus karate Ryota, bakat alami yang sudah dimiliki keluarganya. Setelah selesai menghajar kakak kelasnya, ia langsung menghampiri anak perempuan itu dan berkenalan denganya.
" Ohayou gozaimasu, siapa namamu anak cantik? " Ryota tak bisa menahan tawanya ketika melihat wajah anak perempuan itu memerah.
" Ohayaou gozaimasu, nama saya Mizuta Namaki. Oh ya, arigatou gozaimasu karena kau telah menolongku tadi. Namamu siapa? " Mizuta mencoba mengendalikan rasa malunya, baru kali ini ia melihat anak laki - laki sebaik ini.
" Namaku Ryota Mizaku. Hai, daijyoubu. " Ryota memegang tangan Mizuta untuk membantu anak perempuan itu berdiri. Setelah kejadian itu, Ryota dan Mizuta jadi sering bertemu di perpustakaan atau kantin untuk sekadar mengobrol biasa sampai akhirnya mereka mulai menceritakan kesukaan dan ketidak sukaan mereka terhadap suatu barang sampai masalah yang sedang mereka hadapi. Karena alasan itu pula mereka menjadi sahabat sampai sekarang, mereka sudah menjadi sahabat selama 9 tahun lebih walau sekarang sudah menginjak bangku SMA.
Lama - lama perasaan yang hanya sekedar sahabat itu berubah, kini Ryota menganggap Mizuta lebih dari sahabat. Tetapi, Mizuta tetap menganggap Ryota sebagai sahabat yang baik karena ia menyukai pria lain, yaitu kakak kelasnya di klub basket. Suatu hari, Mizuta menghilang tanpa kabar, tak ada yang tahu keberadaanya termasuk Ryota. Ryota sampai khawatir dengan keadaan Mizuta takut - takut kalau terjadi sesuatu pada perempuan cengeng itu. Tapi kehawatiranya tak berarti apa - apa ketika sebulan setelah Mizuta menghilang, perempuan itu kembali muncul dengan nada cerianya seperti biasa. Saat pulang sekolah, Ryota mulai " menginterogasi " Mizuta dengan berbagai pertanyaan.
" Hei, Mizuta. Kok aku baru melihatmu lagi? Ke mana saja kau? Sudah 1 bulan terakhir tak ada kabar. " Bertanya terus - menerus tanpa menyadari raut wajah Mizuta yang kesal.
" Aku harus menemani kakeku di Sendai selama 1 bulan terakhir ini. Nenekku baru saja meninggal karena sakit jantung yang sudah di deritanya selama 3 tahun. Maaf aku lupa memberitahumu tetapi semenjak aku pergi sepertinya kau sekarang tambah banyak omong ya...hehehe. " Perasaan sedih tiba - tiba muncul tetapi semenjak dia bertemu Ryota 15 menit yang lalu perasaan itu berubah menjadi kekesalan juga keceriaan.
" Hei, kenapa kau? Apakah ada yang salah denganku? " Bertanya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Kau dari tadi bertanya terus, kapan sikapmu bisa berubah sudah SMA kelakuan masih seperti anak kecil. " Kekesalannya menjadi - jadi, kok bisa ya aku punya sahabat cowok tapi cerewet...hmmm...
" Apa??? Oh ya, Mizuta, aku turut berduka atas meninggalnya nenekmu. Maaf kalau aku bertanya terus - menerus seperti ini tapi aku kesepian. " Tiba - tiba saja ada sebersit nada sedih di dalam kata - katanya. " Eh, maksudku, aku tidak ada teman ngobrol. " Dia segera meralat perkataanya takut jika Mizuta curiga padanya.
" Oh ya, kita coba ramen yang di sana yuk...kata orang - orang ramen di sana cukup terkenal kekhasan bumbu dan aromanya. Apa kau tidak lapar? " Mencoba untuk mengalihkan pembicaraan karena sebenarnya dia sudah lapar daritadi.
" Tetapi kok banyak orang begitu ya? " Bingung karena banyak orang berkerumun di depan kedai ramen itu.
" Ah, sudah biasa kan ramenya enak. " Mencoba meyakinkan Ryota bahwa tidak terjadi apa - apa. Tetapi, sebenarnya dia juga bingung mengapa banyak orang berkerumun di depan kedai itu.
" Mungkin juga. " Ryota mencoba meyakinkan diri.
10 menit setelah Ryota dan Mizuta berjalan, akhirnya mereka pun sampai di depan kedai tetapi apa yang mereka temukan. Seorang perempuan paruh baya yang tergelatak tak bernyawa. Mereka pun mulai menyelidiki identitas wanita itu setelah mereka mengidentifikasi, mereka menemukan sebuah dompet, telepon selular, dan sebuah foto. Di dalam dompet mereka menemukan sebuah kartu nama dan setelah diselidiki ternyata wanita itu bernama Minami, bekerja di sebuah perusahan telekomunikasi terkemuka di Jepang. Lalu Ryota dan Mizuta mulai menanyai beberapa orang di kedai itu, setelah mereka bertanya kepada beberapa orang, ada yang mengatakan jika orang yang menemukanya pertama kali adalah seorang lelaki paruh baya kira - kira 30 menit yang lalu. Lelaki itu berpakaian feminim dan memakai anting. Ryota dan Mizuta pun kaget mendengar penjelasan salah satu saksi, " Berpakaian feminim dan memakai anting?? " Mereka berusaha untuk tidak kaget tetapi tidak bisa karena baru kali ini mereka mendengar seorang laki - laki berpakaian seperti wanita. Tiba - tiba ada seorang laki - laki yang datang ke kedai itu dan ada seseorang yang berteriak, " Nah, itu dia orangnya. " Ryota dan Mizuta pun langsung mengalihkan pandanganya ke laki - laki itu lalu mereka mulai mengintrogasi pemuda itu di sebuah ruangan, yaitu toilet.
" Siapa namamu? " Ryota memulai pertanyaan dengan nada curiga.
" Nama saya Soichi. " Menjawab dengan wajah gugup. " Ada urusan apa kau datang ke kedai ini? " Mizuta melanjutkan pertanyaan Ryota dengan wajah penuh curiga.
" Aku ingin mengambil kacamataku yang tertinggal di sini. " Masih menjawab dengan nada gugup dan gemetar.
" Kacamata ini maksudmu? " Mizuta tiba - tiba menunjukan sesuatu yang ditemukanya di meja dekat TKP kepada Soichi.
" I...i...iya, itu kacamata saya. Boleh saya mengambilnya? Karena saya masih mempunyai urusan yang lain. " Soichi makin gugup ketika dia melihat salah satu dari kedua anak itu menunjukan kacamatanya, bukan gugup karena suatu hal tetapi gugup karena ia takut akan ada reaksi luminol akibat noda darah dari sidik jarinya yang tertinggal di kacamatanya.
" Mengapa anda sangat gugup? Padahal kami tidak menanyakan,apakah anda membunuh perempuan paruh baya itu? " Ryota dan Mizuta semakin berani karena mereka sudah tahu bahwa di tangkai kacamata itu ada reaksi luminol dari noda darah dan mereka memang sengaja menyudutkan Soichi supaya Soichi cepat mengaku.
" Ti...tidaaak apa - apa. Saya hanya kaget ketika melihat seorang wanita paruh baya meninggal di depan mata saya. " Soichi tetap tidak mau mengaku karena ia takut masuk penjara. Terpaksa Ryota dan Mizuta meminta sidik jari lelaki itu tapi sebelum mereka meminta sidik jarinya, Soichi tiba - tiba saja berteriak dan kabur. Dan dia sempat mengatakan sesuatu dalam teriakanya, " Aku pembunuh wanita itu. " Ryota langsung mengejar Soichi tetapi Soichi berlari dengan cepat sehingga Ryota tak mampu mengejarnya sedangkan Mizuta tetap berada di tempat kejadian karena ia tiba - tiba teringat kejadian 3 tahun silam, seorang wanita paruh baya meninggal karena tertabrak sebuah mobil di dekat rumahnya cuma mobil itu langsung kabur meninggalkan wanita paruh baya itu. Akhirnya Mizuta mengejar Ryota untuk membantunya mengejar pelaku, tetapi 5 menit setelah ia keluar dari kedai ia menabrak seseorang dan orang itu adalah pelakunya. Soichi juga terlihat kaget bercampur takut, ia berusaha kabur tetapi kakinya seperti ada yang menahan, ternyata Mizuta sudah menangkap kedua kakinya dengan tali tas yang dipukulkan ke kakinya. Ryota datang tepat pada waktunya dengan segera ia membantu Mizuta untuk menangkap pelaku, akhirnya pelaku menyerah dan setuju untuk dibawa ke kantor polisi. Di kantor polisi Soichi mengaku bahwa ia membunuh wanita itu dengan sengaja karena ia dendam pada orang yang telah menabrak istrinya, menurut saksi mata pada kejadian tabrak lari 3 tahun silam, yang menabrak istrinya adalah seorang wanita paruh baya. Mulai saat itu, Soichi dendam kepada setiap wanita paruh baya tak peduli wanita itu pelaku yang menabrak istrinya atau bukan. Soichi hanya menginkan pembalasan dendam atas istrinya yang meninggal 3 tahun silam. Setelah selesai menemani pelaku sebagai saksi, Ryota dan Mizuta pulang ke rumah masing - masing. Tepat di persimpangan jalan menuju rumah Mizuta, Ryota mengatakan sesuatu yang mengagetkan Mizuta.
" Aku menyukaimu Mizuta lebih dari sekedar sahabat. " Ryota mengungkapkan perasaanya dengan sangat yakin tapi harapanya pupus setelah ia mendengar jawaban Mizuta, " Maaf, Ryota, aku menyukai Kak Takahashi di klub basket. Mungkin kita hanya bisa menjadi sahabat. Sekali lagi maaf, Ryota, aku tidak bisa menyukaimu. Konbanwa. " katanya.
" Konbanwa, Mizuta-san. Ehm, aku bisa mengerti. Terima kasih kau sudah mau jujur untuk menjawab perasaanku, sekarang aku bisa tenang. Semoga kau bahagia, Mizuta. " Tetapi saat ia menoleh ke arah tempat Mizuta berdiri tadi, Mizuta sudah tidak ada. Perempuan cengeng itu sekarang telah berubah menjadi dewasa dan mungkin Ryota harus bersiap untuk kehilangan sahabat sekaligus orang yang disukainya.
" Goodbye, Mizuta. Besok aku akan pergi ke Jerman karena ayahku dipindah tugaskan. Semoga kau bahagia. " Ryota berbicara kepada bintang pada saat gelapnya malam dan ia mulai berjalan ke rumahnya. Keesokan harinya, saat Mizuta datang ke sekolah, ia tak melihat Ryota di gerbang, kelas atau kantin. Ia merasa bersalah karena meninggalkan Ryota sendirian semalam setelah pembicaraan mereka. Mizuta mulai bertanya kepada teman - teman kelas Ryota tapi tak ada yang tahu ke mana Ryota pergi. Saat pulang sekolah, Mizuta langsung pergi ke rumah Ryota tapi apa yang ia temukan sungguh membuat hatinya remuk. Ia menemukan sebuah surat perpisahan dari Ryota untuk dirinya, di surat itu tertulis salam perpisahan karena Ryota akan ikut bersama ayahnya ke Jerman dan kenangan - kenangan mereka selama menjadi sahabat. Di akhir kalimat, Ryota menuliskan sebuah kalimat yang membuat hati Mizuta menangis, " Hai cewe cengengku, jangan lupakan persahabatan kita ya walau kita sudah berbeda negara jangan lupakan aku, hatiku tetap menjadi milikmu...Semoga kita bisa bertemu kembali suatu hari nanti. Sampai jumpa. " Saat membaca kalimat itu, Mizuta terus menerus menangis, tiba - tiba di kepalanya berputar seluruh kenang - kenanganya bersama Ryota. Jujur, di dalam hatinya, Mizuta meneriakkan nama Ryota walau cowo itu menyebalkan tapi hanya dia yang mengerti permasalahanya dan sekarang semua itu hanya akan menjadi kenangan. Membayangkan harinya tanpa Ryota di sisinya membuat Mizuta ingin mencegat Ryota untuk pergi tetapi itu semua mungkin sudah terlambat. Sangat terlambat, jerit Mizuta dalam hatinya.
Langganan:
Komentar (Atom)