Nala, Rena, dan Bart – tiga orang
sahabat yang sudah saling mengenal dari kecil. Mereka selalu berpergian secara
bersama – sama. Mereka pun memiliki hobi yang sama, yaitu penyuka lingkungan.
Kota yang mereka tempati memang sedikit kumuh, sampah, pengemis, wanita pria
atau waria, dan bandar narkoba bertebaran di mana – mana. Kota ini memiliki
nama yang cukup unik bagi orang – orang yang berwisata ke sini, Kota Fantasi.
Setiap orang bebas berimajinasi di kota ini, tak ada yang melarang.
Pada saat itu Nala kecil sedang bermain – main dengan tanaman
kesayangannya. Ia berpikir kalau tanaman ini hidup pasti akan sangat menarik
tapi bagaimana caranya? Setiap hari Nala selalu merawat tanamanya, ia masih
terus berharap dan berharap suatu hari nanti tanamannya dapat hidup, hidup
dalam arti yang sebenarnya. Suatu hari, Nala kecil sedang menyirami tanamnya
tapi ia begitu penasaran terhadap suara berisik dari rumah tetangganya. Ketika
ia iseng ingin mengerjai tetangganya itu, keisengannya berbalik kepadanya.
“ Hahahaha, liat mukamu. Mukamu lucu sekali gadis kecil. Maaf aku sudah
membuatmu terkejut. “ anak laki – laki dengan tinggi yang cukup membuat Nala
harus mendongak supaya bisa melihat wajahnya. Anak laki – laki yang sudah bisa
membuat Nala tertawa renya, tidak seperti biasanya. “ Kenalkan namanku Bart.
Kamu siapa dan apa yang kamu lakukan di sini? “ lanjut Bart. Ia agak sedikit
bingung juga ketika gadis imut yang berdiri di hadapannya ini hanya diam saja.
“ Hai, apa yang kamu lakukan tadi? Mm, kamu orang baru ya di sini? Oh
ya, namaku Nala kalau kamu siapa? “ akhirnya Nala dapat menemukan suaranya
kembali. Kalau ia terus menerus berdiam diri bisa disangka suka lagi.
“ Namaku Bart. Hem bisa dibilang begitu, aku baru pindah ke sini
beberapa hari yang lalu. Aku kira tak ada anak sebayaku di daerah ini tapi
ternyata aku salah. “ gadis ini menggemaskan sekali. Tawanya yang renyah,
tingkah lakunya yang lucu, dan suaranya yang cempreng itu membuat Bart sedikit
– terpana.
Semenjak hari itu, Nala dan Bart sering bermain bersama. Perlahan –
lahan Nala dapat melupakan keinginanya untuk melihat tanamanya hidup dan bisa
menemaninya bermain. Sekarang, Nala tak lagi merasa kesepian karena sudah ada
teman manusia yang menemaninya hampir setiap hari. Sampai suatu saat ada
seorang keluarga baru yang menghuni rumah di depan rumah Bart. Keluarga itu
memiliki anak perempuan sebaya Nala dan Bart. Anak perempuan ini agak sedikit
pemalu tapi kalau sudah kenal dengannya pemikiranmu dapat berubah. Perkenalan Bart
dan Nala dengan anak perempuan ini cukup aneh untuk diingat.
Saat itu, Rena, anak perempuan keluarga baru yang menetap di depan rumah
Bart sedang mengorek – ngorek tanah untuk mengambil cacing tanah yang berada di
dalamnya. Nala baru saja pulang dari sekolah ketika ia melihat kegiatan yang
dilakukan oleh Rena. Ia pun mampir sebentar ke rumah tetangga barunya itu
dengan sedikit mengendap – ngendap.
“ Hai, apa yang kamu lakukan? Oh ya, kita belum kenalan kemarin.
Kenalkan, aku Nala dan anak laki – laki yang suka bermain denganku bernama
Bart. “ celoteh Nala panjang lebar. Ia tak menyadari ada rona merah di pipi
anak kecil yang sedang menggali tanah di hadapannya ini.
“ Maaf, aku tidak bermaksud apa – apa tapi kelihatannya kau dan Bart
sedikit akrab. Mm, namaku Rena. Senang berkenalan denganmu. “ jawaban yang
keluar dari bibir mungil gadis cilik di hadapannya ini membuat Nala sedikit
tersenyum geli. Pemalu sekali anak ini, pikir Nala.
“ Tidak apa – apa. Sudah banyak orang yang mengira aku dan Bart seperti
seorang kakak dan adik. Kapan – kapan kita main bareng yah? Mau ‘kan? “ Nala
menanggapi pertanyaan dari Rena dengan seulas senyum hangat yang bersahabat.
Perkenalan Nala dan Rena pada hari adalah awal dari persahabatan antara
Nala, Rena, dan Bart, mereka suka bermain bersama, bahkan tak jarang mereka
pulang saat malam mulai menampakkan wajahnya. Mereka terus berimajinasi, mulai dari kenginan
Nala yang ingin tanamanya hidup, Rena yang bertanya – tanya kenapa cacing suka
hidup di tanah, dan Bart yang sering memikirkan tanaman layu kalau disiram
dengan cairan ajaib akan hidup kembali. Mereka tumbuh bersama – sama, walau
lingkungan tempat mereka tinggal kurang mendukung bagi perkembangan anak seusia
mereka.
Suatu hari, Rena pulang lewat dari jam 7 malam. Ia berjalan mengendap –
ngendap lewat pintu belakang tapi ia tidak tahu kalau Bapaknya, Pak Dadan sudah
menunggu di ruang tamu. Ia terus berjalan secara perlahan – lahan dan secara
tiba – tiba lampu rumahnya sudah menyala kembali.
“ Darimana saja jam segini baru pulang? Kamu masih 12 tahu tapi sudah
keluyuran sampe jam segini. “ amarah Pak Dadan tak dapat disembunyikan. Ia
sebenernya sudah tak setuju dengan persahabatan anaknya dengan Nala dan Bart
tapi raut wajah Rena waktu itu membuat hati Pak Dadan luluh.
“ Habis main di rumahnya Nala, Pa. Maaf ya, Pa, aku udah buat khawatir.
“ permintaan maaf Rena diucapkan dari dalam hati tapi sepertinya Pak Dadan tak
mau mendengarnya.
“ Sudah papa bilang kalau Nala dan Bart dapat membawa pengaruh buruk
untuk kamu. “ Pak Dadan langsung menyesali ucapannya saat melihat air mata
mulai menetes dari sudut – sudut mata anaknya.
Semenjak percakapan dengan papanya, Rena mulai menjaga jarak dari Nala
dan Bart. Ia tahu, ia ingin memiliki teman manusia tapi papa dan mamanya selalu
berpikiran bahwa tidak ada manusia yang baik. Apalagi lingkungan tempat tinggal
Nala dan keluarganya sangat “ jelek “. Akhirnya, Nala mengalah kepada papanya.
Lebih baik ia mulai menggali tanah kembali seperti saat sebelum ia mengenal
Nala dan Bart. Tetapi, entah apa yang membuat papa dan mamanya berubah pikiran
mengenai Nala dan Bart hari itu. Ke dua orang tua Rena tiba – tiba saja
memperbolehkan Nala dan Bart berteman dengan anak mereka. Rena hanya mengingat
mamanya berkata seperti ini, “ Kelihatannya Nala dan Bart anak baik, papa dan
mama mengizinkan kamu berteman dengan mereka tapi ingat ya nak, jangan pulang
lewat dari jam 7 malam. “ Betapa senangnya Rena saat mendengar ucapan mamanya.
Ia pun menatap papanya dengan raut sumringah. Ia pun memberanikan diri untuk
meminta izin pergi ke kota sebrang demi melihat kondisi kota itu. Dan betapa
senangnya Rena saat papa dan mamanya hanya mengangguk saat ia meminta izin.
Keesokan harinya, Nala, Rena, dan Bart mempersiapkan segala keperluan untuk
hidup di kota sebrang selama beberapa hari. Hari yang dinanti – nantikan tiba,
Nala, Rena, dan Bart berangkat dengan senyum bahagia terpampang jelas di wajah
mereka.
“ Waw, waw, waw. Ini baru namanya kota, bagus banget. Ga ada sampah, ga
ada waria, ga ada Bandar narkoba tapi hanya sepi, sepi yang nyaman. “ seperti
itulah kesan pertama Bart saat ia menginjakkan kaki di kota sebrang, Kota
Nyata. Aneh sekali, pikir Bart. Nama kota seperti nama film hantu.
“ Yuk, kita langsung ke rumah pamanku. Di sana kalian akan melihat
berbagai jenis tanaman yang terawat baik. “ Rena tiba – tiba memecah keheningan
sesaat yang menyelimuti mereka bertiga.
Sesampainya di rumah paman Rena, Nala langsung terkagum – kagum dengan
berbagai jenis tanaman yang terawat di halaman depan dan halaman belakang rumah
itu. Saat Nala sedang mengagumi tanaman mawar hitam yang jarang ditemuinya di
Kota Fantasi, Bart mengagetkan Rena dengan cacing dan kodok yang ia dapatkan
dari sekitar rumah. Saat Bart dan Nala sedang bermain kejar – kejaran di
halaman rumah, Rena membawa beberapa camilan.
“ Nala, Bart, ayo ke sini. Nih, pamanku udah nyiapin beberapa camilan
untuk kita menginap di sini. Ayo di makan, enak – enak loh. Oh ya, tadi paman
minta tolong sama aku untuk nganterin kalian berdua ke taman dekat mal, lumayan
jauh sih. Kalian mau jalan kaki atau naik sepeda? “ Nala dan Bart langsung
tertawa geli saat mengetahui sifat cerewet yang ternyata dimiliki oleh Rena.
Mereka terus tertawa tanpa menyadari raut wajah Rena yang agak sedikit kesal.
“ Makasih, ya. Oh ya, pamanmu mana? Kok ga keluar – keluar lagi? Kita
naik sepeda aja ke tamannya. Udah mau sore jadi biar menghemat. “ akhirnya Nala
dan Bart bisa meredan tawa mereka. Mereka pun hampir menyahut secara bersamaan
saat menjawab rentetan kalimat Rena.
Taman itu begitu sejuk dan nyaman. Di kotanya, Nala dan Bart belum
pernah menemukan taman seindah, senyaman, sesejuk, dan sebersih ini. Sejauh
mata memandang tidak ada sampah, hanya ada tanaman, tanaman, dan tanaman juga
orang – orang yang bersantai dengan nyamannya. Rasanya aneh ketika Rena
memutuskan pindah ke kota yang berbeda 180 derajat dari kota ini. Entah apa
yang membuat Rena pindah dari Kota Nyata ke Kota Fantasi. Tetapi, Rena secara
tiba – tiba mengungkit alasanya mengenai kepindahannya. Ternyata di Kota Nyata,
orang – orang tidak boleh berimajinasi sesuka mereka. Mereka harus berpikir
sesuai dengan alam. Alam harus dirawat dan dijaga di kota ini sedangkan di Kota
Fantasi, alam boleh dirubah sesukanya. Di Kota Nyata alam benar – benar terpelihara
dengan sangat baik. Ada yang menarik perhatian Nala ketika ia sedang mengagumi
suasana taman sore itu. Sekelompok orang yang berkumpul dengan pakaian serba
hijau. Rasa penasaran yang sudah mencapai puncaknya membuat Nala ingin melihat
lebih dekat kegiatan apa yang akan dilakukan orang – orang itu. Oh, cara
menanam tanaman yang baik, pikir Nala. Saat sedang asyik – asyiknya menonton
cara menanam tanaman yang baik, salah seorang pembimbing ada yang memanggil
Nala.
“ Hai, kau yang berdiri di belakang. Sedang apa kau di sini? Kalau mau
mengganggu lebih baik pergi saja. “ ketus sekali ucapan orang itu. Nala jadi
sedikit mundur teratur ketika bahunya tak sengaja menabrak seseorang.
“ Maaf..maaf. “ gumam Nala tak jelas. Hatinya seperti disetrum listrik
ribuan volt ketika ke dua bola mata teduh itu menatapnya. Ia jadi salah tingkah
sendiri.
“ Ayo, sini aku bantu kamu cara menanam yang baik dan benar. “ suara
laki – laki itu dapat membuat hatinya berdegup kencang. Entah apa yang sedang
dirasakannya?
“ I..iya. Makasih. Maaf ya, aku tadi mundur tidak lihat – lihat. “ Nala
tetap berusaha mengucapkan maaf dengan sedikit gemetaran demi meredam degup
jantungnya.
Bart yang melihat Nala dari kejauhan langsung ingin menghampiri
perempuan itu tapi saat melihat seorang laki- laki yang dengan akrabnya bisa
ngobrol dengan Nala, ia mengurungkan niatnya. Entah perasaan apa yang
dirasakannya sekarang ketika melihat Nala dengan laki – laki lain bisa ngobrol
dengan akrab.
Setelah selesai mengikuti kegiatan menanam tanaman, Nala berusaha
mencari laki – laki yang tadi sudah menolongnya tapi nihil. Laki – laki itu tak
ada di mana pun. Saat ia sedang bingung mencari, tiba – tiba ada seseorang yang
menepuk pundaknya dari belakang. Nala langsung terkesiap, takut jika itu itu
adalah orang jahat. Tetapi, Nala langsung tersenyum samar saat mengenali teman
di sekolah dasar dulu, Nana.
“ Hai, Na. Apa kabar? Ih gila lo ya, abis pindah ke sini pas kelas 3
udah jarang komunikasi. “
“ Setelah hampir 5 tahun ga ketemu, cuma itu yang lo mau omongin. Huh,
kalau gitu tadi aku ga usah cape – cape nyapa kamu. Hehehe. Oh, ini kenalin
teman – temanku, ada Nina, Fisa, Albert, Gisel, dan Dan. “ saat melihat Dan,
Nala langsung terkesiap. Laki – laki ini kan yang tadi menolongnya. Duh, mata
itu, matanya teduh banget sih.
Dan yang melihat kebingungan Nala langsung berinisiatif mengenalkan
dirinya sendiri, “ Hai, oh jadi nama kamu Nala. Maaf ya tadi aku ngagetin kamu.
Kamu tinggal di mana? Kapan – kapan jalan bareng yu. Maksudku bareng temen –
temenmu, boleh? “ Nala yang menyadari arah mata Dan langsung melihat ke balik
pundaknya, mukanya merona malu ketika melihat Rena tertawa geli sedangkan Bart,
entahlah.
“ Hmm, boleh aja sih. Tapi, besok aku harus balik ke kotaku lagi. Kotaku
di sebrang kok, Kota Fantasi, tahu ‘kan? “ Nala secara spontan menyelipkan
poninya ke balik kupingnya. Saking gugupnya, ia tidak dapat menyembunyikan rona
merah di wajahnya.
“ Sampai ketemu lagi, La. Jangan sombong ya, nomorku masih yang lama
kok. Telfon aja kalau ada apa – apa. “ Nana langsung menetralisir keadaan saat
melihat gelagat aneh antara Dan dan Nala.
Pertemuan singkat antara Dan dan Nala telah membuat hati Nala ikut
tersenyum. Ada apa denganku, batin Nala. Tetapi, ia tahu satu hal. Suatu hari
nanti mungkin aku dan Dan bisa bertemu kembali, iya aku yakin akan hal itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar