" Carseeeey!!! "
" Siapa itu? Pagi - pagi begini biasanya temen - temen kampus masih di jalan. " tanya Carsey dalam hati.
" Hey...lo gue panggil kok ngga nyaut. " sambung suara misterius itu.
Carsey langsung tersentak begitu teringat akan suara itu, suara yang selama 2 tahun telah mengisi hatinya dan juga menghancurkannya dalam beberapa bulan saja. Ia ingin menangis lagi begitu teringat kejadian 2 bulan lalu. " Hey,Cane...apa kabar? Akhirnya Carsey dapat menemukan kembali suaranya dan menjawab dengan nada senormal mungkin.
" Hey...kok lo tiba - tiba langsung murung gitu? Sorry, kalau gue nganggetin lo. " Cane menangkap wajah kebingungan Carsey. Ia juga sebenernya berusaha mengeluarkan suara dengan nada senormal mungkin.
" Oh eh...gue ke kelas duluan ya, Cane. Hehehe. Biasa ngerjain tugas. Bye. " Carsey tak sanggup lagi menahan air matanya dan untuk mejaga hatinya, ia memutuskan untuk menjauh dari Cane, mantan pacarnya. Walau terasa berat tapi itu adalah jalan yang terbaik.
" Oh ya nanti sore gue mau ke toko buku yang biasa. Lo mau ga nemenin gue? " tanya Cane dengan nada gugup.
" Maaf, nanti sore gue ada acara sama teman - teman les. Lo bisa kan cari teman yang lain untuk nemenin lo ke toko buku? " Ia akhirnya menumpahkan seluruh air mata untuk yang kesekian kalinya, rasa sakit itu kembali timbul. Ia berlari ke ruang kelasnya karena di sanalah tempat satu - satunya yang bisa ia jadikan tempat menangis, menumpahkan rasa sakit dan rindunya.
" Ya, ga apa - apa. " seperti dugaanya, Carsey menolak ajakan itu. Dan untuk yang kesekian kalinya, Cane merasa sangat menyesal atas tindakan bodoh yang ia lakukan 2 bulan lalu. Hubungannya dengan Carsey hancur karena satu tindakan bodoh, menembak cewek lain di depan Carsey. Walau ia tahu itu semua hanya permainan bodoh yang diciptakan teman - temanya tapi karena permainan itu pula hubungannya dengan Carsey hancur. " Aaaarrrggghhh...bodoh bodoh bodooooh!!! Kau kemanakan otakmu Cane, kau telah menyakiti cewe yang kau sayangi." bentak Cane kepada dirinya sendiri di dalam hati.
" Hai, Cane. Tak biasanya kau datang sepagi ini. Tadi aku sempat mampir ke rumahmu tapi adikmu bilang kau sudah pergi duluan ke kampus. Ada hal apa yang membuatmu datang sepagi ini?" suara itu, suara yang sangat dibenci Cane. " Hello. Kau dengar tidak sih?'
" Iya iya, aku mendengarmu nenek sihiiir!! Ada apa kau mencariku??!!! Aku tak butuh dirimu. Yang aku butuhkan Carsey. " walau Cane berbicara dengan nada normal tetapi itu lebih mirip teriakan dan bentakan di telinga Anne. " Aku mau ke perpustakaan dulu. " Cane mengakhiri bicaranya dengan nada yang sangat ketus.
" Kenapa sih yang ada di pikiranmu cuma si cewe egois, cengeng, cemburuan kaya si Carsey. " teriak Anne dengan suara lantang kepada Cane. Ia kesal karena semenjak ia bertemu Cane 5 bulan lalu, Cane tak pernah meliriknya sedikit pun.
" Itu semua karena Carsey bukan cewe matre, cerewet, cemburuan, pembuat sensasi seperti kau, Anne!!! " tepat sebelum Cane menginjak anak tangga yang ke dua, Cane membalas teriakan Anne dengan suara yang sangat sangat ketus. " Dan Carsey bukan cewe pembuat sensasi, ia cewe pandai yang selalu juara di kelas dan kampusnya!!! Bukan seperti kau, cewe yang hanya mengandalkan kecantikan dan kekayaan saja!! " lanjut Cane dengan suara lantang dan ketus. Dan omongan Cane tadi cukup membuat Anne lari masuk ke dalam kelasnya yang berada tepat di sebelahnya.
"Kenapa sih hati Cane susah sekali ditaklukkana olehku??! Padahal masih banyak cowo yang mau denganku tetapi yang aku mau hanya Cane. Cane harus bisa melupakan si Carsey. Haruuuus!!! " ambisi dalam hati dan pikiran Anne sudah tak bisa diredam lagi. Ia sangat mengagumi Cane semenjak ia melihat Cane bermain basket bersama Carsey 6 bulan lalu dan tak butuh lama untuk merubah rasa kagum itu menjadi suka di hati Anne. Karena bagi Anne tak ada cowo yang tak bisa ia taklukkan, kecuali Cane. Karena hati Cane sudah terkunci dengan Carsey sebab hanya Carsey satu - satunnya perempuan yang mengertinya dalam segala hal.
Saat sedang menangis di dalam kelas tiba - tiba ada yang mendatangi Carsey, dan orang itu adalah Husto, cowo yang menyukainnya semenjak ia masih bersama Cane. Dan ia pula yang telah menyusun rencana bersama Anne 2 bulan lalu agar hubungan Cane dan Carsey berakhir. Ia dan
Anne menyusun rencana dengan menyuap beberapa teman Cane agar mereka mau diajak bermain " Pemerintahan ", saat teman - teman Cane mau diajak berkompromi, mereka mulai mengajak Cane
dengan segala bujukkan dan akhirnya Cane mau ikut bermain. Sesuai rencana saat bagian Cane
untuk diperintah, Husto menyuruh Cane menembak Anne di depan Carsey. Bodohnya, Cane mau
menuruti perintah Husto, dengan senyum setan Husto dan Anne saling mengedipkan mata, tanda
rencana mereka berhasil. Dan benar saja, saat Carsey melihat Cane menembak Anne, hatinya
langsung hancur seperti ditabrak oleh tank baja. Carsey langsung lari ke kamar mandi dan menangis
sepuasnya sedangkan Cane berusaha mengejarnya tetapi Anne menahannya dengan berkata, " Aku
belum memberimu jawaban, Cane. Dan jawabanku adalah ya. Ya aku mau menjadi pacarmu. " saat
itu juga, Anne memperlebar senyumnya karena kemungkinan besar rencananya akan berhasil tetapi
Cane menjawab dengan nada yang sangat kasar bagi Anne, " Aku tak akan pernah mau menjadi
pacarmu, Anne. Cintaku hanya milik Carsey seorang. Dan ini hanyalah sebuah permainan bodoh
dengan orang - orang bodoh yang mau mengikutinya. Dan aku termasuk orang - orang itu. " Cane
mengucapkan kalimat yang cukup membuat Anne menjerit dalam hatinya. Malamnya
Carsey menelfon Cane dan mereka putus malam itu juga.
Husto dan Anne memiliki ambisi yang sama dan untuk rencana selanjutnya mereka berdua akan bekerja sama lagi untuk membuat Carsey dan Cane melupakan satu sama lain. Tetapi sebenarnya Husto merasa kasihan kepada Carsey karena ia melakukan ini semua untuk Anne bukan Carsey. Husto menyukai Anne semenjak SMP tetapi ia tak pernah bisa mendekati Anne karena Anne selalu menghindar darinya setiap dia berusaha mengajak ngobrol. Tapi 2 bulan lalu bagaikan mimpi bagi Husto karena ia tak hanya bisa dekat dengan Anne tapi ia juga bisa menyusun rencana untuk menghancurkan hubugan Carsey dan Cane bersama Anne. Anne sudah memiliki rencana selanjutnya, yaitu membuat Husto dan Carsey jadian bagaimana pun caranya. Bahkan ia rela mengorbankan perasaanya pada Husto demi membalas dendam kepada Carsey karena telah merebut perhatian Husto selama semester 1.
Siang itu sepulang sekolah, Husto dan Anne janjian untuk bertemu di gerbang sekolah. Mereka mulai menyusun rencana sehalus mungkin agar Cane dan Carsey tak curiga. Tetapi sayang saat itu Bond menguping pembicaraan Husto dan Anne. Ia langsung menghampiri ke dua orang itu dan menyindir mereka dengan nada sinis. " Oh, jadi ini biang keladinya. Belum puas ya kalian membuat Cane dan Carsey, pasangan favorit di sekolah ini menangis. " saat Husto dan Anne mendengar ada seseorang yang menghampiri mereka, mereka langsung takut bercampur rasa kaget. " Kenapa?! Kalian kaget atas kehadiranku di sini. Kalian kira selama ini aku tidak curiga dengan kelakuan kalian. Asal kalian tahu, selama ini aku selalu mengikuti kalian. Dan benar saja rasa curigaku selama 2 bulan ini. " sambung suara itu dengan nada sinis yang sangat ketus dan dapat membuat telinga menangis. Anne sadar terlebih dahulu untuk melirik ke belakang, ia mau tahu siapa yang baru saja menyidirnya dengan Husto. Saat ia melihat Bond di sana, ada sedikit perasaan lega tetapi perasaan takut itu belum hilang karena semua pembicaraannya dengan Husto terdengar ole Bond. " Bo, bond. Ada urusan apa kau di sini? Menguping pembicaraan itu tidak baik tahu! " Balas Anne dengan suara yang lebih ketus dari suara Bond tadi. " Oh, masih ada yang pura - pura bego di sini ya. Hei, Husto kenapa kau diam saja! Kau tinggi, pintar, cakep tapi kau tidak sepintar yang kukira karena lo mau nurutin semua omongan nenek sihir ini! " sindir Bond dengan nada yang sangat sangat ketus kepada Anne dan Husto. Saat itu juga, murid - murid yang berada di kantin dan kelas langsung menuju gerbang kampus untuk mengetahui siapa yang sedang berdebat di sana karena murid - murid lain sedang bergosip bahwa ada pertengkaran hebat di gerbang kampus tak terkecuali Carsey.
" Eh, ada apaan sih?? Kok anak - anak pada lari ke gerbang. " tanya Carsey pada Evina, teman sebangkunya.
" Oh lo emang ga denger apa kata anak - anak tadi??? Ada yang bertengkar di gerbang dan katanya sih yang lagi bertengkar itu si Bond sama Anne. " Cerocos Evina panjang lebar. Ia cukup heran terhadap Carsey karena semenjak hubungannya dengan Cane berakhir, Carsey lebih sering diam. Berbeda dari Carsey yang dulu.
" Oh gitu doang, gue kira apaan. Ya udah gue ke sana dulu ya. Mungkin aja bisa jadi ide makalah kelompok kita. Ngomong - ngomong lo ga ke sana? " Walau Carsey tak terlalu peduli dengan pertengkaran itu tetapi baginya makalah kelompok lebih penting daripada rasa cueknya. Jadi ia memutuskan untuk ke gerbang kampus, mungkin saja ia bisa mendapat ide untuk topik permasalahan - permasalahan di kampus yang diberikan kepada kelompoknya.
" Hmm...mau sih tapi kaki gue lagi males menginjak tanah. Hehehe. " Jawab Evina sekenanya, karena hari ini ia sedang malas berbicara. Itu semua karena adiknya.
" Tumben nih, biasanya lo semangat klo masalah beginian. " Ledek Carsey dengan nada bercanda. Dan setelah itu, ia langsung kabur untuk menghindari amukan Evina.
Saat Carsey sampai di gerbang kampus, ia merasa kaget dengan melihat rasa amarah Bond yang tersirat di wajahnya. " Booooond, STOP!!!!!!!!! Percuma lo bertengkar sama si nenek sihir ini. Dia ga akan pernah nyadar posisinya itu harusnya di mana. " Teriak Carsey kepada Bond dengan nada lantang. Ia juga ingin tahu reaksi Anne setelah mendengar perkataanya. Dan sesuai dugaanya, Anne langsung kaget dan gugup ketika ia mendengar perkataanya. " Gue udah tahu siapa yang bikin hubungan gue sama Cane hancur semenjak sebulan lalu. " Sambung Carsey, ia ingin sekali memyindir Anne tetapi ia tidak bisa. Karena kejahatan dibalas kejahatan tak akan menyelesaikan masalah.
" Carseeey!! Klo lo udah tahu kenapa lo diemin nih dua manusia egois terutama si Anne! " rasa marah yang daritadi sudah berusaha ditahan oleh Bond akhirnya keluar juga. Ia marah sangat sangat marah. Ia gak mau pasangan favorit di sekolahnya berpisah hanya karena seorang cewe yang kurang perhatian dari keluarganya.
" Ngapain juga gue ngelabrak mereka berdua. Buang - buang tenaga aja ntar gue. Lebih baik gue diemin biar nanti kebusukkan mereka berdua kebongkar dengan sendirinya. " kalimat terakhir yang diucapkan Carsey tadi mampu membuat Anne bersuara.
" Gue begini karena lo udah ngerebut perhatian Husto abis itu Cane. Asal lo tahu ya anak sok pinter! Gue suka sama Husto udah dari kelas 2 SMA! Tapi semenjak Husto kenal sama lo, dia mulai ngejauhin gue. Dan untuk ngebales rasa sakit yang gue alamin, lo juga harus ngalaminnya juga. Makanya gue pura - pura suka sama Cane biar lo cemburu. Setelah lo cemburu dan merasakan sakit yang gue rasakan baru gue puas! " Anne sudah tak peduli dengan kekagetan Husto dan Bond. Ia sekarang lebih mementingkan kebodohannya karena telah membongkar sebagian kecil rahasia dirinya. Dan Carsey tentu saja tak kaget karena ia merasa bahwa ada sesuatu yang harus dikatan dengan jujur dan perkataan Anne tadi cukup membuatnya yakin untuk kembali kepada Cane.
" Jadi lo ngerasain apa yang gue rasain?! Kenapa lo ga jujur dari awal Anne?! Klo lo ngebales perasaan gue, gue jadi ga usah pura - pura deket sama Carsey untuk buat lo cemburu. " giliran Husto yang membuka suara dan semua perkataanya tadi sudah membuat semuanya jelas. Husto sendiri tak merasa bodoh juga malu karena setelah mengatakan perasaanya yang sejujurnya kepada gadis tercantik di kampusnya, ia merasakan perasaan lega. Ternyata cintanya terbalas.
Setelah mendengar pengakuan kedua orang itu, Carsey berlari kembali ke dalam kampusnya. Ia sedang menuju kelas Cane ketika ia melihat Cane pingsan di depan kelasnya. " Ada apa dengan Cane? " Rasa panik langsung menyergap hati Carsey. Ia takut penyakit tahunan yang dialami Cane kembali kambuh. Tetapi setelah 10 menit Cane pingsan, cowo itu bangun dengan senyum khasnya.
" Katanya sudah tak mau peduli. Kok aku cuma pura - pura pingsan saja kau sudah panik. Bagaimana kalau aku pingsan beneran? " Seketika itu juga Cane tertawa terbahak - bahak bersama teman - teman kelasnya. Ternyata teman - teman kelasnya telah sepakat untuk membantu Cane mengetest rasa perhatian Carsey. Dan ternyata berhasil, Carsey masih perhatian kepadanya seperti dulu.
" Oh jadi tadi cuma pura - pura? Dasar pangeran drama, semua serba dibawa sedih. " Carsey berusaha untuk membalas kejahilan Cane dengan sikap sinis. Tapi, yang terjadi malah ia ikut tertawa bersama Cane dan teman - temannya.
" Jadi gimana nih kelanjutannya? Kita mau terus diem - dieman ato kembali merajut benang yang sudah putus? " goda Cane.
" Ah, kata - kata lo sok puitis. Wkwk...hmm yang mana ya? " balas Carsey dengan kejahilan yang dapat membuat hati Cane berdebar. " Kayanya diem - dieman aja deh. " lanjut Carsey. Dan di dalam hatinya ia tertawa terbahak - bahak. Rasakan itu, tawa Carsey dalam hatinya.
" Yah...ga jadi ngerayain hari bahagia dong. " balas Cane dengan nada pura - pura sedih.
" Ga deng...aku mau kok jadi benang untuk menutup luka hatimu. " balas Carsey tak kalah puitisnya.
" Yeay. Hari ini jadi traktirannya teman - teman. " teriak Cane kepada teman - teman kelasnya. dan teman - teman kelasnya menyambut ajakan itu dengan sorak gembira.
" Yeah. Pasangan favorit kampus kita balikkan. Ada panutan lagi nih untuk jadi percontohan hubungan kocak melankolis apa lagi ya? " goda salah satu teman Cane dan Carsey, Evina.
" Eh Evina, katanya lagi males nginjek tanah kok malah jalan - jalan. " balas Carsey dengan nada sok nyindir. Lalu ia dan Evina tertawa terbahak - bahak.
" Lo gampang aja yak gue begoin. Emang sih soal matematika lo jago tapi soal tipu - menipu gue jagonya. " setelah menggoda Carsey, ia langsung kabur. Karena feelingnya mengatakan Carsey akan mengejarnya dan benar saja. Carsey mengejarnya memutari lapangan kampus sambil membawa - bawa pengki. Murid - murid kampus yang sudah mendengar berita bahagia tentang pasangan favorit kampus mereka pun langsung datang ke kelas Cane dan ikut menonton adegan lucu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar