Rabu, 30 April 2014

Your Smile Is The Brightest Sunshine

      Rena dan Joseph, dua orang manusia yang susah untuk dipisahkan. Perbedaan umur yang lumayan jauh, perbedaan agama, perbedaan bahasa serta perbedaan kebudayaan tak mampu memisahkan mereka. Mungkin hanya maut yang dapat memisahkan mereka.
      Rena yang beragama Kristen pertama kali bertemu Joseph di sebuah taman dekat gereja, tempat dia dan keluarganya beribadah setiap hari Sabtu dan Minggu. Saat itu, Rena baru saja pulang dari gereja. Ia memutuskan untuk singgah sejenak di taman asri di dekat gereja. Kira - kira butuh waktu 20 menit untuk sampai di taman itu. Rena sedang asyik menghirup udara musim dingin saat seseorang secara tiba - tiba menghampirinya.
      Joseph baru saja pulang dari masjid. 2 tahun sekali, Joseph pergi ke Australia untuk mengenal lebih jauh kampung halaman mamanya. Siang sehabis sholat dzuhur, Joseph rasanya ingin menikmati udara musim dingin dengan lebih tenang tanpa terganggu hiruk pikuk kendaraan. Ia pun berjalan ke belakang masjid, tempat yang ia tuju adalah taman asri di belakang masjid. Tak seperti biasanya, pikir Joseph. Biasanya di hari Sabtu seperti ini, taman ini akan sangat ramai. Joseph langsung mengedarkan pandangan untuk mencari bangku kosong. Ia kaget begitu melihat cewek yang sedang duduk di bangkunya - bangku tempat ia biasa duduk, terletak di bawah pohon rindang. Ia pun memberanikan diri untuk berjalan menuju bangku itu.
      " Excuse me, can I sit here?" tanya Joseph kepada Rena sambil menunjuk bangku kosong di sebelah cewek itu. Sebenarnya, Joseph agak ragu melontarkan pertanyaan tadi kepada Rena - sejujurnya ia ragu semenjak melihat cewek itu dulu, saat ia keluar dari gereja.
      " Hmm. It's okay. You can sit here. Because I need someone to talk to. " Rena memperbolehkan Joseph duduk di sebelahnya, itu sebuah " keajaiban" bagi Joseph.
      " Is it okay? If I sit here? Hmm, sorry, my question sound weird for you. " tanya Joseph untuk kedua kalinya kepada Rena. Entahlah, Joseph masih ragu untuk duduk di sebelah Rena.
      " Oh, why you ask that question for two times? Sorry, I don't have boyfriend. " pertanyaan Joseph tadi sedikit terdengar menggelitik di telinga. Dia bertanya pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.
      " It's okay. I just afraid if your boyfriend see me, he will angry. " tawa Joseph. Ia sedang berusaha mencairkan suasana tetapi bukannya mencairkan suasana malah membuat suasana makin " panas ".
      " Oh okay. If you say like that, I will go. I won't disturb your time. " candaan Joseph ternyata dianggap serius oleh Rena. Rena paling tidak suka cowok yang suka menyinggung - nyinggung masalah pribadi. Walau perkataan cowok tadi sebenarnya tidak menyangkut di masalah pribadi, Rena tetap berpikiran seperti itu.
      " Yaaah, dia malah tersinggung. Duh, nih mulut kenapa ga bisa dikrontol dikit sih?! " caci Joseph kepada dirinya sendiri di dalam hati. Ia sebenarnya hanya ingin bercanda tetapi candaanya malah sering membuat orang tersinggung, seperti tadi.
      Taman yang tadinya menjadi tempat kesukaanya, entah mengapa berubah menjadi tempat yang membuat pikirannya tidak tenang. Mungkin, ini karena cewek tadi tetapi bukan karena percakapan mereka. Saat Joseph sedang melamun, tanpa diduga ada orang yang sangat tidak ingin ditemuinya malah muncul di hadapannya.
      " Hei, what are you doing here, fat boy? " sapa Meyla, mantan kekasih Joseph.
      " Hey. Kebetulan banget ya kita bisa ketemu di sini. Lo ngapain di Australi? " tanya Joseph basa basi.
      " Hehe ternyata cuman lo yang ga bisa diboongin pake Bahasa Inggris. " bukannya menjawab pertanyaan Joseph, Meyla malah membuat candaan garing.
      " Kita udah kenal berapa tahun sih? Oh ya, pertanyaan gue yang tadi dijawab dulu bisa kali. "  Joseph sedang tidak ingin bercanda, candaanya sudah habis semenjak ia bertemu Rena tadi.
      " Lo lupa ya, kan gue semenjak satu setengah tahun yang lalu kerja jadi arsitek di sini. " menurut Joseph, keputusan Meyla lah yang membuat hubungan mereka kandas 2 tahun lalu. Meyla sangat ingin bekerja di Australia, makanya saat kesempatan itu datang ia tak menyia - nyiakannya begitu saja. Tetapi, resikonya adalah putus dari Joseph. Hal itulah yang membuat Joseph tidak suka dengan Australia selain karena faktor masa lalu mamanya.
      Meyla memotong lamunan Joseph dengan kalimat mengejutkan, " Eh aku udah dipanggil sama Jordan nih. Aku pergi dulu ya, bye. " begitu katanya.
      Saat Joseph menoleh ke tempat yang tadi ditunjuk Meyla, cewek itu sudah berdiri di samping seorang cowok, ia kaget dengan kecupan Meyla di pipi cowok itu. Ia terlalu lama memikirkan mengenai apa hubungan Meyla dengan cowok tadi sampai ia tak menyadari bahwa matahari sudah semakin terik. Joseph tak mau berlama - lama memikirkan Meyla, baginya Meyla hanyalah masa lalu. Dan masa lalu tak selamanya harus dikenang, bukan?
      Joseph baru ingat sesuatu, ia langsung berlari ke mesjid tempat ia sholat. Ia baru ingat sekarang saatnya adzan ashar dan ini berarti, saatnya ia mengumandangkan adzan.Yah inilah kebiasaanya jika berada di Australia, mengumandangkan adzan saat dzuhur dan ashar. Sedangkan yang mengumandangkan adzan saat subuh, maghrib, dan isya' adalah pengurus masjid.
      Joseph baru datang malam itu ketika pamannya sudah berdiri di depan pintu toko bajunya. Walau hanya terlambat 20 menit, paman Joseph tetap tidak bisa terima jika karyawannya ada yang datang terlambat. Joseph memang ponakannya tetapi mama Joseph sudah tidak menjadi bagian dari keluarga Brand lagi. Semenjak mama Joseph berpindah agama menjadi mualaf, anggota keluarganya tak mau lagi menerima kehadirannya,  kecuali pamannya yang satu ini.
      " Good evening, Uncle Brad. Sorry, I'm late. " hanya itu kata - kata yang mampu diucapkan oleh Joseph. Sebenarnya, Joseph tak sepenuh hati " bekerja " di toko pamannya. Oleh sebab itu, ia sengaja datang telat malam ini. Ia sengaja mengumandangkan adzan maghrib.
      Inilah alasan yang membuat Joseph tidak bisa mengumandangkan adzan maghrib dan adzan isya'. Ia harus membantu pamannya di toko baju miliknya. Ia betugas menjaga toko dari jam setengah 6 sore sampai jam 11 malam, saat toko tutup. Ia tak bisa menolak, bagaimana pun pamannya yang satu ini sudah banyak membantu mamanya saat dulu " diusir " dari keluarga Brand karena menjadi mualaf.
      " Thanks god, you're my nephew. If you are not my nephew, I'll very angry to you now. " itulah kata - kata yang sering diucapkan Brad ketika tahu ponakannya telat datang ke tokonya. Bagi dirinya, ia masih berutang banyak pada Estelle, ibu Joseph. Karena itulah, ia tak pernah berani memarahi Joseph.
      " Thanks, Uncle Brad. " balas Joseph dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
      " Just call me Brad. I don't like the way you call me, it seems like I'm too old for you. " setelah kalimat terakhir yang Brad ucapkan, ia langsung bergegas masuk kembali ke dalam toko karena ada pelanggan yang datang.
      " Pasti selalu begini setiap aku mau mengatakan sesuatu ke paman. Pasti aja, ada sesuatu yang menghalangi. " tanpa Joseph sadari, kalimat terakhir yang ia ucapkan benar - benar terlontar dari mulutnya.
      Rena sedang membantu mamanya menyiapkan makan malam ketika hpnya bergetar di dalam saku celananya. Setelah itu hanya ada suara desahan yang mampu dilakukan oleh mulutnya. Pasti kalau malam Zeyra selalu meng-sms Rena untuk meminta bantuan membacakan huruf asing yang tertera di label produk belanjaanya. Rena memang mahir dalam hal bahasa. Rena juga mampu berbahasa Jepang dan Prancis, walau ia tak terlalu menguasai kedua bahasa asing itu. Dengan setengah hati, Rena meninggalkan pekerjaanya dan bergegas ganti baju. Ia setengah berlari menuju toko baju tempat Zeyra berada.
      Joseph seperti patung, hanya berdiri di depan toko tanpa melakukan pergerakan yang berarti. Ia tak menyangka akan bertemu cewek berambut lurus sebahu itu malam ini. Joseph dan Rena sama - sama saling diam, mereka seperti disihir untuk diam mematung. Joseph tak tahu harus berkata apa untuk memecah keheningan itu.
      " Excusme, is this Brand O'Dan shop? " Reina berusaha mencairkan kebekuan diantara dirinnya dan Joseph. Tetapi, belum selesai Rena mengucapkan kata - katanya, Zeyra sudah keluar dari toko dengan suara cemprengnya yang khas.
      Brand O'Dan Shop, sebuah toko baju berukuran tak terlalu besar yang berada di pusat kota Sydney. Toko baju ini memang belum terkenal tetapi toko - tokonya sudah ada di beberapa kawasan Asia Tenggara, seperti Singapura dan Thailand. Merek - merek baju yang dibuat adalah kreasi sendiri, percampuran dari model Harajuku dan Guess.
      " Rena, why does it take so long? Just take 20 minutes walk from your house. " seperti biasa, Zeyra akan cerewet seperti ini kalau Rena datang terlambat untuk menemuinya.
      Zeyra adalah orang yang tepat waktu. Ia tidak suka dengan orang yang membuang - buang waktu karena terlambat. Ada beberapa orang yang bisa menyesuaikan diri dengan sikap Zeyra tetapi tak sedikit pula yang tak bisa menyesuaikan diri dengan cara seperti itu.
      " Sorry Zee, I've some tasks at home so that's my reason" desahan Rena semakin terasa berat. Ia hanya terlambat 5 menit tapi Zeyra tetap tida bisa menerima itu. Alasan apa pun takkan mempan bagi Zeyra.
     " Thanks God, you're my best friend. If you aren't my best friend, I don't know what will I do. Maybe, I will so angry but it'll never happen to you. You're my best friend. " sekali lagi, alasan itulah yang membuat Zeyra tidak bisa marah ke Rena. Rena adalah sahabat sejatinya.
      Joseph yang sedari tadi bengong melihat dua wanita di depannya berbicara tetap tak bisa bergerak. Entah daya magis apa yang dikeluarkan perempuan bernama Rena itu sampai Joseph tak bisa bergerak.
      " Excusme sir, can you permit my friend to come in? " Zeyra yang merasa aneh dengan gelagat Rena dan Joseph sengaja bertanya seperti itu. Ia merasa sikap Joseph seperti seseorang yang melihat benda asing.
      " Oh, it's okay. Your friend can come in to this shop. " Joseph langsung tersentak ketika Zeyra bertanya dengan nada sedikit tajam tadi.
      " I'm so sorry, sir. I shocked you. See you. " giliran Rena yang bersuara. Ia ingin menetralkan suasana. Entah mengapa, saat ia melihat Joseph, ia seperti disihir oleh mata cowok itu.
      Joseph baru saja masuk ke dalam toko untuk menghampirinya pamannya. Tetapi, Brad malah memeloti Joseph karena kelakuan ponakannya itu di luar tadi. Karena dipelototi, Joseph tidak jadi menghampiri pamannya. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan lelaki itu. Jadi, sebelum pamannya menyuruhnya untuk menghampiri ke - dua cewek tadi. Ia berinisiatif untuk menghampiri dua cewek itu dengan senyum yang dipaksakan.
      " Excusme, girls. Sorry for my attitude on the outside last minutes ago. I just shocked when I see two beautiful girls. " niat Joseph yang tadinya mau meminta maaf dengan nada serius malah gagal total. Zeyra sudah terlanjur melemparkan tatapan tajam saat Joseph baru mulai berbicara. Joseph jadi agak sedikit bercanda ketika meminta maaf, hanya untuk mencairkan suasana, seperti biasa.
      " It's okay, sir. I'm sorry because I make you shocked. " Rena yang membuka suara untuk mebalas permintaan maaf Joseph. Ia sedang dalam keadaan " baik ". Joseph adalah cowo yang baik, menurutnya. Tetapi, ada sesuatu di dalam diri Joseph yang membuatnya penasaran.
      " Sir, can you help me to find L size for these dress. " Zeyra yang sedari tadi berniat membeli dress keluaran terbaru dari toko ini langsung menunjuk lima dress sekaligus. Ia sudah tertarik dengan kelima dress yang sekarang berada di tangannya. Karena Joseph ada di dekatnya, kesempatan itu tidak disia - siakannya. Ia langsung meminta Joseph untuk mencari ukuran L untuk dress - dress itu.
      " Wait a minute. " hanya tiga kata itu yang dikeluarkan Joseph sebelum pergi ke gudang mencari ukuran L untuk lima dress yang akan dibeli Zeyra.
      Sambil menunggu Joseph kembali dari gudang untuk mencari ukuran L bagi dress - dressnya, Zeyra meminta pendapat Rena mengenai sikap Joseph dalam melayani pelanggan. Tetapi, ia kaget dengan komentar Rena mengenai pelayanan dari Joseph.
      " Ren, what do you think about that man? I mean his politeness? " pertanyaan Zeyra sedikit membingungkan di telinga Rena.
      " Who? I don't know. What do you mean with " him "? " Rena bingung harus menjawab apa, untuk mengalihkan pembicaraan, Rena sengaja berpura - pura tidak tahu dengan bertanya cowo mana yang dimaksud Zeyra.
      " Rena, please. I'm serious. Is he polite or not? " Zeyra semakin " gemas " dengan Rena. Ia berniat bertanya serius tapi malah dianggap bercanda oleh Rena.
      Rena dan Zeyra tak menyadari jika sedari tadi mereka diawasi oleh seseorang. Mereka juga tak menyadari kehadiran Joseph yang telah kembali dari gudang. Tanpa sengaja, Joseph sedikit mendengar kalimat terakhir yang Zeyra ucapkan.
      " Excusme, sorry if I'm too long. I'm new here so it take more times to find a large size dress on the storage. " Joseph menjelaskan alasannya berada di gudang cukup lama tanpa diminta.
      " Where is my dress, sir? I'd like to fit in the dresses on the dressing room. " Zeyra tak memedulikan alasan Joseph. Ia hanya ingin segera mencoba kelima dress yang sudah dipilihnya lalu pulang ke rumah dan tidur.
      " This's your dresses. You can find the dressing room on the left from the chasier. " Joseph menunjukkan letak kamar ganti yang berada di sebelah kasir, tidak tepat di sebelahnya tapi agak ke pojok. Joseph agak sedikit kesal dengan pelangganya yang satu ini, sikapnya yang arogan membuat Joseph tidak suka. Joseph lebih suka dengan temannya yang sedari tadi hanya diam, yaitu Rena.
      " Excusme, do you want to buy something,miss? " saat Zeyra sedang mencoba semua dress yang sudah dipilihnya, Joseph berusaha berbicara dengan Rena.
      " Hmm, no thank you, sir. Can I ask you something, sir? " gayung pun disambut, ternyata Rena juga ingin berbicara dengan Joseph. Setelah melihat anggukan kepala Joseph, Rena pun langsung menyambung kalimatnya, " Do you always act like that? I mean when we're meet on last afternoon. "
      Joseph pun hanya bisa mendesah panjang di dalam hatinya. Ia bingung mau menjawab apa. Ia belum siap untuk menjawab pertanyaan seperti ini tepatnya. Akhirnya Joseph hanya bisa bilang, " I just shocked when I meet you last afternoon. " bodoh, kenapa jawaban seperti itu yang dikeluarkan dari mulutnya.
      " Why do you look very shocked when you meet me? " sudah bisa ditebak, pasti pertanyaan seperti ini yang akan ditanyakan Rena.
      " Hmm.............. " Joseph berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Rena. Tetapi, baru saja ia mau bersuara, Zeyra sudah selesai mencoba semua dress.
      " I take these dress. All of this. " Zeyra berbicara kepada petugas kasir yang sedari tadi sibuk mengutak - atik komputer. Ia langsung menghampiri kasir karena ingin cepat membayar lalu pulang.
      " Sorry, miss. You must have a note to buy these dresses. " petugas kasir itu hanya memberi tahu Zeyra tentang aturan membeli baju di toko Brand O'Dan Shop dengan muka yang masih melihat ke arah komputer.
      Zeyra yang memang sudah ingin pulang karena kelelahan setelah bekerja seharian, melambaikan tangan ke arah Rena. Lambaian itu artinya meminta tolong untuk berbicara ke Joseph agar dibuatkan nota pembayaran.
      Rena yang sudah mengerti arti lambaian itu langsung memberi tahu Joseph. Tetapi, ternyata Joseph sudah membuat nota pembayaran sebelum disuruh oleh Zeyra. Aku ingin cepat - cepat melihat " nenek " itu keluar dari toko ini, batin Joseph. Tapi, Joseph ingin Rena bertahan lebih lama karena ia ingin berbicara lebih lama lagi dengan Rena.
      " Go home. " kedipan mata Zeyra kepada Rena mengartikan bahwa Zeyra sudah ingin memeluk kasur. Rena tak ingin membantah keinginan sahabatnya itu, lagi pula dirinya sendiri juga sudah merasa lelah.
      Joseph yang melihat kedipan mata Zeyra kepada Rena, membuat dirinya langsung lesu. Kenapa tuh " nenek " enggak pulang sendiri aja, sih. Dasar " nenek - nenek " bawaanya bad mood mulu.
      Malam itu setelah pulang dari toko, Joseph menyempatkan diri pergi ke masjid dekat rumah pamannya, sekedar untuk melepas penat setelah lelah bekerja selama beberapa jam. Saat Joseph melihat jam tangannya, Joseph kaget karena jam masih menunjukkan pukul 9.15, biasanya jam segini ia masih melayani pelanggan sampai jam setengah sebelas malam. Mungkin, suasana hati pamannya sedang senang karena baju - baju di tokonya lumayan terjual banyak, tidak seperti hari - hari sebelumnya. Kedatangan dua cewek tadi ternyata membawa keberuntungan, pikir Joseph. Joseph sedang keasyikkan melamun saat seseorang tiba - tiba menabraknya dari arah belakang.
      Masjid masih terlihat ramai padahal malam sudah menunjukkan sunyinya. Joseph tak menyia - nyiakan waktu pulangnya dengan bermalas - malasan di rumah pamannya. Kesempatan tidak datang dua kali, pikir Joseph. Jarang - jarang ia pulang lebih awal dan bisa singgah sebentar di masjid dekat rumah pamannya. Joseph langsung mengambil duduk di sebelah lemari Al - Qur'an kemudian ia mengambil sebuah Al - Qur'an kecil dan langsung membuka surah Al - Zalzalah. Setiap ke masjid, surah yang tak pernah dilewati untuk dibaca oleh Joseph adalah surah Al - Zalzalah. Surah ini selalu mengingatkanku akan segala dosa yang telah kuperbuat, itulah alasan Joseph ketika ditanya pengurus masjid tempat ia biasa mengumandangkan adzan mengenai alasannya suka membaca surah Al - Zalzalah.
      Setelah selesai membaca Al - Qur'an di masjid, Joseph langsung bergegas pulang menuju rumah pamannya. Sebenarnya, paman Joseph tinggal di sebuah town house tapi karena ukuran town house yang luas, Joseph lebih suka menyebutnya rumah. Perjalanan dari toko pamannya ke rumah memakan waktu 25 menit jika menggunakan kereta tapi karena Joseph ingin berjalan kaki, perjalanan itu menjadi memakan waktu kira - kira 45 menit lebih. Itu pun kalau Joseph tidak mampir ke masjid dulu, kalau mampir ke masjid total waktu yang dibutuhkan untuk berjalan kaki menjadi 1 jam lebih. Rumah pamannya terletak di pinggiran kota Sydney.
      " Hallo? " Joseph menempelkan hand phone yang bergetar di saku celananya.
      " Ini mama. Kamu kok gak ngasih tahu mama selama di Australi? " suara mama Joseph yang khas itu " menyambangi " gendang telinga Joseph. Bahasa Indonesia mama Joseph sudah lumayan walau logatnya masih mirip barat.
      " Oh mama. Maaf ma aku belum sempat ngabarin mama semenjak kedatanganku di Australia beberapa hari yang lalu. " Joseph baru ingat bahwa mamanya menggunakan telfon umum bukan telfon rumah karena nomor yang tertera tidak bernama.
      " Ya sudah, kalau kamu masih di jalan hati - hati ya. Oh ya, kamu kapan pulang? " mama Joseph begitu mengkhawatirkan keaadan Joseph di Autralia karena suatu hal.
      " Ma, mama dimana sekarang? Kok nomornya gak aku kenal? " Joseph yang sudah biasa dengan kekhawatiran mamanya yang kurang lebih berlebihan tak menanggapi kalimat terakhir mamanya.
      " Mama lagi jalan - jalan sama papamu di Jimbaran. Adikmu sedang berada di rumah temannya. " terdengar suara telefon terputus setelah itu. Saat Joseph " menurunkan " kembali hand phone nya, baterai HPnya ternyata sudah habis.
      Mama pasti sekarang lagi khawatir gara - gara sambungan terputus tiba - tiba, pikir Joseph. Tapi, Joseph berniat setelah sampai di rumah pamannya, ia akan segera mengisi kembali baterai HPnya lalu menelefon mamanya agar mamanya tidak khawatir berkepanjangan.
     Di perjalanan pulang menuju rumah pamannya, tiba - tiba saja rintik - rintik hujan mulai turun. Jarak rumah paman Joseph yang sudah dekat membuat Joseph berlari - lari menerobos hujan agar bisa sampai di rumah sebelum hujan deras turun. Tetapi, hujan deras sudah terlanjur ditumpahkan oleh langit gelap malam itu ketika Joseph baru mulai berlari. Kecepatan lari Joseph pun terpaksa ditambah agar tubuhnya tak basah kuyup setelah diterpa hujan, seperti beberapa hari lalu.
      Paman Joseph juga baru sampai di rumahnya ketika langit mulai menumpahkan " tangisnya ". Brad khawatir akan keadaan ponakannya yang masih berada di perjalanan, ia takut jika ponakannya kembali basah kuyup seperti kejadian beberapa hari lalu. Brad baru mau kembali menstarter mobilnya untuk menjemput Joseph saat Joseph sudah keburu sampai di rumah dengan tubuh yang lumayan basah kuyup.
      " Hay, uncle. What happen with your eyes? Why do you look at me like that? I'm okay. " Joseph tak mau pamannya mengkhawatirkannya seperti beberapa hari lalu saat Joseph pulang ke rumah dengan basah kuyup dan menggigil. Ia berusaha meyakinkan pamannya bahwa ia baik - baik saja.
      " But your body is too wet for me. I'm too afraid if you have cold again like a few days ago. " Brad memandangi tubuh ponakannya yang basah kuyup oleh air hujan. Ia memang tidak terlalu khawatir dengan komdisi ponakannya itu tapi tetap saja, ia takut ponakannya itu kembali terkena flu walau tidak separah seperti sebelumnya.
      Joseph langsung berlari ke dalam rumah untuk mengisi kembali baterai HPnya yang sudah habis. Teriakan pamannya pun tak dihiraukannya. Ia ingin cepat - cepat menelefon mamanya lagi supaya mamamnya itu tidak khawatir berkepanjangan untuk yang kesekian kalinya. Joseph baru memikirkan suatu ide yang seharusnya sudah dilakukannya sejak tadi. Kenapa ga minjem HP paman saja untuk nelefon mama kan lebih praktis daripada harus menunggu baterai HP terisi penuh, pikir Joseph.

Taman Cinta

     Nala, Rena, dan Bart – tiga orang sahabat yang sudah saling mengenal dari kecil. Mereka selalu berpergian secara bersama – sama. Mereka pun memiliki hobi yang sama, yaitu penyuka lingkungan. Kota yang mereka tempati memang sedikit kumuh, sampah, pengemis, wanita pria atau waria, dan bandar narkoba bertebaran di mana – mana. Kota ini memiliki nama yang cukup unik bagi orang – orang yang berwisata ke sini, Kota Fantasi. Setiap orang bebas berimajinasi di kota ini, tak ada yang melarang.
     Pada saat itu Nala kecil sedang bermain – main dengan tanaman kesayangannya. Ia berpikir kalau tanaman ini hidup pasti akan sangat menarik tapi bagaimana caranya? Setiap hari Nala selalu merawat tanamanya, ia masih terus berharap dan berharap suatu hari nanti tanamannya dapat hidup, hidup dalam arti yang sebenarnya. Suatu hari, Nala kecil sedang menyirami tanamnya tapi ia begitu penasaran terhadap suara berisik dari rumah tetangganya. Ketika ia iseng ingin mengerjai tetangganya itu, keisengannya berbalik kepadanya.
     “ Hahahaha, liat mukamu. Mukamu lucu sekali gadis kecil. Maaf aku sudah membuatmu terkejut. “ anak laki – laki dengan tinggi yang cukup membuat Nala harus mendongak supaya bisa melihat wajahnya. Anak laki – laki yang sudah bisa membuat Nala tertawa renya, tidak seperti biasanya. “ Kenalkan namanku Bart. Kamu siapa dan apa yang kamu lakukan di sini? “ lanjut Bart. Ia agak sedikit bingung juga ketika gadis imut yang berdiri di hadapannya ini hanya diam saja.
     “ Hai, apa yang kamu lakukan tadi? Mm, kamu orang baru ya di sini? Oh ya, namaku Nala kalau kamu siapa? “ akhirnya Nala dapat menemukan suaranya kembali. Kalau ia terus menerus berdiam diri bisa disangka suka lagi.
     “ Namaku Bart. Hem bisa dibilang begitu, aku baru pindah ke sini beberapa hari yang lalu. Aku kira tak ada anak sebayaku di daerah ini tapi ternyata aku salah. “ gadis ini menggemaskan sekali. Tawanya yang renyah, tingkah lakunya yang lucu, dan suaranya yang cempreng itu membuat Bart sedikit – terpana.
     Semenjak hari itu, Nala dan Bart sering bermain bersama. Perlahan – lahan Nala dapat melupakan keinginanya untuk melihat tanamanya hidup dan bisa menemaninya bermain. Sekarang, Nala tak lagi merasa kesepian karena sudah ada teman manusia yang menemaninya hampir setiap hari. Sampai suatu saat ada seorang keluarga baru yang menghuni rumah di depan rumah Bart. Keluarga itu memiliki anak perempuan sebaya Nala dan Bart. Anak perempuan ini agak sedikit pemalu tapi kalau sudah kenal dengannya pemikiranmu dapat berubah. Perkenalan Bart dan Nala dengan anak perempuan ini cukup aneh untuk diingat.
     Saat itu, Rena, anak perempuan keluarga baru yang menetap di depan rumah Bart sedang mengorek – ngorek tanah untuk mengambil cacing tanah yang berada di dalamnya. Nala baru saja pulang dari sekolah ketika ia melihat kegiatan yang dilakukan oleh Rena. Ia pun mampir sebentar ke rumah tetangga barunya itu dengan sedikit mengendap – ngendap.
     “ Hai, apa yang kamu lakukan? Oh ya, kita belum kenalan kemarin. Kenalkan, aku Nala dan anak laki – laki yang suka bermain denganku bernama Bart. “ celoteh Nala panjang lebar. Ia tak menyadari ada rona merah di pipi anak kecil yang sedang menggali tanah di hadapannya ini.
     “ Maaf, aku tidak bermaksud apa – apa tapi kelihatannya kau dan Bart sedikit akrab. Mm, namaku Rena. Senang berkenalan denganmu. “ jawaban yang keluar dari bibir mungil gadis cilik di hadapannya ini membuat Nala sedikit tersenyum geli. Pemalu sekali anak ini, pikir Nala.
     “ Tidak apa – apa. Sudah banyak orang yang mengira aku dan Bart seperti seorang kakak dan adik. Kapan – kapan kita main bareng yah? Mau ‘kan? “ Nala menanggapi pertanyaan dari Rena dengan seulas senyum hangat yang bersahabat.
     Perkenalan Nala dan Rena pada hari adalah awal dari persahabatan antara Nala, Rena, dan Bart, mereka suka bermain bersama, bahkan tak jarang mereka pulang saat malam mulai menampakkan wajahnya.  Mereka terus berimajinasi, mulai dari kenginan Nala yang ingin tanamanya hidup, Rena yang bertanya – tanya kenapa cacing suka hidup di tanah, dan Bart yang sering memikirkan tanaman layu kalau disiram dengan cairan ajaib akan hidup kembali. Mereka tumbuh bersama – sama, walau lingkungan tempat mereka tinggal kurang mendukung bagi perkembangan anak seusia mereka.
     Suatu hari, Rena pulang lewat dari jam 7 malam. Ia berjalan mengendap – ngendap lewat pintu belakang tapi ia tidak tahu kalau Bapaknya, Pak Dadan sudah menunggu di ruang tamu. Ia terus berjalan secara perlahan – lahan dan secara tiba – tiba lampu rumahnya sudah menyala kembali.
     “ Darimana saja jam segini baru pulang? Kamu masih 12 tahu tapi sudah keluyuran sampe jam segini. “ amarah Pak Dadan tak dapat disembunyikan. Ia sebenernya sudah tak setuju dengan persahabatan anaknya dengan Nala dan Bart tapi raut wajah Rena waktu itu membuat hati Pak Dadan luluh.
     “ Habis main di rumahnya Nala, Pa. Maaf ya, Pa, aku udah buat khawatir. “ permintaan maaf Rena diucapkan dari dalam hati tapi sepertinya Pak Dadan tak mau mendengarnya.
     “ Sudah papa bilang kalau Nala dan Bart dapat membawa pengaruh buruk untuk kamu. “ Pak Dadan langsung menyesali ucapannya saat melihat air mata mulai menetes dari sudut – sudut mata anaknya.
     Semenjak percakapan dengan papanya, Rena mulai menjaga jarak dari Nala dan Bart. Ia tahu, ia ingin memiliki teman manusia tapi papa dan mamanya selalu berpikiran bahwa tidak ada manusia yang baik. Apalagi lingkungan tempat tinggal Nala dan keluarganya sangat “ jelek “. Akhirnya, Nala mengalah kepada papanya. Lebih baik ia mulai menggali tanah kembali seperti saat sebelum ia mengenal Nala dan Bart. Tetapi, entah apa yang membuat papa dan mamanya berubah pikiran mengenai Nala dan Bart hari itu. Ke dua orang tua Rena tiba – tiba saja memperbolehkan Nala dan Bart berteman dengan anak mereka. Rena hanya mengingat mamanya berkata seperti ini, “ Kelihatannya Nala dan Bart anak baik, papa dan mama mengizinkan kamu berteman dengan mereka tapi ingat ya nak, jangan pulang lewat dari jam 7 malam. “ Betapa senangnya Rena saat mendengar ucapan mamanya. Ia pun menatap papanya dengan raut sumringah. Ia pun memberanikan diri untuk meminta izin pergi ke kota sebrang demi melihat kondisi kota itu. Dan betapa senangnya Rena saat papa dan mamanya hanya mengangguk saat ia meminta izin. Keesokan harinya, Nala, Rena, dan Bart mempersiapkan segala keperluan untuk hidup di kota sebrang selama beberapa hari. Hari yang dinanti – nantikan tiba, Nala, Rena, dan Bart berangkat dengan senyum bahagia terpampang jelas di wajah mereka.
     “ Waw, waw, waw. Ini baru namanya kota, bagus banget. Ga ada sampah, ga ada waria, ga ada Bandar narkoba tapi hanya sepi, sepi yang nyaman. “ seperti itulah kesan pertama Bart saat ia menginjakkan kaki di kota sebrang, Kota Nyata. Aneh sekali, pikir Bart. Nama kota seperti nama film hantu.
     “ Yuk, kita langsung ke rumah pamanku. Di sana kalian akan melihat berbagai jenis tanaman yang terawat baik. “ Rena tiba – tiba memecah keheningan sesaat yang menyelimuti mereka bertiga.
     Sesampainya di rumah paman Rena, Nala langsung terkagum – kagum dengan berbagai jenis tanaman yang terawat di halaman depan dan halaman belakang rumah itu. Saat Nala sedang mengagumi tanaman mawar hitam yang jarang ditemuinya di Kota Fantasi, Bart mengagetkan Rena dengan cacing dan kodok yang ia dapatkan dari sekitar rumah. Saat Bart dan Nala sedang bermain kejar – kejaran di halaman rumah, Rena membawa beberapa camilan.
     “ Nala, Bart, ayo ke sini. Nih, pamanku udah nyiapin beberapa camilan untuk kita menginap di sini. Ayo di makan, enak – enak loh. Oh ya, tadi paman minta tolong sama aku untuk nganterin kalian berdua ke taman dekat mal, lumayan jauh sih. Kalian mau jalan kaki atau naik sepeda? “ Nala dan Bart langsung tertawa geli saat mengetahui sifat cerewet yang ternyata dimiliki oleh Rena. Mereka terus tertawa tanpa menyadari raut wajah Rena yang agak sedikit kesal.
     “ Makasih, ya. Oh ya, pamanmu mana? Kok ga keluar – keluar lagi? Kita naik sepeda aja ke tamannya. Udah mau sore jadi biar menghemat. “ akhirnya Nala dan Bart bisa meredan tawa mereka. Mereka pun hampir menyahut secara bersamaan saat menjawab rentetan kalimat Rena.
     Taman itu begitu sejuk dan nyaman. Di kotanya, Nala dan Bart belum pernah menemukan taman seindah, senyaman, sesejuk, dan sebersih ini. Sejauh mata memandang tidak ada sampah, hanya ada tanaman, tanaman, dan tanaman juga orang – orang yang bersantai dengan nyamannya. Rasanya aneh ketika Rena memutuskan pindah ke kota yang berbeda 180 derajat dari kota ini. Entah apa yang membuat Rena pindah dari Kota Nyata ke Kota Fantasi. Tetapi, Rena secara tiba – tiba mengungkit alasanya mengenai kepindahannya. Ternyata di Kota Nyata, orang – orang tidak boleh berimajinasi sesuka mereka. Mereka harus berpikir sesuai dengan alam. Alam harus dirawat dan dijaga di kota ini sedangkan di Kota Fantasi, alam boleh dirubah sesukanya. Di Kota Nyata alam benar – benar terpelihara dengan sangat baik. Ada yang menarik perhatian Nala ketika ia sedang mengagumi suasana taman sore itu. Sekelompok orang yang berkumpul dengan pakaian serba hijau. Rasa penasaran yang sudah mencapai puncaknya membuat Nala ingin melihat lebih dekat kegiatan apa yang akan dilakukan orang – orang itu. Oh, cara menanam tanaman yang baik, pikir Nala. Saat sedang asyik – asyiknya menonton cara menanam tanaman yang baik, salah seorang pembimbing ada yang memanggil Nala.
     “ Hai, kau yang berdiri di belakang. Sedang apa kau di sini? Kalau mau mengganggu lebih baik pergi saja. “ ketus sekali ucapan orang itu. Nala jadi sedikit mundur teratur ketika bahunya tak sengaja menabrak seseorang.
     “ Maaf..maaf. “ gumam Nala tak jelas. Hatinya seperti disetrum listrik ribuan volt ketika ke dua bola mata teduh itu menatapnya. Ia jadi salah tingkah sendiri.
     “ Ayo, sini aku bantu kamu cara menanam yang baik dan benar. “ suara laki – laki itu dapat membuat hatinya berdegup kencang. Entah apa yang sedang dirasakannya?
     “ I..iya. Makasih. Maaf ya, aku tadi mundur tidak lihat – lihat. “ Nala tetap berusaha mengucapkan maaf dengan sedikit gemetaran demi meredam degup jantungnya.
     Bart yang melihat Nala dari kejauhan langsung ingin menghampiri perempuan itu tapi saat melihat seorang laki- laki yang dengan akrabnya bisa ngobrol dengan Nala, ia mengurungkan niatnya. Entah perasaan apa yang dirasakannya sekarang ketika melihat Nala dengan laki – laki lain bisa ngobrol dengan akrab.
     Setelah selesai mengikuti kegiatan menanam tanaman, Nala berusaha mencari laki – laki yang tadi sudah menolongnya tapi nihil. Laki – laki itu tak ada di mana pun. Saat ia sedang bingung mencari, tiba – tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Nala langsung terkesiap, takut jika itu itu adalah orang jahat. Tetapi, Nala langsung tersenyum samar saat mengenali teman di sekolah dasar dulu, Nana.
     “ Hai, Na. Apa kabar? Ih gila lo ya, abis pindah ke sini pas kelas 3 udah jarang komunikasi. “
     “ Setelah hampir 5 tahun ga ketemu, cuma itu yang lo mau omongin. Huh, kalau gitu tadi aku ga usah cape – cape nyapa kamu. Hehehe. Oh, ini kenalin teman – temanku, ada Nina, Fisa, Albert, Gisel, dan Dan. “ saat melihat Dan, Nala langsung terkesiap. Laki – laki ini kan yang tadi menolongnya. Duh, mata itu, matanya teduh banget sih.
     Dan yang melihat kebingungan Nala langsung berinisiatif mengenalkan dirinya sendiri, “ Hai, oh jadi nama kamu Nala. Maaf ya tadi aku ngagetin kamu. Kamu tinggal di mana? Kapan – kapan jalan bareng yu. Maksudku bareng temen – temenmu, boleh? “ Nala yang menyadari arah mata Dan langsung melihat ke balik pundaknya, mukanya merona malu ketika melihat Rena tertawa geli sedangkan Bart, entahlah.
     “ Hmm, boleh aja sih. Tapi, besok aku harus balik ke kotaku lagi. Kotaku di sebrang kok, Kota Fantasi, tahu ‘kan? “ Nala secara spontan menyelipkan poninya ke balik kupingnya. Saking gugupnya, ia tidak dapat menyembunyikan rona merah di wajahnya.
     “ Sampai ketemu lagi, La. Jangan sombong ya, nomorku masih yang lama kok. Telfon aja kalau ada apa – apa. “ Nana langsung menetralisir keadaan saat melihat gelagat aneh antara Dan dan Nala.

      Pertemuan singkat antara Dan dan Nala telah membuat hati Nala ikut tersenyum. Ada apa denganku, batin Nala. Tetapi, ia tahu satu hal. Suatu hari nanti mungkin aku dan Dan bisa bertemu kembali, iya aku yakin akan hal itu.