Selasa, 16 Juli 2013

Tears in German

      Siang itu, Ryota baru pulang dari kampusnya di Munchen. Tak terasa sudah 3 tahun lebih ia tinggal di Munchen, kota tempat ayahnya bekerja sekarang. Ia berencana untuk pergi ke Bandar Udara Munchen untuk menjemput Reina, pacarnya. Tetapi, perasaanya kepada Mizuta masih sama seperti 3 tahun lalu. Ia tak tahu mengapa perasaan itu seakan - akan sangat susah dihilangkan, kalau pun ia mau tetap wajah Mizuta masih terbayang - bayang di benaknya. " Kenapa?!?! Kenapa hati ini tetap tak mau melupakanmu, Mizuta?!?! " hanya kekeselan seperti itulah yang bisa diungkapkan Ryota untuk menghapus rasa kangenya terhadap cewek yang telah mengobrak - abrik hatinya. Ia sendiri tak tahu mengapa hati ini susah sekali untuk move on. Padahal, sudah hampir 4 bulan dirinya dan Reina jadian.
      Mizuta baru sampai di Bandar Udara Munchen siang itu. Ia berencana untuk libur semesternya kali ini, ia akan berlibur di Munchen selama satu minggu. Mizuta baru saja keluar dari tempat pengambilan bagasi. Ia langsung duduk di salah satu bangku dekat toko minuman. Sudah hampir 1 jam menunggu, seseorang yang akan menjemputnya tak kunjung datang. " Duh, dimana sih Kak Takashi? Katanya pas aku nyampe tinggal telfon tapi udah ditelfon berapa kali pun tetep ga diangkat. " itulah pelampiasan kekesalannya di dalam hati.
      " Lagi nungguin siapa sih cewe cengeng? " tanya seseorang yang sedang duduk di sebelah Mizuta. Dan suara itu, suara yang tak terasa asing di telinga Mizuta.
      " Ryota...Ryota?? Kok kamu bisa ada di sini? " tanpa ragu Mizuta langsung menjawab pertanyaan orang itu dengan menyebutkan nama. Karena, baginya seseorang yang memiliki suara berat dan mirip burung beo hanyalah Ryota, sahabat sekaligus orang yang disukainya. Ia sendiri tak tahu sejak kapan perasaanya kepada Ryota menjadi perasaan sayang yang lebih dari sekedar sahabat.
      " Hei, kok bengong? Gomennasai. Tadi jalanan sangat padat. Udah lama nunggunya? " tanya Takashi kepada Mizuta dengan wajah bersalah.
      " Hmm...tadinya aku kesel sih tapi karena ada teman jadi aku merasa sedikit terhibur. " jawab Mizuta sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tunggu. Nihil. Orang yang dicarinya menghilang.
      " Siapa? Tapi sekarang orangnya di mana? " tanya Takashi dengan wajah kebingungan yang sama dengan Mizuta sambil mengikuti arah pandangan cewe itu.
      " Kayanya aku ngehayal. Mana ada temen - temenku yang kuliah di sini kecuali.... " Mizuta tak berani meneruskan kalimatnya. Tetapi, seakan - akan ada angin ribut, Takashi tahu siapa orang yang dimaksud Mizuta.
      " Ryota? Oh ya kan katanya kamu ke sini mau sekalian ketemu dia untuk lepas kangen. " Takashi merasa sangat bodoh. Kalimat terakhir yang ia ucapkan begitu dingin dan kata - kata itu keluar tanpa bisa dihentikan oleh mulutnya sendiri.
      " Gomennasai. Aku ga maksud untuk nginget - nginget dia lagi. " Mizuta meminta maaf kepada Takashi. Ia tahu, perkataanya tentang Ryota dapat membuat Takashi tersinggung. Tetapi, rasa kangennya melampaui akal sehatnya.
      " Tuh dia Ryota. " pancing Takashi dengan nada dingin.
      " Tolong ya kak jangan ngomongin dia lagi. " Mizuta merasa kesal terhadap sikap sinis Takashi terhadap Ryota. Ia tahu bahkan sangat sangat tahu. Takashi memang pacarnya sekarang tetapi ternyata pilihannya salah. Takashi tak seperti yang di pikirkannya.
      Di tempat lain, Ryota sedang memandangi perdebatan Takashi dan Mizuta. Ia merasa bersalah karena dirinya dua orang itu harus melakukan perdebatan kecil. Akhirnya, untuk menghapus sedikit kesalahannya, ia keluar dari tempat persembunyiaannya. Tetapi sialnya, Takashilah yang melihat dirinya berjalan sedangkan Mizuta tak melirik ke arahnya sedikit pun.
      Ryota sedang berusaha memikirkan cara yang tepat untuk menemui Mizuta. Ia akhirnya memutuskan untuk memikirkan sebuah cara untuk menemui Mizuta sambil menunggu Reina di salah satu cafe. Tiba - tiba saat ia sedang merenung, Reina menghampirinya sambil membawa tiga kantong belanjaan.
     " Hey bee, maaf aku lama. Tadi pas aku ambil bagasi koperku tertukar dengan seorang cewe. Kelihatannya cewe itu bukan orang Jerman atau Perancis. Tetapi, ia lebih mirip orang Asia. " jelas Reina kepada Ryota panjang lebar sambil menarik salah satu kursi di depan Ryota.
     " Asia? Hmm...rambutnya lurus sebahu? Memakai dress oranye dan legging kuning? "  tanya Ryota kepada Reina dengan wajah penasaran. Ia takut kalau cewe itu Mizuta. Dan bodohnya ia menyuarakan isi pikirannya.
     " Kok kamu bisa tahu? Padahal aku baru ngomong kaya gitu?? Apa kamu kenal atau dia cewemu yang di Jepang? " pas sekali, pas kena dan pas nyeri di hati yang dirasakan Ryota. Entah mengapa Reina bisa membaca pikirannya dengan satu tebakkan tepat. Ryota langsung diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.
     " Kok kamu diem? Keep calm, bee. It's okay. I know it's hard for you but believe me, maybe you can forget her if the right time come to you. " setelah Reina memberi semangat kepada Ryota, hanya hening yang menyelimuti mereka berdua.
     Tiba - tiba saja Ryota begitu kaget ketika melihat seorang cewe yang sedang memesan kopi. Reina yang daritadi asyik mengoprek isi belanjaanya begitu bingung ketika melihat ekspresi Ryota. Begitu tahu apa penyebab kakegetan Ryota, Reina langsung memanggil cewe itu dengan suara cukup keras. Ya, cewe berambut hitam kecoklatan sebahu itu bernama Mizuta, orang yang disukai Ryota semenjak SMA.
     " Eh oh eh, kita pernah kenal? " Mizuta begitu kaget ketika mendengar namanya dipanggil oleh seorang cewe berambut pirang kemerahan. Ia begitu terpaku kepada cewe itu sehingga tidak menyadari kalau orang yang duduk di sebrang cewe itu Ryota.
     " Mungkin kamu lupa kejadian di tempat bagasi tadi. " jelas Reina dengan nada kurang ramah.
     " Oh maaf tadi aku sedang buru - buru. Tetapi, kita belum berkenalan cuma kenapa kau tahu namaku? " tanya Mizuta kepada Reina dengan wajah kebingungan.
     Reina tak menjawab pertanyaan itu tetapi ia menunjuk orang yang sedari tadi duduk dengan wajah kaget dan...takut di sebrangnya. " Aku tahu dari bee, eh maksudku Ryota. " jelas Reina kepada Mizuta tanpa disuruh.
     Mizuta langsung memalingkan kepalanya ke arah yang ditunjukkan Reina. Betapa kaget dirinya ketika ia melihat cowo yang sudah membuat hatinya berantakan semenjak kepergiannya tiba - tiba hadir di hadapannya. " Kau pergi tak memberi kabar! " Hanya kalimat itulah yang sanggup dikatakan oleh Mizuta. Dan saat itu juga, hatinya meneriakkan nama seseorang yang sedang menunggu di luar cafe.
     Tiba - tiba saja ada suara seorang cowo yang membisikkan sebuah kalimat penuh kemarahan kepada Mizuta tepat di belakangnya. Saat Mizuta menoleh ke belakang, Takashi sudah berdiri di sana dengan wajah sebal.
     " Pantas saja lama, ternyata kau kembali menemui cowomu yang di Jepang. " sindir Takashi kepada Ryota dengan tatapan sinis.
     " Eh oh eh...gomenne Takashi - san, aku hanya kebetulan saja bertemu dengan Ryota. " jelas Mizuta kepada Takashi dengan wajah penuh penyesalan.
     Reina hanya dapat memandangi ketiga orang di sekelilingnya. Ia tak tahu mengapa tiba - tiba ada hawa dingin yang menyelimuti ketiga orang itu, terlebih Takashi. Dan, ia tak mengerti isi pembicaraan Mizuta dan Takashi. Baginya, baru kali ini ia mendengar dua orang tidak berbicara dengan bahasa Inggris melainkan bahasa asing.
     " Sebaiknya aku dan Reina pergi. Tak baik aku menguping pembicaraan dua orang yang sedang berantem. " akhirnya, Ryota dapat menemukan kembali suaranya. Ia langsung membalas pembicaraan kedua orang itu dengan bahasa asing yang tak dimengrti Reina. Ya, bahasa yang digunakan Mizuta, Takashi juga Ryota adalah bahasa Jepang.
      " Pengecut amat lo...hahaha. Takut sama gue kan?! " saat Takashi melihat Ryota mulai bangkit dari tempat duduknya sambil memegangi tangan Reina, ia menyindir Ryota dengan nada ketus.
      Ryota tak menghiraukan sindiran Takashi, ia hanya berlalu sembari bergegas membantu Reina membawa barang bawaanya. Ia hanya bisa memikirkan satu hal, yaitu kesalahan Mizuta dalam menjatuhkan pilihannya. Tetapi, Ryota langsung seperti patung begitu mendengar Mizuta bersuara.
      " I know, I'm wrong about my choice. I know since my heart say that you're my destiny. I don't know why? But the important thing is I love you. I know you won't with me, maybe I'm too late to say this. You know why? Because I'm afraid if I'm losing you. I don't know my plans for my future when I know you won't with me. " seakan - akan Mizuta bisa menjawab pertanyaan yang berkecamuk sekian lama di dalam pikiran Ryota. Tetapi, entah mengapa, jawaban itu hanya seperti kertas kosong yang sudah terlanjur usang untuk disentuh oleh sebuah pena.
      Takashi tak tahu isi pembicaraan Mizuta tadi karena ia tak bisa berbahasa Inggris. Tetapi, ketika ia melihat raut wajah Ryota, sepertinya pembicaraan Mizuta tadi cukup membuat Ryota hampir meneteskan air mata. " Sebaiknya aku menunggu di luar saja. " sebelum Mizuta sempat berbicara untuk menahan Takashi keluar dari cafe, Takashi sudah berjalan ke luar cafe. Entah mengapa, ia baru sadar sekarang mengenai perubahan sikap Mizuta beberapa bulan lalu saat dirinya menelefon untuk mengabari keadaanya.
      Nafas Reina langsung tercekat saat mendengar pengakuan Mizuta kepada Ryota. Ia tak tahu, perasaan apa yang mendorong Mizuta untuk melakukan pengakuan di hadapan dirinya, Takashi, dan Ryota tadi. Udara di sekeliling Ryota dan Mizuta seakan - akan menjadi hangat. Rasanya dirinya ingin menarik Ryota keluar dari cafe dan menjauh dari Mizuta. Tetapi, sebagian dirinya berkata untuk membiarkan Ryota menanggapi dulu pengakuan dari Mizuta.
      " I'm so sorry Mizuta but I don't know why my feeling doesn't same anymore. Now, I know what must I do for my future. This feeling which is I have, has answer by you right now. I don't know why my heart feel sad not happy. So, I'm so sorry to tell you this marriage. Me and Reina will have our marriage, maybe after I have graduate from my university. " setelah menjawab pengakuan dari Mizuta, tiba - tiba saja ada perasaan lega yang menyusupi hatinya. Reina pun ikut senang atas jawaban Ryota tetapi ia pun ikut merasakan kesedihan Mizuta. Dan Ryota baru menyadari satu hal, yaitu perasaanya sudah lama berubah semenjak ia mengenal Reina. Hanya sebagian dirinya yang mempertahankan jawaban atas perasaanya dari Mizuta. Setelah ia mendapat jawaban dari Mizuta, ia tahu bahwa ia bisa melanjutkan hidupnya bersama Reina.
      " I know I'm too late. But I feel stupid to let you know  what I feel right now. And I feel sad of your answer. Maybe, I must forget you, Ryota but I can't. I regret my answer. Now, what must I do? I don't know my plans for the future. Takashi give me his heart but I just make he sad and angry. So, what do you think about my relationship with Takashi? Broke up or not. " Mizuta sudah tak bisa lagi membendung air matanya. Ia begitu menyesal dengan penghianatannya terhadap Takashi. Saat Takashi mulai menerima dirinya, tiba - tiba saja hatinya berpaling. Ia tak tahu apa yang harus dikatakannya kepada Takashi mengenai isi hatinya. Ia takut kehilangan Takashi tetapi sebagian dirinya yang lain marah kepadanya. Haruskah aku putus dengan Takashi? Atau aku melanjutkan saja hubunganku dengan Takashi? Tapi, jika tetap kujalani, aku takut suatu hari nanti rahasia hati ini terbongkar dan membuat Takashi lebih sakit.
      " Lebih baik kamu putus dengan Takashi. Dan lebih baik kamu mengasih tahu Takashi sekarang mengenai isi hatimu. Memberitahunya sekarang tak akan sesakit memberitahunya nanti ketika kau sudah siap. " entah dorongan apa yang membuat Ryota menjawab pertanyaan Mizuta dengan bahasa Jepang. Jawaban Ryota mampu membuat Takashi masuk kembali ke dalam cafe dan langsung meminta penjelasan dari Ryota.
      " Maksud pernyataanmu tadi apa?! Apa salahnya jika Mizuta suka padaku?! " suara itu, suara yang dapat memekakkan telingan. Berat dan dingin.
      " Lebih baik kau saja yang meminta penjelasan dari Mizuta. Aku masih banyak urusan yang harus diselesaikan. " balas Ryota dengan nada yang tak kalah berat dan dingin. Ia akhirnya melangkahkan kaki keluar dari kafe itu sendirian. Dan reaksi Reina saat melihat perdebatan Ryota, Mizuta juga Takashi hanya diam mematung. Saat Ryota melangkahkan kaki keluar dari kafe pun, Reina tak berusaha menahan atau mengejar. Ia berpikir bahwa Ryota memerlukan waktu sendiri saat ini.
      " Maksud Ryota tadi apa Mizuta - san?! Aku tidak senang dibuat penasaran seperti ini?! " Takashi meminta penjelasan dari Mizuta mengenai omongan Ryota tadi. Tetapi, yang bisa dilakukan Mizuta hanya menangis. Bagi Takashi tangisan itu adalah jawaban atas semua pertanyaan di dalam hatinya selama beberapa bulan ini. " Jadi benar kamu suka Ryota?! " suara Takashi makin terdengar berat dan juga dingin. Tetapi untuk yang kesekian kalinya, Mizuta hanya bisa meneteskan air mata. Dan air mata itu pun menjadi jawaban atas pertanyaan Takashi.

     

Sakit

Rasa senang...
Perasaan bahagia...
Semua itu...
Hanya penghias hati...

Rasa sakit...
Perasaan yang dikelilingi kabut hitam
Lidah yang terasa pahit
Itulah arti padamnya api cinta

Bahagia diganti sedih
Senang dan senyum terganti oleh emosi juga tangis
Tertipu, tak berdaya
Cinta hanya sebuah kata kiasan

Bahagia itu...penyamaran
Sedih menandakan hentinya perjuangan
Dikecewakan...
Bahagia ialah tipuan di awal
Tangislah yang memerosokkan kita ke dalam jurang terjal dan dalam...

Jumat, 12 Juli 2013

Panas Api Tak Semembara Cinta

Panas tubuhku..
Berapi - api pikiranku...
Membakar setiap pori - pori...
Menyesakkan sampai ujung kuku...

Membara bagaikan api...
Menyulut emosi...
Ku sulit bernapas...
Ku sulit lepas...

Penghianatan, kesedihan, dan rapuh
Bahagia, indah, dan berbunga - bunga
Kau sudah berani....
Berani memainkan api dalam hatiku

Kebahagianku hanya ilusi
Kesedihanku ialah realita
Di dalam sini...
Kau telah menyulut api cinta

Jumat, 03 Mei 2013

Perasaanku Padamu Masih Sama

     " Carseeeey!!! "
     " Siapa itu? Pagi - pagi begini biasanya temen - temen kampus masih di jalan. " tanya Carsey dalam hati.
     " Hey...lo gue panggil kok ngga nyaut. " sambung suara misterius itu.
     Carsey langsung tersentak begitu teringat akan suara itu, suara yang selama 2 tahun telah mengisi hatinya dan juga menghancurkannya dalam beberapa bulan saja. Ia ingin menangis lagi begitu teringat kejadian 2 bulan lalu. " Hey,Cane...apa kabar? Akhirnya Carsey dapat menemukan kembali suaranya dan menjawab dengan nada senormal mungkin.
     " Hey...kok lo tiba - tiba langsung murung gitu? Sorry, kalau gue nganggetin lo. " Cane menangkap wajah kebingungan Carsey. Ia juga sebenernya berusaha mengeluarkan suara dengan nada senormal mungkin.
     " Oh eh...gue ke kelas duluan ya, Cane. Hehehe. Biasa ngerjain tugas. Bye. " Carsey tak sanggup lagi menahan air matanya dan untuk mejaga hatinya, ia memutuskan untuk menjauh dari Cane, mantan pacarnya. Walau terasa berat tapi itu adalah jalan yang terbaik.
     " Oh ya nanti sore gue mau ke toko buku yang biasa. Lo mau ga nemenin gue? " tanya Cane dengan nada gugup.
     " Maaf, nanti sore gue ada acara sama teman - teman les. Lo bisa kan cari teman yang lain untuk nemenin lo ke toko buku? " Ia akhirnya menumpahkan seluruh air mata untuk yang kesekian kalinya, rasa sakit itu kembali timbul. Ia berlari ke ruang kelasnya karena di sanalah tempat satu - satunya yang bisa ia jadikan tempat menangis, menumpahkan rasa sakit dan rindunya.
     " Ya, ga apa - apa. " seperti dugaanya, Carsey menolak ajakan itu. Dan untuk yang kesekian kalinya, Cane merasa sangat menyesal atas tindakan bodoh yang ia lakukan 2 bulan lalu. Hubungannya dengan Carsey hancur karena satu tindakan bodoh, menembak cewek lain di depan Carsey. Walau ia tahu itu semua hanya permainan bodoh yang diciptakan teman - temanya tapi karena permainan itu pula hubungannya dengan Carsey hancur. " Aaaarrrggghhh...bodoh bodoh bodooooh!!! Kau kemanakan otakmu Cane, kau telah menyakiti cewe yang kau sayangi." bentak Cane kepada dirinya sendiri di dalam hati.
     " Hai, Cane. Tak biasanya kau datang sepagi ini. Tadi aku sempat mampir ke rumahmu tapi adikmu bilang kau sudah pergi duluan ke kampus. Ada hal apa yang membuatmu datang sepagi ini?" suara itu, suara yang sangat dibenci Cane. " Hello. Kau dengar tidak sih?'
     " Iya iya, aku mendengarmu nenek sihiiir!! Ada apa kau mencariku??!!! Aku tak butuh dirimu. Yang aku butuhkan Carsey. " walau Cane berbicara dengan nada normal tetapi itu lebih mirip teriakan dan bentakan di telinga Anne. " Aku mau ke perpustakaan dulu. " Cane mengakhiri bicaranya dengan nada yang sangat ketus.
     " Kenapa sih yang ada di pikiranmu cuma si cewe egois, cengeng, cemburuan kaya si Carsey. " teriak Anne dengan suara lantang kepada Cane. Ia kesal karena semenjak ia bertemu Cane 5 bulan lalu, Cane tak pernah meliriknya sedikit pun.
     " Itu semua karena Carsey bukan cewe matre, cerewet, cemburuan, pembuat sensasi seperti kau, Anne!!! " tepat sebelum Cane menginjak anak tangga yang ke dua, Cane membalas teriakan Anne dengan suara yang sangat sangat ketus. " Dan Carsey bukan cewe pembuat sensasi, ia cewe pandai yang selalu juara di kelas dan kampusnya!!! Bukan seperti kau, cewe yang hanya mengandalkan kecantikan dan kekayaan saja!! " lanjut Cane dengan suara lantang dan ketus. Dan omongan Cane tadi cukup membuat Anne lari masuk ke dalam kelasnya yang berada tepat di sebelahnya.
     "Kenapa sih hati Cane susah sekali ditaklukkana olehku??! Padahal masih banyak cowo yang mau denganku tetapi yang aku mau hanya Cane. Cane harus bisa melupakan si Carsey. Haruuuus!!! " ambisi dalam hati dan pikiran Anne sudah tak bisa diredam lagi. Ia sangat mengagumi Cane semenjak ia melihat Cane bermain basket bersama Carsey 6 bulan lalu dan tak butuh lama untuk merubah rasa kagum itu menjadi suka di hati Anne. Karena bagi Anne tak ada cowo yang tak bisa ia taklukkan, kecuali Cane. Karena hati Cane sudah terkunci dengan Carsey sebab hanya Carsey satu - satunnya perempuan yang mengertinya dalam segala hal.
     Saat sedang menangis di dalam kelas tiba - tiba ada yang mendatangi Carsey, dan orang itu adalah Husto, cowo yang menyukainnya semenjak ia masih bersama Cane. Dan ia pula yang telah menyusun rencana bersama Anne 2 bulan lalu agar hubungan Cane dan Carsey berakhir. Ia dan
Anne menyusun rencana dengan menyuap beberapa teman Cane agar mereka mau diajak bermain " Pemerintahan ", saat teman - teman Cane mau diajak berkompromi, mereka mulai mengajak Cane 
dengan segala bujukkan dan akhirnya Cane mau ikut bermain. Sesuai rencana saat bagian Cane 
untuk diperintah, Husto menyuruh Cane menembak Anne di depan Carsey. Bodohnya, Cane mau 
menuruti perintah Husto, dengan senyum setan Husto dan Anne saling mengedipkan mata, tanda 
rencana mereka berhasil. Dan benar saja, saat Carsey melihat Cane menembak Anne, hatinya 
langsung hancur seperti ditabrak oleh tank baja. Carsey langsung lari ke kamar mandi dan menangis 
sepuasnya sedangkan Cane berusaha mengejarnya tetapi Anne menahannya dengan berkata, " Aku 
belum memberimu jawaban, Cane. Dan jawabanku adalah ya. Ya aku mau menjadi pacarmu. " saat 
itu juga, Anne memperlebar senyumnya karena kemungkinan besar rencananya akan berhasil tetapi 
Cane menjawab dengan nada yang sangat kasar bagi Anne, " Aku tak akan pernah mau menjadi 
pacarmu, Anne. Cintaku hanya milik Carsey seorang. Dan ini hanyalah sebuah permainan bodoh 
dengan orang - orang bodoh yang mau mengikutinya. Dan aku termasuk orang - orang itu. " Cane 
mengucapkan kalimat yang cukup membuat Anne menjerit dalam hatinya. Malamnya 
Carsey menelfon Cane dan mereka putus malam itu juga.
     Husto dan Anne memiliki ambisi yang sama dan untuk rencana selanjutnya mereka berdua akan bekerja sama lagi untuk membuat Carsey dan Cane melupakan satu sama lain. Tetapi sebenarnya Husto merasa kasihan kepada Carsey karena ia melakukan ini semua untuk Anne bukan Carsey. Husto menyukai Anne semenjak SMP tetapi ia tak pernah bisa mendekati Anne karena Anne selalu menghindar darinya setiap dia berusaha mengajak ngobrol. Tapi 2 bulan lalu bagaikan mimpi bagi Husto karena ia tak hanya bisa dekat dengan Anne tapi ia juga bisa menyusun rencana untuk menghancurkan hubugan Carsey dan Cane bersama Anne. Anne sudah memiliki rencana selanjutnya, yaitu membuat Husto dan Carsey jadian bagaimana pun caranya. Bahkan ia rela mengorbankan perasaanya pada Husto demi membalas dendam kepada Carsey karena telah merebut perhatian Husto selama semester 1.
     Siang itu sepulang sekolah, Husto dan Anne janjian untuk bertemu di gerbang sekolah. Mereka mulai menyusun rencana sehalus mungkin agar Cane dan Carsey tak curiga. Tetapi sayang saat itu Bond menguping pembicaraan Husto dan Anne. Ia langsung menghampiri ke dua orang itu dan menyindir mereka dengan nada sinis. " Oh, jadi ini biang keladinya. Belum puas ya kalian membuat Cane dan Carsey, pasangan favorit di sekolah ini menangis. " saat Husto dan Anne mendengar ada seseorang yang menghampiri mereka, mereka langsung takut bercampur rasa kaget. " Kenapa?! Kalian kaget atas kehadiranku di sini. Kalian kira selama ini aku tidak curiga dengan kelakuan kalian. Asal kalian tahu, selama ini aku selalu mengikuti kalian. Dan benar saja rasa curigaku selama 2 bulan ini. " sambung suara itu dengan nada sinis yang sangat ketus dan dapat membuat telinga menangis. Anne sadar terlebih dahulu untuk melirik ke belakang, ia mau tahu siapa yang baru saja menyidirnya dengan Husto. Saat ia melihat Bond di sana, ada sedikit perasaan lega tetapi perasaan takut itu belum hilang karena semua pembicaraannya dengan Husto terdengar ole Bond. " Bo, bond. Ada urusan apa kau di sini? Menguping pembicaraan itu tidak baik tahu! " Balas Anne dengan suara yang lebih ketus dari suara Bond tadi. " Oh, masih ada yang pura - pura bego di sini ya. Hei, Husto kenapa kau diam saja! Kau tinggi, pintar, cakep tapi kau tidak sepintar yang kukira karena lo mau nurutin semua omongan nenek sihir ini! " sindir Bond dengan nada yang sangat sangat ketus kepada Anne dan Husto. Saat itu juga, murid - murid yang berada di kantin dan kelas langsung menuju gerbang kampus untuk mengetahui siapa yang sedang berdebat di sana karena murid -  murid lain sedang bergosip bahwa ada pertengkaran hebat di gerbang kampus tak terkecuali Carsey.
     " Eh, ada apaan sih?? Kok anak - anak pada lari ke gerbang. " tanya Carsey pada Evina, teman sebangkunya.
     " Oh lo emang ga denger apa kata anak - anak tadi??? Ada yang bertengkar di gerbang dan katanya sih yang lagi bertengkar itu si Bond sama Anne. " Cerocos Evina panjang lebar. Ia cukup heran terhadap Carsey karena semenjak hubungannya dengan Cane berakhir, Carsey lebih sering diam. Berbeda dari Carsey yang dulu.
     " Oh gitu doang, gue kira apaan. Ya udah gue ke sana dulu ya. Mungkin aja bisa jadi ide makalah kelompok kita. Ngomong - ngomong lo ga ke sana? " Walau Carsey tak terlalu peduli dengan pertengkaran itu tetapi baginya makalah kelompok lebih penting daripada rasa cueknya. Jadi ia memutuskan untuk ke gerbang kampus, mungkin saja ia bisa mendapat ide untuk topik permasalahan - permasalahan di kampus yang diberikan kepada kelompoknya.
     " Hmm...mau sih tapi kaki gue lagi males menginjak tanah. Hehehe. " Jawab Evina sekenanya, karena hari ini ia sedang malas berbicara. Itu semua karena adiknya.
     " Tumben nih, biasanya lo semangat klo masalah beginian. " Ledek Carsey dengan nada bercanda. Dan setelah itu, ia langsung kabur untuk menghindari amukan Evina.
     Saat Carsey sampai di gerbang kampus, ia merasa kaget dengan melihat rasa amarah Bond yang tersirat di wajahnya. " Booooond, STOP!!!!!!!!! Percuma lo bertengkar sama si nenek sihir ini. Dia ga akan pernah nyadar posisinya itu harusnya di mana. " Teriak Carsey kepada Bond dengan nada lantang. Ia juga ingin tahu reaksi Anne setelah mendengar perkataanya. Dan sesuai dugaanya, Anne langsung kaget dan gugup ketika ia mendengar perkataanya. " Gue udah tahu siapa yang bikin hubungan gue sama Cane hancur semenjak sebulan lalu. " Sambung Carsey, ia ingin sekali memyindir Anne tetapi ia tidak bisa. Karena kejahatan dibalas kejahatan tak akan menyelesaikan masalah.
     " Carseeey!! Klo lo udah tahu kenapa lo diemin nih dua manusia egois terutama si Anne! " rasa marah yang daritadi sudah berusaha ditahan oleh Bond akhirnya keluar juga. Ia marah sangat sangat marah. Ia gak mau pasangan favorit di sekolahnya berpisah hanya karena seorang cewe yang kurang perhatian dari keluarganya.
     " Ngapain juga gue ngelabrak mereka berdua. Buang - buang tenaga aja ntar gue. Lebih baik gue diemin biar nanti kebusukkan mereka berdua kebongkar dengan sendirinya. " kalimat terakhir yang diucapkan Carsey tadi mampu membuat Anne bersuara.
     " Gue begini karena lo udah ngerebut perhatian Husto abis itu Cane. Asal lo tahu ya anak sok pinter! Gue suka sama Husto udah dari kelas 2 SMA! Tapi semenjak Husto kenal sama lo, dia mulai ngejauhin gue. Dan untuk ngebales rasa sakit yang gue alamin, lo juga harus ngalaminnya juga. Makanya gue pura - pura suka sama Cane biar lo cemburu. Setelah lo cemburu dan merasakan sakit yang gue rasakan baru gue puas! " Anne sudah tak peduli dengan kekagetan Husto dan Bond. Ia sekarang lebih mementingkan kebodohannya karena telah membongkar sebagian kecil rahasia dirinya. Dan Carsey tentu saja tak kaget karena ia merasa bahwa ada sesuatu yang harus dikatan dengan jujur dan perkataan Anne tadi cukup membuatnya yakin untuk kembali kepada Cane.
     " Jadi lo ngerasain apa yang gue rasain?! Kenapa lo ga jujur dari awal Anne?! Klo lo ngebales perasaan gue, gue jadi ga usah pura - pura deket sama Carsey untuk buat lo cemburu. " giliran Husto yang membuka suara dan semua perkataanya tadi sudah membuat semuanya jelas. Husto sendiri tak merasa bodoh juga malu karena setelah mengatakan perasaanya yang sejujurnya kepada gadis tercantik di kampusnya, ia merasakan perasaan lega. Ternyata cintanya terbalas.
     Setelah mendengar pengakuan kedua orang itu, Carsey berlari kembali ke dalam kampusnya. Ia sedang menuju kelas Cane ketika ia melihat Cane pingsan di depan kelasnya. " Ada apa dengan Cane? " Rasa panik langsung menyergap hati Carsey. Ia takut penyakit tahunan yang dialami Cane kembali kambuh. Tetapi setelah 10 menit Cane pingsan, cowo itu bangun dengan senyum khasnya.
     " Katanya sudah tak mau peduli. Kok aku cuma pura - pura pingsan saja kau sudah panik. Bagaimana kalau aku pingsan beneran? " Seketika itu juga Cane tertawa terbahak - bahak bersama teman - teman kelasnya. Ternyata teman - teman kelasnya telah sepakat untuk membantu Cane mengetest rasa perhatian Carsey. Dan ternyata berhasil, Carsey masih perhatian kepadanya seperti dulu.
     " Oh jadi tadi cuma pura - pura? Dasar pangeran drama, semua serba dibawa sedih. " Carsey berusaha untuk membalas kejahilan Cane dengan sikap sinis. Tapi, yang terjadi malah ia ikut tertawa bersama Cane dan teman - temannya.
     " Jadi gimana nih kelanjutannya? Kita mau terus diem - dieman ato kembali merajut benang yang sudah putus? " goda Cane.
     " Ah, kata - kata lo sok puitis. Wkwk...hmm yang mana ya? " balas Carsey dengan kejahilan yang dapat membuat hati Cane berdebar. " Kayanya diem - dieman aja deh. " lanjut Carsey. Dan di dalam hatinya ia tertawa terbahak - bahak. Rasakan itu, tawa Carsey dalam hatinya.
     " Yah...ga jadi ngerayain hari bahagia dong. " balas Cane dengan nada pura - pura sedih.
     " Ga deng...aku mau kok jadi benang untuk menutup luka hatimu. " balas Carsey tak kalah puitisnya.
     " Yeay. Hari ini jadi traktirannya teman - teman. " teriak Cane kepada teman - teman kelasnya. dan teman - teman kelasnya menyambut ajakan itu dengan sorak gembira.
     " Yeah. Pasangan favorit kampus kita balikkan. Ada panutan lagi nih untuk jadi percontohan hubungan kocak melankolis apa lagi ya? " goda salah satu teman Cane dan Carsey, Evina.
     " Eh Evina, katanya lagi males nginjek tanah kok malah jalan - jalan. " balas Carsey dengan nada sok nyindir. Lalu ia dan Evina tertawa terbahak - bahak.
     " Lo gampang aja yak gue begoin. Emang sih soal matematika lo jago tapi soal tipu - menipu gue jagonya. " setelah menggoda Carsey, ia langsung kabur. Karena feelingnya mengatakan Carsey akan mengejarnya dan benar saja. Carsey mengejarnya memutari lapangan kampus sambil membawa - bawa pengki. Murid - murid kampus yang sudah mendengar berita bahagia tentang pasangan favorit kampus mereka pun langsung datang ke kelas Cane dan ikut menonton adegan lucu itu.