Siang itu, Ryota baru pulang dari kampusnya di Munchen. Tak terasa sudah 3 tahun lebih ia tinggal di Munchen, kota tempat ayahnya bekerja sekarang. Ia berencana untuk pergi ke Bandar Udara Munchen untuk menjemput Reina, pacarnya. Tetapi, perasaanya kepada Mizuta masih sama seperti 3 tahun lalu. Ia tak tahu mengapa perasaan itu seakan - akan sangat susah dihilangkan, kalau pun ia mau tetap wajah Mizuta masih terbayang - bayang di benaknya. " Kenapa?!?! Kenapa hati ini tetap tak mau melupakanmu, Mizuta?!?! " hanya kekeselan seperti itulah yang bisa diungkapkan Ryota untuk menghapus rasa kangenya terhadap cewek yang telah mengobrak - abrik hatinya. Ia sendiri tak tahu mengapa hati ini susah sekali untuk move on. Padahal, sudah hampir 4 bulan dirinya dan Reina jadian.
Mizuta baru sampai di Bandar Udara Munchen siang itu. Ia berencana untuk libur semesternya kali ini, ia akan berlibur di Munchen selama satu minggu. Mizuta baru saja keluar dari tempat pengambilan bagasi. Ia langsung duduk di salah satu bangku dekat toko minuman. Sudah hampir 1 jam menunggu, seseorang yang akan menjemputnya tak kunjung datang. " Duh, dimana sih Kak Takashi? Katanya pas aku nyampe tinggal telfon tapi udah ditelfon berapa kali pun tetep ga diangkat. " itulah pelampiasan kekesalannya di dalam hati.
" Lagi nungguin siapa sih cewe cengeng? " tanya seseorang yang sedang duduk di sebelah Mizuta. Dan suara itu, suara yang tak terasa asing di telinga Mizuta.
" Ryota...Ryota?? Kok kamu bisa ada di sini? " tanpa ragu Mizuta langsung menjawab pertanyaan orang itu dengan menyebutkan nama. Karena, baginya seseorang yang memiliki suara berat dan mirip burung beo hanyalah Ryota, sahabat sekaligus orang yang disukainya. Ia sendiri tak tahu sejak kapan perasaanya kepada Ryota menjadi perasaan sayang yang lebih dari sekedar sahabat.
" Hei, kok bengong? Gomennasai. Tadi jalanan sangat padat. Udah lama nunggunya? " tanya Takashi kepada Mizuta dengan wajah bersalah.
" Hmm...tadinya aku kesel sih tapi karena ada teman jadi aku merasa sedikit terhibur. " jawab Mizuta sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tunggu. Nihil. Orang yang dicarinya menghilang.
" Siapa? Tapi sekarang orangnya di mana? " tanya Takashi dengan wajah kebingungan yang sama dengan Mizuta sambil mengikuti arah pandangan cewe itu.
" Kayanya aku ngehayal. Mana ada temen - temenku yang kuliah di sini kecuali.... " Mizuta tak berani meneruskan kalimatnya. Tetapi, seakan - akan ada angin ribut, Takashi tahu siapa orang yang dimaksud Mizuta.
" Ryota? Oh ya kan katanya kamu ke sini mau sekalian ketemu dia untuk lepas kangen. " Takashi merasa sangat bodoh. Kalimat terakhir yang ia ucapkan begitu dingin dan kata - kata itu keluar tanpa bisa dihentikan oleh mulutnya sendiri.
" Gomennasai. Aku ga maksud untuk nginget - nginget dia lagi. " Mizuta meminta maaf kepada Takashi. Ia tahu, perkataanya tentang Ryota dapat membuat Takashi tersinggung. Tetapi, rasa kangennya melampaui akal sehatnya.
" Tuh dia Ryota. " pancing Takashi dengan nada dingin.
" Tolong ya kak jangan ngomongin dia lagi. " Mizuta merasa kesal terhadap sikap sinis Takashi terhadap Ryota. Ia tahu bahkan sangat sangat tahu. Takashi memang pacarnya sekarang tetapi ternyata pilihannya salah. Takashi tak seperti yang di pikirkannya.
Di tempat lain, Ryota sedang memandangi perdebatan Takashi dan Mizuta. Ia merasa bersalah karena dirinya dua orang itu harus melakukan perdebatan kecil. Akhirnya, untuk menghapus sedikit kesalahannya, ia keluar dari tempat persembunyiaannya. Tetapi sialnya, Takashilah yang melihat dirinya berjalan sedangkan Mizuta tak melirik ke arahnya sedikit pun.
Ryota sedang berusaha memikirkan cara yang tepat untuk menemui Mizuta. Ia akhirnya memutuskan untuk memikirkan sebuah cara untuk menemui Mizuta sambil menunggu Reina di salah satu cafe. Tiba - tiba saat ia sedang merenung, Reina menghampirinya sambil membawa tiga kantong belanjaan.
" Hey bee, maaf aku lama. Tadi pas aku ambil bagasi koperku tertukar dengan seorang cewe. Kelihatannya cewe itu bukan orang Jerman atau Perancis. Tetapi, ia lebih mirip orang Asia. " jelas Reina kepada Ryota panjang lebar sambil menarik salah satu kursi di depan Ryota.
" Asia? Hmm...rambutnya lurus sebahu? Memakai dress oranye dan legging kuning? " tanya Ryota kepada Reina dengan wajah penasaran. Ia takut kalau cewe itu Mizuta. Dan bodohnya ia menyuarakan isi pikirannya.
" Kok kamu bisa tahu? Padahal aku baru ngomong kaya gitu?? Apa kamu kenal atau dia cewemu yang di Jepang? " pas sekali, pas kena dan pas nyeri di hati yang dirasakan Ryota. Entah mengapa Reina bisa membaca pikirannya dengan satu tebakkan tepat. Ryota langsung diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.
" Kok kamu diem? Keep calm, bee. It's okay. I know it's hard for you but believe me, maybe you can forget her if the right time come to you. " setelah Reina memberi semangat kepada Ryota, hanya hening yang menyelimuti mereka berdua.
Tiba - tiba saja Ryota begitu kaget ketika melihat seorang cewe yang sedang memesan kopi. Reina yang daritadi asyik mengoprek isi belanjaanya begitu bingung ketika melihat ekspresi Ryota. Begitu tahu apa penyebab kakegetan Ryota, Reina langsung memanggil cewe itu dengan suara cukup keras. Ya, cewe berambut hitam kecoklatan sebahu itu bernama Mizuta, orang yang disukai Ryota semenjak SMA.
" Eh oh eh, kita pernah kenal? " Mizuta begitu kaget ketika mendengar namanya dipanggil oleh seorang cewe berambut pirang kemerahan. Ia begitu terpaku kepada cewe itu sehingga tidak menyadari kalau orang yang duduk di sebrang cewe itu Ryota.
" Mungkin kamu lupa kejadian di tempat bagasi tadi. " jelas Reina dengan nada kurang ramah.
" Oh maaf tadi aku sedang buru - buru. Tetapi, kita belum berkenalan cuma kenapa kau tahu namaku? " tanya Mizuta kepada Reina dengan wajah kebingungan.
Reina tak menjawab pertanyaan itu tetapi ia menunjuk orang yang sedari tadi duduk dengan wajah kaget dan...takut di sebrangnya. " Aku tahu dari bee, eh maksudku Ryota. " jelas Reina kepada Mizuta tanpa disuruh.
Mizuta langsung memalingkan kepalanya ke arah yang ditunjukkan Reina. Betapa kaget dirinya ketika ia melihat cowo yang sudah membuat hatinya berantakan semenjak kepergiannya tiba - tiba hadir di hadapannya. " Kau pergi tak memberi kabar! " Hanya kalimat itulah yang sanggup dikatakan oleh Mizuta. Dan saat itu juga, hatinya meneriakkan nama seseorang yang sedang menunggu di luar cafe.
Tiba - tiba saja ada suara seorang cowo yang membisikkan sebuah kalimat penuh kemarahan kepada Mizuta tepat di belakangnya. Saat Mizuta menoleh ke belakang, Takashi sudah berdiri di sana dengan wajah sebal.
" Pantas saja lama, ternyata kau kembali menemui cowomu yang di Jepang. " sindir Takashi kepada Ryota dengan tatapan sinis.
" Eh oh eh...gomenne Takashi - san, aku hanya kebetulan saja bertemu dengan Ryota. " jelas Mizuta kepada Takashi dengan wajah penuh penyesalan.
Reina hanya dapat memandangi ketiga orang di sekelilingnya. Ia tak tahu mengapa tiba - tiba ada hawa dingin yang menyelimuti ketiga orang itu, terlebih Takashi. Dan, ia tak mengerti isi pembicaraan Mizuta dan Takashi. Baginya, baru kali ini ia mendengar dua orang tidak berbicara dengan bahasa Inggris melainkan bahasa asing.
" Sebaiknya aku dan Reina pergi. Tak baik aku menguping pembicaraan dua orang yang sedang berantem. " akhirnya, Ryota dapat menemukan kembali suaranya. Ia langsung membalas pembicaraan kedua orang itu dengan bahasa asing yang tak dimengrti Reina. Ya, bahasa yang digunakan Mizuta, Takashi juga Ryota adalah bahasa Jepang.
" Pengecut amat lo...hahaha. Takut sama gue kan?! " saat Takashi melihat Ryota mulai bangkit dari tempat duduknya sambil memegangi tangan Reina, ia menyindir Ryota dengan nada ketus.
Ryota tak menghiraukan sindiran Takashi, ia hanya berlalu sembari bergegas membantu Reina membawa barang bawaanya. Ia hanya bisa memikirkan satu hal, yaitu kesalahan Mizuta dalam menjatuhkan pilihannya. Tetapi, Ryota langsung seperti patung begitu mendengar Mizuta bersuara.
" I know, I'm wrong about my choice. I know since my heart say that you're my destiny. I don't know why? But the important thing is I love you. I know you won't with me, maybe I'm too late to say this. You know why? Because I'm afraid if I'm losing you. I don't know my plans for my future when I know you won't with me. " seakan - akan Mizuta bisa menjawab pertanyaan yang berkecamuk sekian lama di dalam pikiran Ryota. Tetapi, entah mengapa, jawaban itu hanya seperti kertas kosong yang sudah terlanjur usang untuk disentuh oleh sebuah pena.
Takashi tak tahu isi pembicaraan Mizuta tadi karena ia tak bisa berbahasa Inggris. Tetapi, ketika ia melihat raut wajah Ryota, sepertinya pembicaraan Mizuta tadi cukup membuat Ryota hampir meneteskan air mata. " Sebaiknya aku menunggu di luar saja. " sebelum Mizuta sempat berbicara untuk menahan Takashi keluar dari cafe, Takashi sudah berjalan ke luar cafe. Entah mengapa, ia baru sadar sekarang mengenai perubahan sikap Mizuta beberapa bulan lalu saat dirinya menelefon untuk mengabari keadaanya.
Nafas Reina langsung tercekat saat mendengar pengakuan Mizuta kepada Ryota. Ia tak tahu, perasaan apa yang mendorong Mizuta untuk melakukan pengakuan di hadapan dirinya, Takashi, dan Ryota tadi. Udara di sekeliling Ryota dan Mizuta seakan - akan menjadi hangat. Rasanya dirinya ingin menarik Ryota keluar dari cafe dan menjauh dari Mizuta. Tetapi, sebagian dirinya berkata untuk membiarkan Ryota menanggapi dulu pengakuan dari Mizuta.
" I'm so sorry Mizuta but I don't know why my feeling doesn't same anymore. Now, I know what must I do for my future. This feeling which is I have, has answer by you right now. I don't know why my heart feel sad not happy. So, I'm so sorry to tell you this marriage. Me and Reina will have our marriage, maybe after I have graduate from my university. " setelah menjawab pengakuan dari Mizuta, tiba - tiba saja ada perasaan lega yang menyusupi hatinya. Reina pun ikut senang atas jawaban Ryota tetapi ia pun ikut merasakan kesedihan Mizuta. Dan Ryota baru menyadari satu hal, yaitu perasaanya sudah lama berubah semenjak ia mengenal Reina. Hanya sebagian dirinya yang mempertahankan jawaban atas perasaanya dari Mizuta. Setelah ia mendapat jawaban dari Mizuta, ia tahu bahwa ia bisa melanjutkan hidupnya bersama Reina.
" I know I'm too late. But I feel stupid to let you know what I feel right now. And I feel sad of your answer. Maybe, I must forget you, Ryota but I can't. I regret my answer. Now, what must I do? I don't know my plans for the future. Takashi give me his heart but I just make he sad and angry. So, what do you think about my relationship with Takashi? Broke up or not. " Mizuta sudah tak bisa lagi membendung air matanya. Ia begitu menyesal dengan penghianatannya terhadap Takashi. Saat Takashi mulai menerima dirinya, tiba - tiba saja hatinya berpaling. Ia tak tahu apa yang harus dikatakannya kepada Takashi mengenai isi hatinya. Ia takut kehilangan Takashi tetapi sebagian dirinya yang lain marah kepadanya. Haruskah aku putus dengan Takashi? Atau aku melanjutkan saja hubunganku dengan Takashi? Tapi, jika tetap kujalani, aku takut suatu hari nanti rahasia hati ini terbongkar dan membuat Takashi lebih sakit.
" Lebih baik kamu putus dengan Takashi. Dan lebih baik kamu mengasih tahu Takashi sekarang mengenai isi hatimu. Memberitahunya sekarang tak akan sesakit memberitahunya nanti ketika kau sudah siap. " entah dorongan apa yang membuat Ryota menjawab pertanyaan Mizuta dengan bahasa Jepang. Jawaban Ryota mampu membuat Takashi masuk kembali ke dalam cafe dan langsung meminta penjelasan dari Ryota.
" Maksud pernyataanmu tadi apa?! Apa salahnya jika Mizuta suka padaku?! " suara itu, suara yang dapat memekakkan telingan. Berat dan dingin.
" Lebih baik kau saja yang meminta penjelasan dari Mizuta. Aku masih banyak urusan yang harus diselesaikan. " balas Ryota dengan nada yang tak kalah berat dan dingin. Ia akhirnya melangkahkan kaki keluar dari kafe itu sendirian. Dan reaksi Reina saat melihat perdebatan Ryota, Mizuta juga Takashi hanya diam mematung. Saat Ryota melangkahkan kaki keluar dari kafe pun, Reina tak berusaha menahan atau mengejar. Ia berpikir bahwa Ryota memerlukan waktu sendiri saat ini.
" Maksud Ryota tadi apa Mizuta - san?! Aku tidak senang dibuat penasaran seperti ini?! " Takashi meminta penjelasan dari Mizuta mengenai omongan Ryota tadi. Tetapi, yang bisa dilakukan Mizuta hanya menangis. Bagi Takashi tangisan itu adalah jawaban atas semua pertanyaan di dalam hatinya selama beberapa bulan ini. " Jadi benar kamu suka Ryota?! " suara Takashi makin terdengar berat dan juga dingin. Tetapi untuk yang kesekian kalinya, Mizuta hanya bisa meneteskan air mata. Dan air mata itu pun menjadi jawaban atas pertanyaan Takashi.
Selasa, 16 Juli 2013
Sakit
Rasa senang...
Perasaan bahagia...
Semua itu...
Hanya penghias hati...
Rasa sakit...
Perasaan yang dikelilingi kabut hitam
Lidah yang terasa pahit
Itulah arti padamnya api cinta
Bahagia diganti sedih
Senang dan senyum terganti oleh emosi juga tangis
Tertipu, tak berdaya
Cinta hanya sebuah kata kiasan
Bahagia itu...penyamaran
Sedih menandakan hentinya perjuangan
Dikecewakan...
Bahagia ialah tipuan di awal
Tangislah yang memerosokkan kita ke dalam jurang terjal dan dalam...
Perasaan bahagia...
Semua itu...
Hanya penghias hati...
Rasa sakit...
Perasaan yang dikelilingi kabut hitam
Lidah yang terasa pahit
Itulah arti padamnya api cinta
Bahagia diganti sedih
Senang dan senyum terganti oleh emosi juga tangis
Tertipu, tak berdaya
Cinta hanya sebuah kata kiasan
Bahagia itu...penyamaran
Sedih menandakan hentinya perjuangan
Dikecewakan...
Bahagia ialah tipuan di awal
Tangislah yang memerosokkan kita ke dalam jurang terjal dan dalam...
Jumat, 12 Juli 2013
Panas Api Tak Semembara Cinta
Panas tubuhku..
Berapi - api pikiranku...
Membakar setiap pori - pori...
Menyesakkan sampai ujung kuku...
Membara bagaikan api...
Menyulut emosi...
Ku sulit bernapas...
Ku sulit lepas...
Penghianatan, kesedihan, dan rapuh
Bahagia, indah, dan berbunga - bunga
Kau sudah berani....
Berani memainkan api dalam hatiku
Kebahagianku hanya ilusi
Kesedihanku ialah realita
Di dalam sini...
Kau telah menyulut api cinta
Berapi - api pikiranku...
Membakar setiap pori - pori...
Menyesakkan sampai ujung kuku...
Membara bagaikan api...
Menyulut emosi...
Ku sulit bernapas...
Ku sulit lepas...
Penghianatan, kesedihan, dan rapuh
Bahagia, indah, dan berbunga - bunga
Kau sudah berani....
Berani memainkan api dalam hatiku
Kebahagianku hanya ilusi
Kesedihanku ialah realita
Di dalam sini...
Kau telah menyulut api cinta
Langganan:
Komentar (Atom)