Suatu siang yang cerah, tak seperti biasanya udara di kota Yokohama sesejuk ini walau matahari sedang terik - teriknya mungkin atmosfir di kota itu mengikuti kedua orang yang sedang berjalan di bawahnya. Mereka adalah Mizuta dan Ryota, 2 orang sahabat yang sudah bersahabat sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar kelas 1.
Pada saat itu, Ryota melihat Mizuta diganggu oleh anak - anak kelas 2, Mizuta menangis sejadi - jadinya karena permenya diambil padahal permen itu pemberian neneknya tersayang. Ryota yang melihat kejadian itu langsung memukul kakak kelasnya dengan amarah yang tersirat di wajahnya, ia paling tidak bisa jika ada orang yang menyakiti anak perempuan. Kakak - kakak kelas itu langsung lari tunggang langgang karena terkena jurus karate Ryota, bakat alami yang sudah dimiliki keluarganya. Setelah selesai menghajar kakak kelasnya, ia langsung menghampiri anak perempuan itu dan berkenalan denganya.
" Ohayou gozaimasu, siapa namamu anak cantik? " Ryota tak bisa menahan tawanya ketika melihat wajah anak perempuan itu memerah.
" Ohayaou gozaimasu, nama saya Mizuta Namaki. Oh ya, arigatou gozaimasu karena kau telah menolongku tadi. Namamu siapa? " Mizuta mencoba mengendalikan rasa malunya, baru kali ini ia melihat anak laki - laki sebaik ini.
" Namaku Ryota Mizaku. Hai, daijyoubu. " Ryota memegang tangan Mizuta untuk membantu anak perempuan itu berdiri. Setelah kejadian itu, Ryota dan Mizuta jadi sering bertemu di perpustakaan atau kantin untuk sekadar mengobrol biasa sampai akhirnya mereka mulai menceritakan kesukaan dan ketidak sukaan mereka terhadap suatu barang sampai masalah yang sedang mereka hadapi. Karena alasan itu pula mereka menjadi sahabat sampai sekarang, mereka sudah menjadi sahabat selama 9 tahun lebih walau sekarang sudah menginjak bangku SMA.
Lama - lama perasaan yang hanya sekedar sahabat itu berubah, kini Ryota menganggap Mizuta lebih dari sahabat. Tetapi, Mizuta tetap menganggap Ryota sebagai sahabat yang baik karena ia menyukai pria lain, yaitu kakak kelasnya di klub basket. Suatu hari, Mizuta menghilang tanpa kabar, tak ada yang tahu keberadaanya termasuk Ryota. Ryota sampai khawatir dengan keadaan Mizuta takut - takut kalau terjadi sesuatu pada perempuan cengeng itu. Tapi kehawatiranya tak berarti apa - apa ketika sebulan setelah Mizuta menghilang, perempuan itu kembali muncul dengan nada cerianya seperti biasa. Saat pulang sekolah, Ryota mulai " menginterogasi " Mizuta dengan berbagai pertanyaan.
" Hei, Mizuta. Kok aku baru melihatmu lagi? Ke mana saja kau? Sudah 1 bulan terakhir tak ada kabar. " Bertanya terus - menerus tanpa menyadari raut wajah Mizuta yang kesal.
" Aku harus menemani kakeku di Sendai selama 1 bulan terakhir ini. Nenekku baru saja meninggal karena sakit jantung yang sudah di deritanya selama 3 tahun. Maaf aku lupa memberitahumu tetapi semenjak aku pergi sepertinya kau sekarang tambah banyak omong ya...hehehe. " Perasaan sedih tiba - tiba muncul tetapi semenjak dia bertemu Ryota 15 menit yang lalu perasaan itu berubah menjadi kekesalan juga keceriaan.
" Hei, kenapa kau? Apakah ada yang salah denganku? " Bertanya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Kau dari tadi bertanya terus, kapan sikapmu bisa berubah sudah SMA kelakuan masih seperti anak kecil. " Kekesalannya menjadi - jadi, kok bisa ya aku punya sahabat cowok tapi cerewet...hmmm...
" Apa??? Oh ya, Mizuta, aku turut berduka atas meninggalnya nenekmu. Maaf kalau aku bertanya terus - menerus seperti ini tapi aku kesepian. " Tiba - tiba saja ada sebersit nada sedih di dalam kata - katanya. " Eh, maksudku, aku tidak ada teman ngobrol. " Dia segera meralat perkataanya takut jika Mizuta curiga padanya.
" Oh ya, kita coba ramen yang di sana yuk...kata orang - orang ramen di sana cukup terkenal kekhasan bumbu dan aromanya. Apa kau tidak lapar? " Mencoba untuk mengalihkan pembicaraan karena sebenarnya dia sudah lapar daritadi.
" Tetapi kok banyak orang begitu ya? " Bingung karena banyak orang berkerumun di depan kedai ramen itu.
" Ah, sudah biasa kan ramenya enak. " Mencoba meyakinkan Ryota bahwa tidak terjadi apa - apa. Tetapi, sebenarnya dia juga bingung mengapa banyak orang berkerumun di depan kedai itu.
" Mungkin juga. " Ryota mencoba meyakinkan diri.
10 menit setelah Ryota dan Mizuta berjalan, akhirnya mereka pun sampai di depan kedai tetapi apa yang mereka temukan. Seorang perempuan paruh baya yang tergelatak tak bernyawa. Mereka pun mulai menyelidiki identitas wanita itu setelah mereka mengidentifikasi, mereka menemukan sebuah dompet, telepon selular, dan sebuah foto. Di dalam dompet mereka menemukan sebuah kartu nama dan setelah diselidiki ternyata wanita itu bernama Minami, bekerja di sebuah perusahan telekomunikasi terkemuka di Jepang. Lalu Ryota dan Mizuta mulai menanyai beberapa orang di kedai itu, setelah mereka bertanya kepada beberapa orang, ada yang mengatakan jika orang yang menemukanya pertama kali adalah seorang lelaki paruh baya kira - kira 30 menit yang lalu. Lelaki itu berpakaian feminim dan memakai anting. Ryota dan Mizuta pun kaget mendengar penjelasan salah satu saksi, " Berpakaian feminim dan memakai anting?? " Mereka berusaha untuk tidak kaget tetapi tidak bisa karena baru kali ini mereka mendengar seorang laki - laki berpakaian seperti wanita. Tiba - tiba ada seorang laki - laki yang datang ke kedai itu dan ada seseorang yang berteriak, " Nah, itu dia orangnya. " Ryota dan Mizuta pun langsung mengalihkan pandanganya ke laki - laki itu lalu mereka mulai mengintrogasi pemuda itu di sebuah ruangan, yaitu toilet.
" Siapa namamu? " Ryota memulai pertanyaan dengan nada curiga.
" Nama saya Soichi. " Menjawab dengan wajah gugup. " Ada urusan apa kau datang ke kedai ini? " Mizuta melanjutkan pertanyaan Ryota dengan wajah penuh curiga.
" Aku ingin mengambil kacamataku yang tertinggal di sini. " Masih menjawab dengan nada gugup dan gemetar.
" Kacamata ini maksudmu? " Mizuta tiba - tiba menunjukan sesuatu yang ditemukanya di meja dekat TKP kepada Soichi.
" I...i...iya, itu kacamata saya. Boleh saya mengambilnya? Karena saya masih mempunyai urusan yang lain. " Soichi makin gugup ketika dia melihat salah satu dari kedua anak itu menunjukan kacamatanya, bukan gugup karena suatu hal tetapi gugup karena ia takut akan ada reaksi luminol akibat noda darah dari sidik jarinya yang tertinggal di kacamatanya.
" Mengapa anda sangat gugup? Padahal kami tidak menanyakan,apakah anda membunuh perempuan paruh baya itu? " Ryota dan Mizuta semakin berani karena mereka sudah tahu bahwa di tangkai kacamata itu ada reaksi luminol dari noda darah dan mereka memang sengaja menyudutkan Soichi supaya Soichi cepat mengaku.
" Ti...tidaaak apa - apa. Saya hanya kaget ketika melihat seorang wanita paruh baya meninggal di depan mata saya. " Soichi tetap tidak mau mengaku karena ia takut masuk penjara. Terpaksa Ryota dan Mizuta meminta sidik jari lelaki itu tapi sebelum mereka meminta sidik jarinya, Soichi tiba - tiba saja berteriak dan kabur. Dan dia sempat mengatakan sesuatu dalam teriakanya, " Aku pembunuh wanita itu. " Ryota langsung mengejar Soichi tetapi Soichi berlari dengan cepat sehingga Ryota tak mampu mengejarnya sedangkan Mizuta tetap berada di tempat kejadian karena ia tiba - tiba teringat kejadian 3 tahun silam, seorang wanita paruh baya meninggal karena tertabrak sebuah mobil di dekat rumahnya cuma mobil itu langsung kabur meninggalkan wanita paruh baya itu. Akhirnya Mizuta mengejar Ryota untuk membantunya mengejar pelaku, tetapi 5 menit setelah ia keluar dari kedai ia menabrak seseorang dan orang itu adalah pelakunya. Soichi juga terlihat kaget bercampur takut, ia berusaha kabur tetapi kakinya seperti ada yang menahan, ternyata Mizuta sudah menangkap kedua kakinya dengan tali tas yang dipukulkan ke kakinya. Ryota datang tepat pada waktunya dengan segera ia membantu Mizuta untuk menangkap pelaku, akhirnya pelaku menyerah dan setuju untuk dibawa ke kantor polisi. Di kantor polisi Soichi mengaku bahwa ia membunuh wanita itu dengan sengaja karena ia dendam pada orang yang telah menabrak istrinya, menurut saksi mata pada kejadian tabrak lari 3 tahun silam, yang menabrak istrinya adalah seorang wanita paruh baya. Mulai saat itu, Soichi dendam kepada setiap wanita paruh baya tak peduli wanita itu pelaku yang menabrak istrinya atau bukan. Soichi hanya menginkan pembalasan dendam atas istrinya yang meninggal 3 tahun silam. Setelah selesai menemani pelaku sebagai saksi, Ryota dan Mizuta pulang ke rumah masing - masing. Tepat di persimpangan jalan menuju rumah Mizuta, Ryota mengatakan sesuatu yang mengagetkan Mizuta.
" Aku menyukaimu Mizuta lebih dari sekedar sahabat. " Ryota mengungkapkan perasaanya dengan sangat yakin tapi harapanya pupus setelah ia mendengar jawaban Mizuta, " Maaf, Ryota, aku menyukai Kak Takahashi di klub basket. Mungkin kita hanya bisa menjadi sahabat. Sekali lagi maaf, Ryota, aku tidak bisa menyukaimu. Konbanwa. " katanya.
" Konbanwa, Mizuta-san. Ehm, aku bisa mengerti. Terima kasih kau sudah mau jujur untuk menjawab perasaanku, sekarang aku bisa tenang. Semoga kau bahagia, Mizuta. " Tetapi saat ia menoleh ke arah tempat Mizuta berdiri tadi, Mizuta sudah tidak ada. Perempuan cengeng itu sekarang telah berubah menjadi dewasa dan mungkin Ryota harus bersiap untuk kehilangan sahabat sekaligus orang yang disukainya.
" Goodbye, Mizuta. Besok aku akan pergi ke Jerman karena ayahku dipindah tugaskan. Semoga kau bahagia. " Ryota berbicara kepada bintang pada saat gelapnya malam dan ia mulai berjalan ke rumahnya. Keesokan harinya, saat Mizuta datang ke sekolah, ia tak melihat Ryota di gerbang, kelas atau kantin. Ia merasa bersalah karena meninggalkan Ryota sendirian semalam setelah pembicaraan mereka. Mizuta mulai bertanya kepada teman - teman kelas Ryota tapi tak ada yang tahu ke mana Ryota pergi. Saat pulang sekolah, Mizuta langsung pergi ke rumah Ryota tapi apa yang ia temukan sungguh membuat hatinya remuk. Ia menemukan sebuah surat perpisahan dari Ryota untuk dirinya, di surat itu tertulis salam perpisahan karena Ryota akan ikut bersama ayahnya ke Jerman dan kenangan - kenangan mereka selama menjadi sahabat. Di akhir kalimat, Ryota menuliskan sebuah kalimat yang membuat hati Mizuta menangis, " Hai cewe cengengku, jangan lupakan persahabatan kita ya walau kita sudah berbeda negara jangan lupakan aku, hatiku tetap menjadi milikmu...Semoga kita bisa bertemu kembali suatu hari nanti. Sampai jumpa. " Saat membaca kalimat itu, Mizuta terus menerus menangis, tiba - tiba di kepalanya berputar seluruh kenang - kenanganya bersama Ryota. Jujur, di dalam hatinya, Mizuta meneriakkan nama Ryota walau cowo itu menyebalkan tapi hanya dia yang mengerti permasalahanya dan sekarang semua itu hanya akan menjadi kenangan. Membayangkan harinya tanpa Ryota di sisinya membuat Mizuta ingin mencegat Ryota untuk pergi tetapi itu semua mungkin sudah terlambat. Sangat terlambat, jerit Mizuta dalam hatinya.