Rabu, 30 Mei 2012

Annabelle

     Pagi yang cerah,mungkin kata - kata itu yang ada di benak orang - orang tapi tidak bagi Annabelle. Bagi Annabelle, pagi ini merupakan pagi terburuk dalam hidupnya. Pagi itu, temanya, Melisa, memberitahukan sebuah kabar mengejutkan, yaitu manager mereka, Bapak Pierre, masuk rumah sakit karena penyakit Leukimia - nya kambuh kembali. Annabelle begitu khawatir karena bagi dirinya Pak Er, panggilannya untuk Pak Pierre sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri. Selama bekerja di One More Times Productions, Annabelle selalu menjadi panutan teman - temanya termasuk managernya, Pak Er. Pak Er selalu berkata pada karyawan yang lainya, " Jika kalian ingin sukses, disiplin dan giatlah bekerja seperti Annabelle.Setiap hari dia selalu datang paling awal dan bekerja dengan semangat juga serius." katanya. Hal itulah yang membuat Annabelle seperti berhutang budi pada managernya itu. Annabelle juga tidak tahu, sebenarnya, Pak Er menganggap Annabelle lebih daripada sekretarisnya tapi dia menyukai perempuan itu karena kedisiplinan bekerjanya. Tetapi, sayangnya, Annabelle hanya menganggap managernya sebagai ayahnya tidak lebih dari itu.
     Setelah menerima kabar itu, Annabelle bergegas mandi dan berpakaian seperti biasanya, baju berkerah, rok selutut, dan high heelsnya. Dia melupakan sarapan, sekarang yang terpenting di benaknya adalah menjenguk managernya di rumah sakit dan menemaninya seharian. Di perjalanan, Annabelle berlari - lari hingga tidak menyadari kunci rumahnya masih tergantung di gagang pintu setelah beberapa meter Annabelle  berlari dia baru menyadarinya tetapi dia tidak memedulikanya. Sesampainya di rumah sakit, Annabelle bergegas bertanya kepada perawat, " Permisi,suster, saya ingin bertanya letak kamar, Pak Pierre? " Tanyanya. " Di lantai 4 kamar 412. " Suster itu menjawab tapi ia tidak bisa mengelak,ada 1 pertanyaan yang muncul  dibenaknya. Akhirnya ia bertanya kembali untuk memuaskan rasa penasaranyaa, " Tetapi kalau boleh tahu, anda ini siapanya, Pak Pierre? " Terpancar senyum lega dari bibirnya. " Saya tem..." Sebelum selesai menjawab, Annabelle ditarik oleh seorang perempuan berambut coklat. Annabelle  segera menyadari bahwa orang yang telah menariknya adalah temanya, Melisa.
     " Kamu ke sini juga, Anne? " tanya Melisa dengan nada penasaran karena dari wajah Annabelle
sudah terpancar jelas raut khwatir. " Tentu saja,memang kenapa, tidak boleh? " jawabnya dengan nada asal karena pertanyaan Melisa secara tidak sengaja menyinggung perasaanya. Setelah itu Melisa diam karena takut menyinggung kembali perasaan temanya itu tetapi ia terus bertanya dalam hatinya karena sebenarnya ia masih penasaran dengan perasaan Annabelle terhadap managernya. Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya. Anne apakah kamu mempunyai perasaan kepada pak manager? atau kamu hanya menganggapnya sebagai ayah? Melisa berusaha menanyakan itu setiap hari tetapi dia takut menyinggung perasaan temanya itu. Pertanyaan - pertanyaan itu terus - menerus brputar seperti bola sepak yang menggelinding dalam benaknya. Saat itu juga Melisa segera berlari karena mendengar panggilan Annabele yang sudah berada di dalam lift.
      " Ah, ya. " sekerjap panggilan itu membuyarkan lamunanya. Setelah sampai di lantai 4, Annabelle segera berlari meninggalkan Melisa yang sibuk dengan pikiranya. Annabelle segera mengetuk pintu kamar, tiba - tiba dari dalam kamar terdengar suara, " Ya, silahkan masuk. " Pierre langsung mempersilahkan masuk karena Pierre sudah tahu siapa yang mengetuk pintu.
     " Bapak, maaf saya baru datang sekali lagi maaf. " menangis rasa khawatir. Dia tidak menyadari jika Pierre  sedang menatapnya dengan tersenyum lebar.
     " Tidak apa - apa. " menenangkan Annabelle karena Pierre paling tidak bisa melihat Annabelle menangis apalagi jika menangis untuknya.
     " Bagaimana kabar anda? " tanyanya dengan nada khawatir karena ia takut kehilangan ayah untuk yang kedua kalinya. Ia tak mau hal itu terjadi lagi karena sewaktu Ayahnya meninggal ia tidak sempat melihatnya untuk yang terakhir kali. Dia cukup menyesal karena mementingkan pekerjaanya daripada Ayahnya sendiri.
     " Saya baik - baik saja. Ada apa sebenarnya? " jawab Pierre. Karena dia melihat dengan jelas raut kehawatiran di wajah Annabelle sehingga dia salah pahan tentang hal itu. Dan dia mengutarakan isi hatinya kepada Annabelle, " Emmm, Annabelle, sebenarnya selama ini aku mempunyai.......... " sebelum dia menyelesaikan omonganya, Pierre memberikan sebuah hadiah kepada Annabelle.
     " Apa ini, Pak Er? " Annabelle penasaran penuh selidik terhadap kotak yang diberikan managernya itu karena ia benar - benar ingin tahu apa isi kotak itu sebenarnya.
     " Buka saja dulu nanti kau akan tahu sendiri apa isinya. " tersenyum bahagia karena ia berharap hadiahnya akan disukai oleh Annabelle.
     " Hah?? Apa maksud semua ini, Pak Er. Dengan segala hormat saya menolak pemberian ini, maafkan saya, Pak. " Dia terkejut ketika melihat isi kotak yang ia pegang yaitu cincin dan kalung juga kertas bertuliskan " I Love You. "
     " Kenapa, Anne. Bukankah selama ini kau juga memiliki perasaan yang sama denganku? " Sedih, ia tidak menyangka bahwa reaksi yang diberikan Annabelle, reaksi terkejut sekaligus amarah yang teramat sangat. Ia memutuskan untuk tidak mengutarakan perasaanya yang sebenarnya karena ia takut akan mengguncang Annabelle lebih dari ini semua. Tiba - tiba mereka dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka dan dari balik pintu itu munculah sesosok perempuan, ya perempuan itu adalah Melisa. Suatu pertanyaan tiba - tiba muncul di benak Annabelle, apakah Melisa mendengar semua pembicaraanya dengan Pierre? Tetapi ia dikejutkan oleh suatu suara, yaitu suara Melisa. " Maaf mengganggu perbincangan kalian yang terlihat mengasyikan.Oh ya, tadi kalian berbicara tentang apa? " sebenarnya daritadi ia menguping dari luar, yaitu tentang pembicaraan yang sedang diperdebatkan oleh Annabelle dan Pierre tapi ia pura - pura tidak tahu apa - apa.
     " Ah, bukan apa - apa. " Annabelle menyangkal dengan ragu - ragu. " Oh ya, sejak kapan kau berada di luar? " Ia bertanya karena ia takut jika pembicaraanya terdengar oleh Melisa jika itu terjadi rusaklah hubungan pertemanan mereka mereka karena Melisa suka kepada Pak Er.
     " Em, baru saja. Tadi aku sempat makan di kantin. aku tadinya ingin mengajakmu makan tapi melihatmu sudah masuk ruangan, aku mengurungkan niatku takut mengganggu perbincanganmu dengan Pak Pierre. " jelasnya panjang lebar agar Annabelle dan Pierre tidak menaruh curiga padanya. Sebenarnya sewaktu ia menguping di luar, ia tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka ketika ingin masuk ke kamar.
     " Oh ya, Melisa. " Pierre memanggilnya untuk membicarakan sesuatu. " Tetapi sebelumnya, maaf Annabelle, bisakah kau keluar sebentar. Aku ingin berbicara kepada Melisa sebentar saja. Bolehkah?  " mendesah karena sebenarnya ia ingin Annabelle bisa tinggal lebih lama di tempatnya tapi apa boleh buat demi kebaikanya.
     " Ah, tentu saja. Saya tidak ingin mengganggu pembicaraan bapak dan Melisa. "
     Annabelle berjalan menelusuri seluruh rumah sakit, ia penasaran. Sebenarnya ada apa dengan Pak Pierre? Kenapa tiba - tiba ia ingin aku pergi? Apa karena perkataanku tadi yang membuat hatinya sakit sehingga ia marah padaku. Ah, mana mungkin. Anne, Anne, pikiranmu selalu melayang ke mana - mana, tadi kan Pak Pierre sudah bilang bahwa ia ingin berbicara sebentar pada Melisa tetapi mengapa ada rasa bersalah yang hinggap di pikiraku. Lebih baik aku makan sambil menunggu mereka berdua selesai mengobrol lagipula aku kan belum makan dari pagi dan cacing di perutku sudah bernyanyi daritadi. Hehehe.
      Saat di kantin, Annabelle tak sengaja bertemu dengan teman lamanya, Jime. " Hai, Anne. Apa kabar? Oh ya, bagaimana pertunanganmu dengan Steve? Dan bagaimana dengan managermu? " Jime terus bertanya tanpa memikirkan Annabelle, terlihat jelas dari raut wajah perempuan itu, kebinguan, kecemasan, dan rasa takut. Ketika menyadari hal itu, Jime langsung meminta maaf, " Emmmm...sorry Anne,sorry klo aku nyiggung kamu atau membuatmu terlihat sedih. Ada apa sebenarnya? " Jime bertanya untuk yang terakhir kalinya. Tiba - tiba, Annabelle tersentak dari lamunanya.
     " Oh, maaf Jime, tidak apa - apa. Sebelumnya, aku meminta maaf, sebenarnya sudah 4 bulan lalu aku memutuskan pertunangan dengan Steve. Dan soal manager, ia sedang dirawat di sini karena penyakitnya kambuh. " mencoba menjelaskan kepada Jime apa yang sudah ia alami selama beberapa bulan terakhir dan hari ini.
     " Oh ya, Jime, aku harus kembali ke kamar pak manager. Aku khawatir, ia cemas karena sudah lama aku tak kembali. " pamit kepada sahabat juga teman mantan pacarnya itu.
     " Ah ya, tak apa. Aku mengerti mengapa kau memutuskan pertunanganmu dengan Steve. Aku bisa terima. " Berteriak kepada Annabelle, ia berharap kata - katanya dapat didengar oleh perempuan itu.
Selagi berjalan, ia mendengar teriakan Jime dan berkata, "Terima kasih Jime, kau memang teman yang baik. " suaranya terdengar putus - putus sampai akhirnya suaranya tidak terdengar lagi oleh Jime.
     Di dalam benak Jime, Apa Annabelle sudah tahu kalau managernya menaruh hati padanya? Apa itu penyebab putusnya hubungan dia dengan Steve? Tetapi pikiran itu langsung buyar karena ia tak mau ikut campur urusan orang lain. Itu urusan mereka jadi mereka yang harus menyelesaikanya. Bertepatan dengan kata terakhir di dalam pikiran Jime, Annabelle sudah sampai di lantai tempat managernya di rawat. Tiba - tiba sebersit pikiran muncul, apakah manager suka padaku? Ah tak mungkin tetapi pikiranya itu mencoba meyakinkan dirinya tetapi tak dihiraukanya.
      " Hei, Melisa. Bagaimana obrolanmu dengan manager? " mencoba menggoda temanya itu.
      " Boring. Ah ya, Anne apakah kau membalas cinta Pak Pierre? " tiba - tiba saja pertanyaan itu meluncur dari mulut Melisa tanpa diproses terlebih dahulu oleh otaknya.
     " Em, em, em...Mel, sebenernya aku hanya menganggap Pak........ " Sebelum Annabelle selesai menjawab, tiba - tiba Steve muncul dengan suara cemprengnya.
     " Hey, Anne, apa kabarmu? Sudah berapa bulan ya kita tidak berkomunikasi 1, 2, atau 1 abad? Hahaha...tenang saja aku hanya bercanda. " ngomong terus tanpa titik koma. Itulah kebiasaan buruk yang tidak bisa dihilangkan dari diri Steve dan karena itu pula salah satu faktor kandasnya hubunganya Steve dan Annabelle.
     " Aku tidak mau ganggu! Anne nanti kita ngobrol lagi! Ingat jangan coba - coba berbohong kepadaku kali ini! " Melisa sangat sangat kesal kepada Annabelle. Dalam benaknya, apa sih hebatnya Anne? Apa sih kelebihanya dia? Sampai semua orang suka sama dia termasuk aku. Padahal aku unggul dalam segala hal dibanding Anne tetapi mengapa tidak ada yang menyukaiku? Pertanyaan - pertanyaan itu terhenti seiring dengan teriakan dari Annabelle.
     " Ada apa lagi, Cinderella? Putri yang disanjung - sanjung semua orang. " jawab Melisa dengan nada sangat ketus. Kekesalannya terhadap Annabelle semenjak ia tahu bahwa orang yang ia sayang telah direbut oleh temanya sendiri sudah memucak dan tak bisa disembunyikan lebih lama lagi.
      " Mel, kok lo jadi gini sama gue sih?!! Sorry, klo gue ngerebut perhatian dan kasih sayang Pak Er dari lo. Tapi, gue kan udah beri jawaban ke Pak Er secara tidak langsung sesuai dengan pendengaran lo di luar, kan? " ada nada kecewa bercampur sedih dalam suara perempuan berhati sutra itu. Annabelle tidak tahu harus bagaimana lagi memberi tahu temannya itu klo dia tidak mempunyai perasaan apa - apa pada Pak Er.
     " Tapi lo tahu kan! Pak Er itu yang menyebabkan hubungan lo sama Steve kandas. Lo ga nyadar dari awal atau pura - pura bego, Anne?!! " tanpa disadari kalimat terakhir itu meluncur begitu saja dari mulut Melisa tanpa bisa dikontrol, itu semua karena perasaan kecewa yang sangat besar terhadap temanya sendiri sudah tak bisa dibendung lagi dan ia terpaksa mengeluarkan kata - kata keramat yang seharusnya tak boleh dikeluarkan sesuai dengan perjanjianya bersama Pak Pierre.
      " Hah, lo kok bisa tahu klo penyebab kandasnya hubungan gue sama Steve adalah Pak Er?? Lo tahu darimana Mel?!! Tahu darimanaaa, Melisaaaa??!!! " hatinya begitu hancur setelah ia mengetahui bahwa penyebab utama kandasnya hubunganya dengan Steve adalah managernya sendiri, orang yang selama beberapa tahun ini telah ia anggap sebagai ayah. Annabele tak tahu lagi harus berkata apa, yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah meneteskan air mata kecewa, sedih, marah, dan perasaanya yang lain yang campur aduk.
     " Maafin gue Anne, sebenernya gue udah tahu dari awal rencana jahat Pak Pierre untuk ngehancurin hubungan lo sama Steve, itu semua dia lakuin supaya di bisa dapetin lo. Makanya, Pak Pierre ngancem Steve supaya ga ngasih tahu ini ke lo, klo sampe Steve ngasih tahu ke lo, Pak Pierre bakal nyakitin lo. Dan tadi juga dia ngajak ngobrol gue untuk ngomongin omong kosong ini. Maafin gue Anne, gue baru berani bilang sekarang. " rasa kecewa dan marah Melisa kini telah tergantikan dengan perasaan menyesal karena ia sudah menyembunyikan rahasia menyakitkan ini dari temanya sendiri. Ia menyimpanya cukup lama karena ia tidak mau melihat Annabelle menangis kembali sama seperti saat ia tahu Steve bertunangan dengan perempuan lain, yang ternyata ialah rekayasa managernya sendiri untuk menumbuhkan rasa benci di diri Annabelle terhadap Steve.
     " Thx, Mel, lo udah mau ngasih tahu ini semua. Sekarang saatnya untuk gue ngejauhin Pak Er walaupun itu maksudnya gue harus keluar dari perusahaan tapi ini demi kebaikan kita semua, demi kebaikan gue dan lo terutama karena telah menyayangi orang yang salah selama ini. " Annabelle sungguh hancur, ia tak menyangka bahwa manager yang sangat ia sayang dan telah ia anggap sebagai ayah bisa berbuat setega ini, demi cintanya terhadap Annabelle, Pak Pierre akan melakukan apa pun tapi sayang Annabelle lebih mementingkan pertemanan daripada cinta.
      Mulai saat itu sampai beberapa tahun ke depan Annabelle tidak mau menjalin hubungan dengan siapa pun dulu dan mulai saat itu juga Annabelle menyatakan pengunduran dirinya dari perusahaan penuh kenangan bersama Pak Er. Walaupun awalnya sulit bagi Annabelle untuk menulis surat pengunduran diri dari perusahaan tetapi akhirnya beberapa minggu setelah kejadian di rumah sakit ia bisa melakukanya karena yang ia inginkan sekarang adalah mengasingkan diri dulu untuk beberapa tahun dari dunia luar yang keras. Begitu pun managernya, Pak Pierre sangat berat untuk melepas sekretaris kesayanganya juga orang yang ia cintai tetapi demi kebaikan mereka berdua juga Melisa, ia rela melepaskan Annabelle dengan perasaan sedih dan hancur.
      Beberapa tahun setelah kejadian - kejadian menyakitkan itu, Pak Pierre mengembuskan napas terakhirnya dalam ruang kerja di kantornya. Pada saat itu tak ada yang menyadari kepergian sang manager disiplin tetapi Melisa bisa menyadarinya setelah ia menaruh kopi pesanan Pak Pierre di atas meja tapi ia heran kenapa Pak Pierre tak bergerak dan setelah itu ia menggoyang - goyangkan tubuh Pak Pierre tapi sudah terlambat Pak Pierre, si manager disiplin sudah menutup usia. Perasaan Melisa sangat hancur saat ia tahu Pak Pierre meninggal dan beberapa tahun kemudian, Annabelle mengirimkan kabar kejutan kepada semua orang, yaitu undangan pernikahannya dengan Steve. Ternyata, setelah beberapa tahun Annabelle mengasingkan diri bahkan saat pemakaman managernya ia tak hadir karena ia takut ia akan hancur kembali, Steve melamarnya di rumahnya.
      Kini, Steve dan Annabelle telah hidup bahagia dengan keluarga kecilnya sedangkan Melissa sudah bertunangan dengan teman Steve, Jime. Tenyata Jime dan Melissa pernah pacaran waktu kuliah.