Sabtu, 13 Oktober 2012

Ryota dan Mizuta

     Suatu siang yang cerah, tak seperti biasanya udara di kota Yokohama sesejuk ini walau matahari sedang terik - teriknya mungkin atmosfir di kota itu mengikuti kedua orang yang sedang berjalan di bawahnya. Mereka adalah Mizuta dan Ryota, 2 orang sahabat yang sudah bersahabat sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar kelas 1.
     Pada saat itu, Ryota melihat Mizuta diganggu oleh anak - anak kelas 2, Mizuta menangis sejadi - jadinya karena permenya diambil padahal permen itu pemberian neneknya tersayang. Ryota yang melihat kejadian itu langsung memukul kakak kelasnya dengan amarah yang tersirat di wajahnya, ia paling tidak bisa jika ada orang yang menyakiti anak perempuan. Kakak - kakak kelas itu langsung lari tunggang langgang karena terkena jurus karate Ryota, bakat alami yang sudah dimiliki keluarganya. Setelah selesai menghajar kakak kelasnya, ia langsung menghampiri anak perempuan itu dan berkenalan denganya.
     " Ohayou gozaimasu, siapa namamu anak cantik? " Ryota tak bisa menahan tawanya ketika melihat wajah anak perempuan itu memerah.
     " Ohayaou gozaimasu, nama saya Mizuta Namaki. Oh ya, arigatou gozaimasu karena kau telah menolongku tadi. Namamu siapa? " Mizuta mencoba mengendalikan rasa malunya, baru kali ini ia melihat anak laki - laki sebaik ini.
     " Namaku Ryota Mizaku. Hai, daijyoubu. " Ryota memegang tangan Mizuta untuk membantu anak perempuan itu berdiri. Setelah kejadian itu, Ryota dan Mizuta jadi sering bertemu di perpustakaan atau kantin untuk sekadar mengobrol biasa sampai akhirnya mereka mulai menceritakan kesukaan dan ketidak sukaan mereka terhadap suatu barang sampai masalah yang sedang mereka hadapi. Karena alasan itu pula mereka menjadi sahabat sampai sekarang, mereka sudah menjadi sahabat selama 9 tahun lebih walau sekarang sudah menginjak bangku SMA.
     Lama - lama perasaan yang hanya sekedar sahabat itu berubah, kini Ryota menganggap Mizuta lebih dari sahabat. Tetapi, Mizuta tetap menganggap Ryota sebagai sahabat yang baik karena ia menyukai pria lain, yaitu kakak kelasnya di klub basket. Suatu hari, Mizuta menghilang tanpa kabar, tak ada yang tahu keberadaanya termasuk Ryota. Ryota sampai khawatir dengan keadaan Mizuta takut - takut kalau terjadi sesuatu pada perempuan cengeng itu. Tapi kehawatiranya tak berarti apa - apa ketika sebulan setelah Mizuta menghilang, perempuan itu kembali muncul dengan nada cerianya seperti biasa. Saat pulang sekolah, Ryota mulai " menginterogasi " Mizuta dengan berbagai pertanyaan.    
     " Hei, Mizuta. Kok aku baru melihatmu lagi? Ke mana saja kau? Sudah 1 bulan terakhir tak ada kabar. " Bertanya terus - menerus tanpa menyadari raut wajah Mizuta yang kesal.
     " Aku harus menemani kakeku di Sendai selama 1 bulan terakhir ini. Nenekku baru saja meninggal karena sakit jantung yang sudah di deritanya selama 3 tahun. Maaf aku lupa memberitahumu tetapi semenjak aku pergi sepertinya kau sekarang tambah banyak omong ya...hehehe. " Perasaan sedih tiba - tiba muncul tetapi semenjak dia bertemu Ryota 15 menit yang lalu perasaan itu berubah menjadi kekesalan juga keceriaan.
     " Hei, kenapa kau? Apakah ada yang salah denganku? " Bertanya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
     "Kau dari tadi bertanya terus, kapan sikapmu bisa berubah sudah SMA kelakuan masih seperti anak kecil. " Kekesalannya menjadi - jadi, kok bisa ya aku punya sahabat cowok tapi cerewet...hmmm...
     " Apa??? Oh ya, Mizuta, aku turut berduka atas meninggalnya nenekmu. Maaf kalau aku bertanya terus - menerus seperti ini tapi aku kesepian. " Tiba - tiba saja ada sebersit nada sedih di dalam kata - katanya. " Eh, maksudku, aku tidak ada teman ngobrol. " Dia segera meralat perkataanya takut jika Mizuta curiga padanya.
     " Oh ya, kita coba ramen yang di sana yuk...kata orang - orang ramen di sana cukup terkenal kekhasan bumbu dan aromanya. Apa kau tidak lapar? " Mencoba untuk mengalihkan pembicaraan karena sebenarnya dia sudah lapar daritadi.
     " Tetapi kok banyak orang begitu ya? " Bingung karena banyak orang berkerumun di depan kedai ramen itu.
     " Ah, sudah biasa kan ramenya enak. " Mencoba meyakinkan Ryota bahwa tidak terjadi apa - apa. Tetapi, sebenarnya dia juga bingung mengapa banyak orang berkerumun di depan kedai itu.
     " Mungkin juga. " Ryota mencoba meyakinkan diri.
10 menit setelah Ryota dan Mizuta berjalan, akhirnya mereka pun sampai di depan kedai tetapi apa yang mereka temukan. Seorang perempuan paruh baya yang tergelatak tak bernyawa. Mereka pun mulai menyelidiki identitas wanita itu setelah mereka mengidentifikasi, mereka menemukan sebuah dompet, telepon selular, dan sebuah foto. Di dalam dompet mereka menemukan sebuah kartu nama dan setelah diselidiki ternyata wanita itu bernama Minami, bekerja di sebuah perusahan telekomunikasi terkemuka di Jepang.  Lalu Ryota dan Mizuta mulai menanyai beberapa orang di kedai itu, setelah mereka bertanya kepada beberapa orang, ada yang mengatakan jika orang yang menemukanya pertama kali adalah seorang lelaki paruh baya kira - kira 30 menit yang lalu. Lelaki itu berpakaian feminim dan memakai anting. Ryota dan Mizuta pun kaget mendengar penjelasan salah satu saksi, " Berpakaian feminim dan memakai anting?? " Mereka berusaha untuk tidak kaget tetapi tidak bisa karena baru kali ini mereka mendengar seorang laki - laki berpakaian seperti wanita. Tiba - tiba ada seorang laki - laki yang datang ke kedai itu dan ada seseorang yang berteriak, " Nah, itu dia orangnya. " Ryota dan Mizuta pun langsung mengalihkan pandanganya ke laki - laki itu lalu mereka mulai mengintrogasi pemuda itu di sebuah ruangan, yaitu toilet.
     " Siapa namamu? " Ryota memulai pertanyaan dengan nada curiga.
     " Nama saya Soichi. " Menjawab dengan wajah gugup. " Ada urusan apa kau datang ke kedai ini? " Mizuta melanjutkan pertanyaan Ryota dengan wajah penuh curiga.
     " Aku ingin mengambil kacamataku yang tertinggal di sini. " Masih menjawab dengan nada gugup dan gemetar.
     " Kacamata ini maksudmu? " Mizuta tiba - tiba menunjukan sesuatu yang ditemukanya di meja dekat TKP kepada Soichi.
     " I...i...iya, itu kacamata saya. Boleh saya mengambilnya? Karena saya masih mempunyai urusan yang lain. " Soichi makin gugup ketika dia melihat salah satu dari kedua anak itu menunjukan kacamatanya, bukan gugup karena suatu hal tetapi gugup karena ia takut  akan ada reaksi luminol akibat noda darah dari sidik jarinya yang tertinggal di kacamatanya.
     " Mengapa anda sangat gugup? Padahal kami tidak menanyakan,apakah anda membunuh perempuan paruh baya itu? " Ryota dan Mizuta semakin berani karena mereka sudah tahu bahwa di tangkai kacamata itu ada reaksi luminol dari noda darah dan mereka memang sengaja menyudutkan Soichi supaya Soichi cepat mengaku.
     " Ti...tidaaak apa - apa. Saya hanya kaget ketika melihat seorang wanita paruh baya meninggal di depan mata saya. " Soichi tetap tidak mau mengaku karena ia takut masuk penjara. Terpaksa Ryota dan Mizuta meminta sidik jari lelaki itu tapi sebelum mereka meminta sidik jarinya, Soichi tiba - tiba saja berteriak dan kabur. Dan dia sempat mengatakan sesuatu dalam teriakanya, " Aku pembunuh wanita itu. " Ryota langsung mengejar Soichi tetapi Soichi berlari dengan cepat sehingga Ryota tak mampu mengejarnya sedangkan Mizuta tetap berada di tempat kejadian karena ia tiba - tiba teringat kejadian 3 tahun silam, seorang wanita paruh baya meninggal karena tertabrak sebuah mobil di dekat rumahnya cuma mobil itu langsung kabur meninggalkan wanita paruh baya itu. Akhirnya Mizuta mengejar Ryota untuk membantunya mengejar pelaku, tetapi 5 menit setelah ia keluar dari kedai ia menabrak seseorang dan orang itu adalah pelakunya. Soichi juga terlihat kaget bercampur takut, ia berusaha kabur tetapi kakinya seperti ada yang menahan, ternyata Mizuta sudah menangkap kedua kakinya dengan tali tas yang dipukulkan ke kakinya. Ryota datang tepat pada waktunya dengan segera ia membantu Mizuta untuk menangkap pelaku, akhirnya pelaku menyerah dan setuju untuk dibawa ke kantor polisi. Di kantor polisi Soichi mengaku bahwa ia membunuh wanita itu dengan sengaja karena ia dendam pada orang yang telah menabrak istrinya, menurut saksi mata pada kejadian tabrak lari  3 tahun silam, yang menabrak istrinya adalah seorang wanita paruh baya. Mulai saat itu, Soichi dendam kepada setiap wanita paruh baya tak peduli wanita itu pelaku yang menabrak istrinya atau bukan. Soichi hanya menginkan pembalasan dendam atas istrinya yang meninggal 3 tahun silam. Setelah selesai menemani pelaku sebagai saksi, Ryota dan Mizuta pulang ke rumah masing - masing. Tepat di persimpangan jalan menuju rumah Mizuta, Ryota mengatakan sesuatu yang mengagetkan Mizuta.
     " Aku menyukaimu Mizuta lebih dari sekedar sahabat. " Ryota mengungkapkan perasaanya dengan sangat yakin tapi harapanya pupus setelah ia mendengar jawaban Mizuta, " Maaf, Ryota, aku menyukai Kak Takahashi di klub basket. Mungkin kita hanya bisa menjadi sahabat. Sekali lagi maaf, Ryota, aku tidak bisa menyukaimu. Konbanwa. " katanya.
     " Konbanwa, Mizuta-san. Ehm, aku bisa mengerti. Terima kasih kau sudah mau jujur untuk menjawab perasaanku, sekarang aku bisa tenang. Semoga kau bahagia, Mizuta. " Tetapi saat ia menoleh ke arah tempat Mizuta berdiri tadi, Mizuta sudah tidak ada. Perempuan cengeng itu sekarang telah berubah menjadi dewasa dan mungkin Ryota harus bersiap untuk kehilangan sahabat sekaligus orang yang disukainya.
     " Goodbye, Mizuta. Besok aku akan pergi ke Jerman karena ayahku dipindah tugaskan. Semoga kau bahagia. " Ryota berbicara kepada bintang pada saat gelapnya malam dan ia mulai berjalan ke rumahnya. Keesokan harinya, saat Mizuta datang ke sekolah, ia tak melihat Ryota di gerbang, kelas atau kantin. Ia merasa bersalah karena meninggalkan Ryota sendirian semalam setelah pembicaraan mereka. Mizuta mulai bertanya kepada teman - teman kelas Ryota tapi tak ada yang tahu ke mana Ryota pergi. Saat pulang sekolah, Mizuta langsung pergi ke rumah Ryota tapi apa yang ia temukan sungguh membuat hatinya remuk. Ia menemukan sebuah surat perpisahan dari Ryota untuk dirinya, di surat itu tertulis salam perpisahan karena Ryota akan ikut bersama ayahnya ke Jerman dan kenangan - kenangan mereka selama menjadi sahabat. Di akhir kalimat, Ryota menuliskan sebuah kalimat yang membuat hati Mizuta menangis, " Hai cewe cengengku, jangan lupakan persahabatan kita ya walau kita sudah berbeda negara jangan lupakan aku, hatiku tetap menjadi milikmu...Semoga kita bisa bertemu kembali suatu hari nanti. Sampai jumpa. " Saat membaca kalimat itu, Mizuta terus menerus menangis, tiba - tiba di kepalanya berputar seluruh kenang - kenanganya bersama Ryota. Jujur, di dalam hatinya, Mizuta meneriakkan nama Ryota walau cowo itu menyebalkan tapi hanya dia yang mengerti permasalahanya dan sekarang semua itu hanya akan menjadi kenangan. Membayangkan harinya tanpa Ryota di sisinya membuat Mizuta ingin mencegat Ryota untuk pergi tetapi itu semua mungkin sudah terlambat. Sangat terlambat, jerit Mizuta dalam hatinya.

Rabu, 30 Mei 2012

Annabelle

     Pagi yang cerah,mungkin kata - kata itu yang ada di benak orang - orang tapi tidak bagi Annabelle. Bagi Annabelle, pagi ini merupakan pagi terburuk dalam hidupnya. Pagi itu, temanya, Melisa, memberitahukan sebuah kabar mengejutkan, yaitu manager mereka, Bapak Pierre, masuk rumah sakit karena penyakit Leukimia - nya kambuh kembali. Annabelle begitu khawatir karena bagi dirinya Pak Er, panggilannya untuk Pak Pierre sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri. Selama bekerja di One More Times Productions, Annabelle selalu menjadi panutan teman - temanya termasuk managernya, Pak Er. Pak Er selalu berkata pada karyawan yang lainya, " Jika kalian ingin sukses, disiplin dan giatlah bekerja seperti Annabelle.Setiap hari dia selalu datang paling awal dan bekerja dengan semangat juga serius." katanya. Hal itulah yang membuat Annabelle seperti berhutang budi pada managernya itu. Annabelle juga tidak tahu, sebenarnya, Pak Er menganggap Annabelle lebih daripada sekretarisnya tapi dia menyukai perempuan itu karena kedisiplinan bekerjanya. Tetapi, sayangnya, Annabelle hanya menganggap managernya sebagai ayahnya tidak lebih dari itu.
     Setelah menerima kabar itu, Annabelle bergegas mandi dan berpakaian seperti biasanya, baju berkerah, rok selutut, dan high heelsnya. Dia melupakan sarapan, sekarang yang terpenting di benaknya adalah menjenguk managernya di rumah sakit dan menemaninya seharian. Di perjalanan, Annabelle berlari - lari hingga tidak menyadari kunci rumahnya masih tergantung di gagang pintu setelah beberapa meter Annabelle  berlari dia baru menyadarinya tetapi dia tidak memedulikanya. Sesampainya di rumah sakit, Annabelle bergegas bertanya kepada perawat, " Permisi,suster, saya ingin bertanya letak kamar, Pak Pierre? " Tanyanya. " Di lantai 4 kamar 412. " Suster itu menjawab tapi ia tidak bisa mengelak,ada 1 pertanyaan yang muncul  dibenaknya. Akhirnya ia bertanya kembali untuk memuaskan rasa penasaranyaa, " Tetapi kalau boleh tahu, anda ini siapanya, Pak Pierre? " Terpancar senyum lega dari bibirnya. " Saya tem..." Sebelum selesai menjawab, Annabelle ditarik oleh seorang perempuan berambut coklat. Annabelle  segera menyadari bahwa orang yang telah menariknya adalah temanya, Melisa.
     " Kamu ke sini juga, Anne? " tanya Melisa dengan nada penasaran karena dari wajah Annabelle
sudah terpancar jelas raut khwatir. " Tentu saja,memang kenapa, tidak boleh? " jawabnya dengan nada asal karena pertanyaan Melisa secara tidak sengaja menyinggung perasaanya. Setelah itu Melisa diam karena takut menyinggung kembali perasaan temanya itu tetapi ia terus bertanya dalam hatinya karena sebenarnya ia masih penasaran dengan perasaan Annabelle terhadap managernya. Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya. Anne apakah kamu mempunyai perasaan kepada pak manager? atau kamu hanya menganggapnya sebagai ayah? Melisa berusaha menanyakan itu setiap hari tetapi dia takut menyinggung perasaan temanya itu. Pertanyaan - pertanyaan itu terus - menerus brputar seperti bola sepak yang menggelinding dalam benaknya. Saat itu juga Melisa segera berlari karena mendengar panggilan Annabele yang sudah berada di dalam lift.
      " Ah, ya. " sekerjap panggilan itu membuyarkan lamunanya. Setelah sampai di lantai 4, Annabelle segera berlari meninggalkan Melisa yang sibuk dengan pikiranya. Annabelle segera mengetuk pintu kamar, tiba - tiba dari dalam kamar terdengar suara, " Ya, silahkan masuk. " Pierre langsung mempersilahkan masuk karena Pierre sudah tahu siapa yang mengetuk pintu.
     " Bapak, maaf saya baru datang sekali lagi maaf. " menangis rasa khawatir. Dia tidak menyadari jika Pierre  sedang menatapnya dengan tersenyum lebar.
     " Tidak apa - apa. " menenangkan Annabelle karena Pierre paling tidak bisa melihat Annabelle menangis apalagi jika menangis untuknya.
     " Bagaimana kabar anda? " tanyanya dengan nada khawatir karena ia takut kehilangan ayah untuk yang kedua kalinya. Ia tak mau hal itu terjadi lagi karena sewaktu Ayahnya meninggal ia tidak sempat melihatnya untuk yang terakhir kali. Dia cukup menyesal karena mementingkan pekerjaanya daripada Ayahnya sendiri.
     " Saya baik - baik saja. Ada apa sebenarnya? " jawab Pierre. Karena dia melihat dengan jelas raut kehawatiran di wajah Annabelle sehingga dia salah pahan tentang hal itu. Dan dia mengutarakan isi hatinya kepada Annabelle, " Emmm, Annabelle, sebenarnya selama ini aku mempunyai.......... " sebelum dia menyelesaikan omonganya, Pierre memberikan sebuah hadiah kepada Annabelle.
     " Apa ini, Pak Er? " Annabelle penasaran penuh selidik terhadap kotak yang diberikan managernya itu karena ia benar - benar ingin tahu apa isi kotak itu sebenarnya.
     " Buka saja dulu nanti kau akan tahu sendiri apa isinya. " tersenyum bahagia karena ia berharap hadiahnya akan disukai oleh Annabelle.
     " Hah?? Apa maksud semua ini, Pak Er. Dengan segala hormat saya menolak pemberian ini, maafkan saya, Pak. " Dia terkejut ketika melihat isi kotak yang ia pegang yaitu cincin dan kalung juga kertas bertuliskan " I Love You. "
     " Kenapa, Anne. Bukankah selama ini kau juga memiliki perasaan yang sama denganku? " Sedih, ia tidak menyangka bahwa reaksi yang diberikan Annabelle, reaksi terkejut sekaligus amarah yang teramat sangat. Ia memutuskan untuk tidak mengutarakan perasaanya yang sebenarnya karena ia takut akan mengguncang Annabelle lebih dari ini semua. Tiba - tiba mereka dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka dan dari balik pintu itu munculah sesosok perempuan, ya perempuan itu adalah Melisa. Suatu pertanyaan tiba - tiba muncul di benak Annabelle, apakah Melisa mendengar semua pembicaraanya dengan Pierre? Tetapi ia dikejutkan oleh suatu suara, yaitu suara Melisa. " Maaf mengganggu perbincangan kalian yang terlihat mengasyikan.Oh ya, tadi kalian berbicara tentang apa? " sebenarnya daritadi ia menguping dari luar, yaitu tentang pembicaraan yang sedang diperdebatkan oleh Annabelle dan Pierre tapi ia pura - pura tidak tahu apa - apa.
     " Ah, bukan apa - apa. " Annabelle menyangkal dengan ragu - ragu. " Oh ya, sejak kapan kau berada di luar? " Ia bertanya karena ia takut jika pembicaraanya terdengar oleh Melisa jika itu terjadi rusaklah hubungan pertemanan mereka mereka karena Melisa suka kepada Pak Er.
     " Em, baru saja. Tadi aku sempat makan di kantin. aku tadinya ingin mengajakmu makan tapi melihatmu sudah masuk ruangan, aku mengurungkan niatku takut mengganggu perbincanganmu dengan Pak Pierre. " jelasnya panjang lebar agar Annabelle dan Pierre tidak menaruh curiga padanya. Sebenarnya sewaktu ia menguping di luar, ia tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka ketika ingin masuk ke kamar.
     " Oh ya, Melisa. " Pierre memanggilnya untuk membicarakan sesuatu. " Tetapi sebelumnya, maaf Annabelle, bisakah kau keluar sebentar. Aku ingin berbicara kepada Melisa sebentar saja. Bolehkah?  " mendesah karena sebenarnya ia ingin Annabelle bisa tinggal lebih lama di tempatnya tapi apa boleh buat demi kebaikanya.
     " Ah, tentu saja. Saya tidak ingin mengganggu pembicaraan bapak dan Melisa. "
     Annabelle berjalan menelusuri seluruh rumah sakit, ia penasaran. Sebenarnya ada apa dengan Pak Pierre? Kenapa tiba - tiba ia ingin aku pergi? Apa karena perkataanku tadi yang membuat hatinya sakit sehingga ia marah padaku. Ah, mana mungkin. Anne, Anne, pikiranmu selalu melayang ke mana - mana, tadi kan Pak Pierre sudah bilang bahwa ia ingin berbicara sebentar pada Melisa tetapi mengapa ada rasa bersalah yang hinggap di pikiraku. Lebih baik aku makan sambil menunggu mereka berdua selesai mengobrol lagipula aku kan belum makan dari pagi dan cacing di perutku sudah bernyanyi daritadi. Hehehe.
      Saat di kantin, Annabelle tak sengaja bertemu dengan teman lamanya, Jime. " Hai, Anne. Apa kabar? Oh ya, bagaimana pertunanganmu dengan Steve? Dan bagaimana dengan managermu? " Jime terus bertanya tanpa memikirkan Annabelle, terlihat jelas dari raut wajah perempuan itu, kebinguan, kecemasan, dan rasa takut. Ketika menyadari hal itu, Jime langsung meminta maaf, " Emmmm...sorry Anne,sorry klo aku nyiggung kamu atau membuatmu terlihat sedih. Ada apa sebenarnya? " Jime bertanya untuk yang terakhir kalinya. Tiba - tiba, Annabelle tersentak dari lamunanya.
     " Oh, maaf Jime, tidak apa - apa. Sebelumnya, aku meminta maaf, sebenarnya sudah 4 bulan lalu aku memutuskan pertunangan dengan Steve. Dan soal manager, ia sedang dirawat di sini karena penyakitnya kambuh. " mencoba menjelaskan kepada Jime apa yang sudah ia alami selama beberapa bulan terakhir dan hari ini.
     " Oh ya, Jime, aku harus kembali ke kamar pak manager. Aku khawatir, ia cemas karena sudah lama aku tak kembali. " pamit kepada sahabat juga teman mantan pacarnya itu.
     " Ah ya, tak apa. Aku mengerti mengapa kau memutuskan pertunanganmu dengan Steve. Aku bisa terima. " Berteriak kepada Annabelle, ia berharap kata - katanya dapat didengar oleh perempuan itu.
Selagi berjalan, ia mendengar teriakan Jime dan berkata, "Terima kasih Jime, kau memang teman yang baik. " suaranya terdengar putus - putus sampai akhirnya suaranya tidak terdengar lagi oleh Jime.
     Di dalam benak Jime, Apa Annabelle sudah tahu kalau managernya menaruh hati padanya? Apa itu penyebab putusnya hubungan dia dengan Steve? Tetapi pikiran itu langsung buyar karena ia tak mau ikut campur urusan orang lain. Itu urusan mereka jadi mereka yang harus menyelesaikanya. Bertepatan dengan kata terakhir di dalam pikiran Jime, Annabelle sudah sampai di lantai tempat managernya di rawat. Tiba - tiba sebersit pikiran muncul, apakah manager suka padaku? Ah tak mungkin tetapi pikiranya itu mencoba meyakinkan dirinya tetapi tak dihiraukanya.
      " Hei, Melisa. Bagaimana obrolanmu dengan manager? " mencoba menggoda temanya itu.
      " Boring. Ah ya, Anne apakah kau membalas cinta Pak Pierre? " tiba - tiba saja pertanyaan itu meluncur dari mulut Melisa tanpa diproses terlebih dahulu oleh otaknya.
     " Em, em, em...Mel, sebenernya aku hanya menganggap Pak........ " Sebelum Annabelle selesai menjawab, tiba - tiba Steve muncul dengan suara cemprengnya.
     " Hey, Anne, apa kabarmu? Sudah berapa bulan ya kita tidak berkomunikasi 1, 2, atau 1 abad? Hahaha...tenang saja aku hanya bercanda. " ngomong terus tanpa titik koma. Itulah kebiasaan buruk yang tidak bisa dihilangkan dari diri Steve dan karena itu pula salah satu faktor kandasnya hubunganya Steve dan Annabelle.
     " Aku tidak mau ganggu! Anne nanti kita ngobrol lagi! Ingat jangan coba - coba berbohong kepadaku kali ini! " Melisa sangat sangat kesal kepada Annabelle. Dalam benaknya, apa sih hebatnya Anne? Apa sih kelebihanya dia? Sampai semua orang suka sama dia termasuk aku. Padahal aku unggul dalam segala hal dibanding Anne tetapi mengapa tidak ada yang menyukaiku? Pertanyaan - pertanyaan itu terhenti seiring dengan teriakan dari Annabelle.
     " Ada apa lagi, Cinderella? Putri yang disanjung - sanjung semua orang. " jawab Melisa dengan nada sangat ketus. Kekesalannya terhadap Annabelle semenjak ia tahu bahwa orang yang ia sayang telah direbut oleh temanya sendiri sudah memucak dan tak bisa disembunyikan lebih lama lagi.
      " Mel, kok lo jadi gini sama gue sih?!! Sorry, klo gue ngerebut perhatian dan kasih sayang Pak Er dari lo. Tapi, gue kan udah beri jawaban ke Pak Er secara tidak langsung sesuai dengan pendengaran lo di luar, kan? " ada nada kecewa bercampur sedih dalam suara perempuan berhati sutra itu. Annabelle tidak tahu harus bagaimana lagi memberi tahu temannya itu klo dia tidak mempunyai perasaan apa - apa pada Pak Er.
     " Tapi lo tahu kan! Pak Er itu yang menyebabkan hubungan lo sama Steve kandas. Lo ga nyadar dari awal atau pura - pura bego, Anne?!! " tanpa disadari kalimat terakhir itu meluncur begitu saja dari mulut Melisa tanpa bisa dikontrol, itu semua karena perasaan kecewa yang sangat besar terhadap temanya sendiri sudah tak bisa dibendung lagi dan ia terpaksa mengeluarkan kata - kata keramat yang seharusnya tak boleh dikeluarkan sesuai dengan perjanjianya bersama Pak Pierre.
      " Hah, lo kok bisa tahu klo penyebab kandasnya hubungan gue sama Steve adalah Pak Er?? Lo tahu darimana Mel?!! Tahu darimanaaa, Melisaaaa??!!! " hatinya begitu hancur setelah ia mengetahui bahwa penyebab utama kandasnya hubunganya dengan Steve adalah managernya sendiri, orang yang selama beberapa tahun ini telah ia anggap sebagai ayah. Annabele tak tahu lagi harus berkata apa, yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah meneteskan air mata kecewa, sedih, marah, dan perasaanya yang lain yang campur aduk.
     " Maafin gue Anne, sebenernya gue udah tahu dari awal rencana jahat Pak Pierre untuk ngehancurin hubungan lo sama Steve, itu semua dia lakuin supaya di bisa dapetin lo. Makanya, Pak Pierre ngancem Steve supaya ga ngasih tahu ini ke lo, klo sampe Steve ngasih tahu ke lo, Pak Pierre bakal nyakitin lo. Dan tadi juga dia ngajak ngobrol gue untuk ngomongin omong kosong ini. Maafin gue Anne, gue baru berani bilang sekarang. " rasa kecewa dan marah Melisa kini telah tergantikan dengan perasaan menyesal karena ia sudah menyembunyikan rahasia menyakitkan ini dari temanya sendiri. Ia menyimpanya cukup lama karena ia tidak mau melihat Annabelle menangis kembali sama seperti saat ia tahu Steve bertunangan dengan perempuan lain, yang ternyata ialah rekayasa managernya sendiri untuk menumbuhkan rasa benci di diri Annabelle terhadap Steve.
     " Thx, Mel, lo udah mau ngasih tahu ini semua. Sekarang saatnya untuk gue ngejauhin Pak Er walaupun itu maksudnya gue harus keluar dari perusahaan tapi ini demi kebaikan kita semua, demi kebaikan gue dan lo terutama karena telah menyayangi orang yang salah selama ini. " Annabelle sungguh hancur, ia tak menyangka bahwa manager yang sangat ia sayang dan telah ia anggap sebagai ayah bisa berbuat setega ini, demi cintanya terhadap Annabelle, Pak Pierre akan melakukan apa pun tapi sayang Annabelle lebih mementingkan pertemanan daripada cinta.
      Mulai saat itu sampai beberapa tahun ke depan Annabelle tidak mau menjalin hubungan dengan siapa pun dulu dan mulai saat itu juga Annabelle menyatakan pengunduran dirinya dari perusahaan penuh kenangan bersama Pak Er. Walaupun awalnya sulit bagi Annabelle untuk menulis surat pengunduran diri dari perusahaan tetapi akhirnya beberapa minggu setelah kejadian di rumah sakit ia bisa melakukanya karena yang ia inginkan sekarang adalah mengasingkan diri dulu untuk beberapa tahun dari dunia luar yang keras. Begitu pun managernya, Pak Pierre sangat berat untuk melepas sekretaris kesayanganya juga orang yang ia cintai tetapi demi kebaikan mereka berdua juga Melisa, ia rela melepaskan Annabelle dengan perasaan sedih dan hancur.
      Beberapa tahun setelah kejadian - kejadian menyakitkan itu, Pak Pierre mengembuskan napas terakhirnya dalam ruang kerja di kantornya. Pada saat itu tak ada yang menyadari kepergian sang manager disiplin tetapi Melisa bisa menyadarinya setelah ia menaruh kopi pesanan Pak Pierre di atas meja tapi ia heran kenapa Pak Pierre tak bergerak dan setelah itu ia menggoyang - goyangkan tubuh Pak Pierre tapi sudah terlambat Pak Pierre, si manager disiplin sudah menutup usia. Perasaan Melisa sangat hancur saat ia tahu Pak Pierre meninggal dan beberapa tahun kemudian, Annabelle mengirimkan kabar kejutan kepada semua orang, yaitu undangan pernikahannya dengan Steve. Ternyata, setelah beberapa tahun Annabelle mengasingkan diri bahkan saat pemakaman managernya ia tak hadir karena ia takut ia akan hancur kembali, Steve melamarnya di rumahnya.
      Kini, Steve dan Annabelle telah hidup bahagia dengan keluarga kecilnya sedangkan Melissa sudah bertunangan dengan teman Steve, Jime. Tenyata Jime dan Melissa pernah pacaran waktu kuliah.